JAKARTA, MAL – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof. KH. Zainal Abidin, menjadi salah satu narasumber dalam bedah buku karya Wakil Presiden ke-13 RI, KH. Ma’ruf Amin, berjudul Fikrah, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH. Ma’ruf Amin, di Jakarta, Selasa (5/8).
Dalam pemaparannya, Prof. Zainal menyebut buku tersebut sebagai ikhtiar sistematis untuk menata kembali cara berpikir warga Nahdlatul Ulama (NU) melalui tiga pilar utama, yakni fikrah (arah pemikiran), manhaj (metodologi), dan harakah (gerakan).
Menurutnya, banyak warga NU yang telah menjalankan tradisi dan amaliah keagamaan, namun belum sepenuhnya memahami landasan keilmuan yang melatarbelakanginya.
“Buku ini menegaskan bahwa NU sejatinya bukan sekadar organisasi, melainkan sebuah sistem keilmuan sekaligus peradaban yang merangkai arah berpikir, pengambilan keputusan, serta gerakan sosial-keagamaan dalam satu kesatuan,” ujar Prof. Zainal.
Ketua FKUB Sulawesi Tengah itu menjelaskan, salah satu kontribusi penting buku tersebut ialah menempatkan manhaj sebagai jembatan antara teks keagamaan dan realitas masyarakat. Kerangka itu dibangun di atas keseimbangan antara prinsip agama dan kemaslahatan sehingga mampu menghindarkan organisasi dari sikap ekstrem, baik tradisionalisme yang kaku maupun liberalisme yang meninggalkan metodologi ulama.
“Pembaharuan yang dimaksud bukanlah perubahan terhadap ajaran agama, melainkan upaya menghidupkan kembali dan mengamalkan nilai-nilai Islam secara bertanggung jawab sesuai dengan perkembangan zaman,” katanya.
Prof. Zainal juga menilai konsep harakah dalam buku itu memperluas peran NU, tidak hanya sebagai penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan kebangsaan yang berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan pembangunan peradaban.
Dari sisi akademik, ia mencatat tiga keunggulan buku tersebut, yakni berhasil merangkai pemikiran KH. Ma’ruf Amin secara konseptual, menghubungkan khazanah pemikiran NU dengan persoalan kontemporer, serta menawarkan arah pengembangan NU memasuki abad keduanya.
“Buku ini akan semakin kokoh apabila ditindaklanjuti dengan kajian yang lebih kritis, komparatif, dan berbasis data empiris untuk menguji sejauh mana kerangka konseptual tersebut terwujud dalam praksis NU kontemporer,” jelasnya.
Secara umum, Prof. Zainal menilai buku tersebut menjadi fondasi penting dalam merumuskan kembali bangunan intelektual NU menjelang abad keduanya.
“Kerangka yang ditawarkan memberikan peta konsep yang jernih untuk memahami NU bukan sekadar sebagai warisan sosial dan kultural, melainkan sebagai sistem pemikiran yang hidup dan terus berkembang,” ujarnya.
Ia menambahkan, nilai utama buku tersebut terletak pada gagasan bahwa identitas keagamaan harus dibangun di atas pemahaman dan kesadaran intelektual, bukan sekadar diwariskan sebagai kebiasaan.
“Buku ini paling tepat diposisikan bukan sebagai kajian ilmiah yang tuntas dan final, melainkan sebagai fondasi wacana dan undangan bagi generasi berikutnya untuk memahami, menguji, serta mengembangkan pemikiran NU,” pungkasnya.
Bedah buku tersebut turut dihadiri KH. Ma’ruf Amin. Acara dimoderatori Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Masykuri Abdillah, dengan narasumber lain Mustasyar PBNU Prof. KH. Mahasin, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH. Imam Jazuli, serta Ketua MUI Pusat Prof. KH. M. Asrorun Niam Sholeh.*
