OLEH: Indah Suciati*
Etnomatematika melalui cerita rakyat sebagai jembatan pembelajaran matematika dan pelestarian budaya lokal
“Apa cerita rakyat dari daerahmu?”
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi jawabannya justru menghadirkan kegelisahan.
Tidak sedikit anak-anak dan remaja di Sulawesi Tengah, khususnya yang berasal dari suku Kaili, lebih fasih menceritakan Malin Kundang, Timun Mas, Sangkuriang, atau Legenda Danau Toba daripada kisah yang lahir dari tanah tempat mereka sendiri berpijak.
Nama-nama seperti Tadulako Bulili, Raja Nggaluku, atau Karia Nu Bau Duyu (Legenda Putri Duyung) terdengar asing di telinga mereka.
Ironisnya, mereka hidup di tengah masyarakat Kaili, tetapi tumbuh tanpa benar-benar mengenal cerita rakyatnya.
Fenomena ini bukan terjadi karena generasi muda tidak mencintai budayanya. Persoalannya justru terletak pada ruang-ruang tempat budaya itu diwariskan.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, peserta didik diperkenalkan dengan beragam cerita rakyat Nusantara melalui buku pelajaran, bahan bacaan literasi, maupun aktivitas pembelajaran.
Semua itu penting sebagai upaya mengenalkan keberagaman Indonesia. Namun, tanpa disadari, cerita rakyat lokal sering kali hanya menjadi pelengkap, bahkan kadang tidak pernah hadir sama sekali.
Akibatnya, banyak anak mengenal legenda dari daerah yang belum pernah mereka kunjungi, tetapi tidak mengenal kisah yang hidup di kampung halamannya sendiri.
Mereka mengetahui Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu, tetapi belum tentu mengenal keberanian Tadulako Bulili. Mereka memahami legenda Danau Toba, tetapi belum tentu mengetahui kisah Raja Nggaluku yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Kaili.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya lokal tidak sedang kehilangan nilai, melainkan kehilangan ruang untuk terus diceritakan.
Selama ini, pelestarian cerita rakyat lebih banyak dilakukan melalui festival budaya, lomba mendongeng, pementasan seni, penerbitan buku, atau digitalisasi naskah.
Berbagai upaya tersebut tentu sangat penting dan patut diapresiasi. Namun, sebagian besar berlangsung pada momen-momen tertentu.
Setelah festival berakhir, panggung dibongkar, dan perlombaan usai, cerita rakyat perlahan kembali menghilang dari keseharian anak-anak.
Padahal, ada satu ruang yang setiap hari mempertemukan generasi muda dengan pengetahuan, yaitu sekolah. Selama bertahun-tahun sekolah menjadi tempat mewariskan ilmu pengetahuan, membentuk karakter, dan menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa.
Sayangnya, ruang yang begitu strategis ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk menghidupkan kembali cerita rakyat lokal.
Jika pun cerita rakyat hadir, umumnya hanya menjadi materi pembelajaran bahasa atau sastra. Sangat jarang cerita rakyat dipandang sebagai sumber belajar bagi mata pelajaran lain.
Barangkali, di sinilah kita perlu mengubah cara pandang.
Cerita rakyat tidak semestinya diposisikan hanya sebagai kisah pengantar tidur atau bahan bacaan yang sesekali muncul saat peringatan hari budaya.
Cerita rakyat adalah rekaman cara suatu masyarakat memahami kehidupan. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, pengalaman, cara memandang alam, cara menyelesaikan persoalan, hingga nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, cerita rakyat sesungguhnya dapat menjadi sumber belajar bagi berbagai disiplin ilmu, termasuk matematika.
Bagi sebagian orang, gagasan tersebut mungkin terdengar aneh. Bukankah matematika identik dengan angka, rumus, dan perhitungan?
Pandangan inilah yang selama ini membuat matematika terasa jauh dari kehidupan peserta didik. Padahal, hakikat matematika bukanlah sekadar berhitung.
Matematika mengajarkan manusia mengenali bentuk, menemukan pola, memahami hubungan, bernalar secara logis, dan mengambil keputusan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Semua kemampuan itu sesungguhnya tumbuh dari kehidupan sehari-hari, termasuk dari budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Dalam dunia pendidikan, pendekatan yang menghubungkan matematika dengan budaya dikenal sebagai etnomatematika.
Selama ini etnomatematika lebih sering dikaitkan dengan rumah adat, motif tenun, anyaman, permainan tradisional, atau arsitektur lokal.
Padahal, ada satu warisan budaya yang menyimpan kekayaan cara berpikir matematis, tetapi belum banyak dimanfaatkan, yaitu cerita rakyat.
Cerita rakyat bukan sekadar kisah masa lalu. Ia menyimpan cara masyarakat memandang ruang, membaca pola, mengatur waktu, dan mengambil keputusan. Dengan kata lain, cerita rakyat tidak hanya mewariskan nilai-nilai kehidupan, tetapi juga mewariskan cara berpikir. Dan cara berpikir itulah yang menjadi jantung matematika.
Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam cerita rakyat Tadulako Bulili. Pada salah satu bagian cerita dikisahkan, “Dengan persenjataan yang lengkap, para pasukan Sigi siap mengejar Bantaili dan Mokeku.”
Sepintas, kalimat tersebut hanya menggambarkan kesiapan pasukan untuk bertempur. Namun, di tangan seorang guru yang kreatif, penggalan cerita itu dapat berubah menjadi awal pembelajaran geometri yang menarik.
Bayangkan seorang guru memasuki kelas tanpa langsung menuliskan rumus luas atau keliling di papan tulis. Ia memulai pelajaran dengan menceritakan keberanian Tadulako Bulili.
Ketika sampai pada bagian tentang persenjataan para pasukan Sigi, guru kemudian memperlihatkan gambar Doke (tombak), Guma (pedang), dan Kaliavo (tameng) yang digunakan para tadulako. Dalam sekejap, ruang kelas berubah menjadi ruang eksplorasi.
Peserta didik diajak mengamati bentuk Kaliavo untuk mengenali bangun datar, memperhatikan ujung Doke sebagai contoh konsep sudut, menemukan simetri pada bentuk senjata tradisional, hingga membandingkan ukuran dan proporsi perlengkapan perang.
Jika pembelajaran dilengkapi dengan ilustrasi benteng atau rumah tradisional yang menjadi latar cerita, mereka bahkan dapat mengeksplorasi berbagai konsep bangun ruang sekaligus mengenal arsitektur masyarakat Kaili.
Pembelajaran seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda. Geometri tidak lagi hadir sebagai gambar abstrak di dalam buku, melainkan lahir dari artefak budaya yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Mereka belajar mengenali bentuk sambil mengenal sejarah. Mereka mempelajari konsep matematika sambil memahami identitas budayanya sendiri.
Matematika tidak lagi berdiri terpisah dari budaya, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan akar budaya tempat peserta didik tumbuh.
Barangkali, inilah makna terdalam dari etnomatematika. Budaya membuat matematika menjadi lebih kontekstual dan bermakna, sedangkan matematika memberi ruang baru agar budaya tetap hidup dalam proses pembelajaran.
Jika selama ini kita bertanya bagaimana cara melestarikan cerita rakyat, mungkin jawabannya tidak hanya berada di panggung festival budaya atau di rak-rak perpustakaan.
Jawaban itu bisa saja hadir setiap pagi di ruang kelas, ketika seorang guru membuka pelajaran geometri dengan sebuah kisah tentang Tadulako Bulili.
Sebab, ketika matematika mulai bercerita, sesungguhnya ia sedang membantu menyelamatkan ingatan kolektif sebuah masyarakat. ***

