MOROWALI, MAL – PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), pengelola kawasan industri nikel terintegrasi di Morowali, Sulawesi Tengah, menjadikan ESG (Environmental, Social, and Governance) sebagai strategi bisnis utama.

Dengan lahan sekitar 4.000 hektare, IMIP mengoperasikan klaster industri stainless steel, carbon steel, dan baterai kendaraan listrik yang saling terhubung, memungkinkan limbah satu lini produksi menjadi bahan baku lini lain, serta efisiensi energi dan pemantauan lingkungan terpusat.

Sejak 2024, IMIP menerapkan kerangka kerja ESG untuk standar tata kelola yang transparan dan bertanggung jawab.

“ESG bukan hanya soal kepatuhan, tetapi arah strategis bagi seluruh departemen dan tenant dalam membangun kepercayaan publik,” kata Yulius Susanto, Deputi Direktur Operasional PT IMIP.

Komitmen ESG didukung struktur tata kelola jelas, mencakup ESG Committee, ESG Office, dan ESG Team di setiap tenant, dengan pembagian peran yang memastikan akuntabilitas.

Implementasi ini berjalan melalui ESG Management System berbasis siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA), sesuai dengan peta jalan ESG perusahaan hingga 2030.

Pada sektor energi, IMIP mendorong transisi menuju sumber yang lebih bersih. Hingga akhir 2025, kawasan itu mengoperasikan 502 unit kendaraan listrik, meliputi dump truck dan alat berat.

Pada Mei 2026, kawasan tersebut akan menambah 207 unit bus listrik untuk transportasi karyawan.

Proyek energi terbarukan juga berlangsung, termasuk pembangunan PLTS berkapasitas 200 MWp yang ditargetkan beroperasi pada 2027, serta pemanfaatan pembangkit listrik panas limbah, tenaga air, dan biomassa.

Dekarbonisasi juga diterapkan pada pasokan bahan baku.

Yundi Sobur, Head of Environment Department PT IMIP, menjelaskan bahwa IMIP menetapkan kualifikasi pengadaan baja daur ulang (scrap steel) untuk mengurangi emisi karbon.

“Upaya ini meliputi pemanfaatan sistem penyimpanan energi baterai, belt conveyor, slurry pipeline, serta pengembangan sumber energi ramah lingkungan,” ujarnya.

Pendekatan ini memadukan inovasi teknologi, efisiensi energi, transportasi rendah karbon, dan ekonomi sirkular.

Prinsip ekonomi sirkular diterapkan dalam pengelolaan limbah dan air. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) beroperasi di tingkat kawasan dan tenant, didukung Sistem Pemantauan Air Limbah Secara Terus-Menerus (SPARING) yang terintegrasi dengan platform Kementerian Lingkungan Hidup.

Hal ini memungkinkan pemantauan kualitas air secara transparan dan real-time.

Periode Januari-Mei 2026, IMIP mencatat pemanfaatan limbah organik dan anorganik sebesar 30,8 ton, atau 5,6% dari total 549 ton timbulan limbah, dengan komposisi 74,68% organik, 10,26% anorganik, dan 15,06% residu.

Aspek sosial juga menjadi perhatian melalui program kemasyarakatan. Program ini meliputi layanan kesehatan gratis dan donor darah empat kali setahun, di dalam maupun luar kawasan, hingga edukasi pencegahan kebakaran dan keamanan instalasi kelistrikan rumah tangga yang menjangkau puluhan desa dan ribuan warga.

“Kami memberikan fasilitas APAR gratis di kantor-kantor desa, layanan mobil Damkar dan ambulans untuk respons cepat jika terjadi bencana,” kata Johny Semuel, Head of Department OHS PT IMIP.

Komitmen IMIP makin relevan dengan pemberlakuan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) oleh Uni Eropa sejak Januari 2026. Aturan ini memperketat uji tuntas lingkungan dan hak asasi manusia bagi industri yang ingin menembus pasar ekspor utama.

Menjawab tantangan itu, IMIP menyusun laporan ESG komprehensif berpedoman standar internasional seperti GRI, ISSB, Responsible Minerals Initiative (RMI), OECD Due Diligence Guidance, ISO 14064, ISO 14067, ISO 50001, serta prinsip PBB dan ILO. IMIP juga mengembangkan Responsible Supply Chain Due Diligence System yang mencakup seluruh rantai nilai.

Transformasi menuju ekonomi rendah karbon memerlukan investasi besar dan penyesuaian operasional.

Untuk itu, peta jalan ini diarahkan pada penguatan program CSR, riset dan pemetaan sosial, penyelarasan dengan arah pembangunan daerah, serta penguatan kapasitas sosial dan ekosistem lokal.

“Pada 2030, kami menargetkan masyarakat yang tangguh dan berdaya saing di tengah ekosistem sosial dan lingkungan yang lestari,” kata Yulius Susanto.

Sebagai bagian penting dari rantai pasok global industri baterai kendaraan listrik, IMIP memperkuat pengelolaan data ESG melalui sistem ketertelusuran yang sejalan dengan standar global. Lebih dari sekadar cerminan hilirisasi nasional, IMIP menghadapi ujian nyata dalam menjawab tantangan kompleks, tetap kompetitif, dan diterima dalam rantai pasok global. ***