PALU, MAL – Enam pengurus inti Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Sulawesi Tengah mengajukan pengunduran diri secara kolektif pada Senin (3/8). Di antara mereka terdapat Sekretaris dan Bendahara DPW, dua posisi strategis dalam struktur kepengurusan partai di tingkat provinsi.
Enam pengurus yang mengundurkan diri masing-masing Ferry Anwar (Sekretaris DPW), Moh. Fahruddin Yunus (Bendahara DPW), Hadijah Hanamah (Wakil Bendahara Pengelolaan Dana dan Aset), Masrifan Ranroe Muchsen (Wakil Ketua Bidang Hubungan Legislatif), Viktor (Wakil Ketua Bidang Digital dan Siber), serta Salahuddin (Wakil Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik).
Pengunduran diri tersebut terjadi di tengah dinamika internal Partai NasDem pasca kehadiran sejumlah kader dan pengurus dalam acara pengukuhan Ahmad Ali Center (AAC). Kehadiran itu belakangan memunculkan berbagai spekulasi mengenai arah politik sejumlah kader, meski belum ada pernyataan resmi yang mengaitkan kedua peristiwa tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber internal partai, pengunduran diri para pengurus disebut sebagai bagian dari dinamika politik yang berkembang di tubuh NasDem. Namun, hingga berita ini ditulis, para pengurus yang mengundurkan diri belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan di balik keputusan tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris DPW NasDem Sulawesi Tengah, Arman, membenarkan adanya pengunduran diri sejumlah pengurus.
Menurut Arman, dinamika seperti itu merupakan hal yang wajar dalam kehidupan partai politik.
“Pilihan politik seseorang tidak bisa diintervensi. Setiap kader memiliki hak politik untuk berpindah ke partai lain ataupun memilih beristirahat dari aktivitas politik,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (3/8).
Ia menambahkan, Ketua DPW Partai NasDem Sulawesi Tengah, Nilam Sari Lawira, menghormati keputusan yang diambil para kader tersebut.
Menurutnya, setiap orang memiliki hak menentukan pilihan politiknya sehingga tidak dapat dipaksa tetap berada di dalam partai apabila sudah memiliki pandangan yang berbeda.
“Pimpinan tidak bisa mengintervensi, apalagi memasung hak politik kader yang memilih jalan politik berbeda,” katanya.
Sementara itu, informasi mengenai kemungkinan adanya pengunduran diri kader lain masih sebatas kabar yang beredar di internal partai dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Perkembangan ini menjadi tantangan bagi konsolidasi internal Partai NasDem Sulawesi Tengah menjelang agenda politik mendatang. Di sisi lain, dinamika tersebut dinilai mencerminkan mulai bergeraknya konfigurasi politik di daerah, meski hubungan langsung dengan kemunculan Ahmad Ali Center belum dapat dipastikan.
Hingga berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya menghubungi para pengurus yang mengundurkan diri untuk memperoleh penjelasan langsung mengenai alasan pengunduran diri dan langkah politik mereka selanjutnya. Ruang hak jawab dan hak klarifikasi tetap terbuka bagi seluruh pihak yang berkepentingan.***
