PERNYATAAN Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti bahwa pendidikan tidak boleh lagi diukur dari serapan anggaran, tumpukan laporan, atau sekadar angka statistik layak diapresiasi. Selama ini, pendidikan sering terjebak pada ukuran-ukuran administratif yang belum tentu mencerminkan kualitas pembelajaran di ruang kelas. Padahal, dari perspektif Islam, keberhasilan pendidikan tidak pernah diukur hanya dari banyaknya program yang terlaksana, melainkan dari sejauh mana ilmu mampu membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Islam menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama peradaban. Tidak mengherankan jika wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah membaca, Iqra’. Pesan ini menunjukkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari ilmu pengetahuan. Namun, membaca dalam makna Islam bukan sekadar mengenal huruf, melainkan memahami kehidupan, mengenal Sang Pencipta, dan membangun peradaban yang berkeadilan.
Karena itu, ketika pemerintah menyatakan bahwa murid harus menjadi pusat kebijakan pendidikan, semangat tersebut sesungguhnya sangat dekat dengan ajaran Islam. Setiap anak adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Guru, orang tua, kepala sekolah, hingga pemerintah memikul tanggung jawab yang sama, yakni memastikan amanah itu tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya, masyarakat, dan bangsanya.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Hadis ini memberi pesan bahwa pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Ia adalah tanggung jawab kolektif yang tidak boleh berhenti pada penyusunan kebijakan, pembangunan gedung, atau penyusunan laporan kinerja.
Persoalan terbesar pendidikan Indonesia saat ini bukan semata-mata kurangnya regulasi, melainkan sering bergesernya orientasi pendidikan itu sendiri. Guru masih dihadapkan pada berbagai tuntutan administrasi yang menyita waktu dan energi. Berbagai aplikasi, laporan, dan dokumen sering kali menjadi prioritas, sementara kesempatan mempersiapkan pembelajaran yang kreatif justru semakin terbatas. Dalam kondisi seperti ini, sulit mengharapkan proses belajar yang benar-benar hidup di dalam kelas.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap pekerjaan hendaknya menghasilkan kemaslahatan. Administrasi tentu diperlukan sebagai bentuk akuntabilitas, tetapi jangan sampai mengalahkan tujuan utamanya. Guru seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu mendidik, membimbing, dan menjadi teladan daripada sibuk memenuhi berbagai kewajiban administratif yang terus bertambah.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kecenderungan masyarakat mengukur keberhasilan pendidikan hanya melalui nilai ujian. Banyak orang tua merasa bangga ketika anak memperoleh angka tinggi, tetapi kurang memberi perhatian pada kejujuran, kepedulian, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Akibatnya, pendidikan karakter sering menjadi pelengkap, bukan inti dari proses pembelajaran.
Padahal, para ulama sejak dahulu telah menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah melahirkan manusia yang beradab. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan akhlak hanya akan menjadi pengetahuan yang kehilangan makna. Ilmu semestinya mendekatkan seseorang kepada Allah sekaligus mendorongnya menghadirkan manfaat bagi sesama.
Realitas yang kita saksikan hari ini menunjukkan bahwa tantangan pendidikan semakin kompleks. Kasus perundungan masih terjadi di sekolah. Kekerasan antarpelajar belum sepenuhnya hilang. Penyalahgunaan media sosial, rendahnya budaya literasi, hingga menurunnya etika dalam berdiskusi menjadi gambaran bahwa kecerdasan akademik belum selalu berjalan seiring dengan kematangan karakter. Semua ini menunjukkan bahwa pendidikan memerlukan keseimbangan antara penguasaan ilmu, pembentukan akhlak, dan penguatan spiritual.
Dalam tradisi Islam, proses pendidikan dikenal dengan istilah tarbiyah, yaitu proses menumbuhkan manusia secara bertahap hingga mencapai kedewasaan. Tarbiyah bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan membangun kebiasaan baik melalui keteladanan, kasih sayang, pembiasaan, dan pendampingan. Murid tidak hanya membutuhkan guru yang pandai menjelaskan materi, tetapi juga sosok yang dapat dicontoh dalam perilaku sehari-hari.
Perspektif Islam juga mengajarkan pentingnya keadilan dalam memperoleh ilmu. Karena itu, pemerataan pendidikan tidak cukup diwujudkan melalui pembangunan gedung sekolah atau penyediaan perangkat digital. Pemerataan yang sesungguhnya adalah memastikan setiap anak, baik yang tinggal di kota maupun di daerah terpencil, memperoleh guru yang berkualitas, lingkungan belajar yang aman, serta kesempatan yang sama untuk berkembang. Kesenjangan mutu pendidikan antara daerah maju dan wilayah 3T bukan hanya persoalan pembangunan, tetapi juga persoalan keadilan sosial yang menjadi bagian dari nilai-nilai Islam.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11 bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Ayat ini menegaskan bahwa ilmu merupakan jalan menuju kemuliaan. Namun, kemuliaan itu hanya dapat diraih apabila akses terhadap pendidikan yang bermutu terbuka bagi seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun wilayah tempat tinggalnya.
Pada akhirnya, pendidikan dalam perspektif Islam adalah investasi peradaban yang hasilnya tidak selalu terlihat dalam hitungan satu atau dua tahun. Ia baru tampak ketika lahir generasi yang mampu memimpin dengan amanah, bekerja dengan jujur, berpikir kritis, sekaligus memiliki kepedulian terhadap sesama. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya sekolah yang dibangun atau tingginya nilai asesmen nasional, tetapi dari hadirnya manusia-manusia yang berilmu, beradab, dan bertakwa.
Jika semangat “Pendidikan Bermutu untuk Semua” benar-benar ingin diwujudkan, maka kebijakan pendidikan harus berpijak pada nilai amanah, keadilan, keteladanan, dan kasih sayang. Ketika guru diberi ruang untuk mendidik, murid diperlakukan sebagai amanah, dan seluruh pemangku kepentingan menjalankan tanggung jawabnya dengan ikhlas, pendidikan tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang akan menjadi rahmat bagi bangsa dan kemanusiaan.*
