Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

KABAR duka itu datang pada Jumat dini hari. Tepat pukul 00.38 WITA, pesan singkat dari Koordinator Kompas TV Sulawesi Tengah, Rolis Muchlis, masuk ke grup WhatsApp Roemah Jurnalis.

“Pak Basri meninggal.”

Pesan singkat itu segera disambut ucapan belasungkawa dan emoticon tangis dari para anggota grup. Duka dan rasa kehilangan menyelimuti keluarga besar jurnalis Sulawesi Tengah.

Sebelumnya, Basri Marzuki sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anutapura Palu setelah pingsan akibat kelelahan. Sempat sadar dan berbincang dengan sejumlah sahabat yang membesuknya, termasuk jurnalis senior Iwan Lapasere, kondisi kesehatannya kemudian menurun hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Kepergian Basri Marzuki, atau yang akrab disapa BMZ, meninggalkan luka mendalam bagi dunia pers Sulawesi Tengah. Sosok yang dikenal rendah hati, bersahaja, dan penuh dedikasi itu telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk merekam berbagai peristiwa melalui lensa kamera.

Sebagai pewarta foto LKBN Antara, BMZ dikenal tak pernah lelah berada di garis depan berbagai peristiwa penting. Bahkan pascagempa berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Parigi Moutong pada 16 Juni 2026, ia terus bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya dengan sepeda motor dan kamera yang selalu menemaninya.

Di tengah situasi bencana, ketika banyak orang memilih beristirahat, BMZ justru tetap bekerja mendokumentasikan kondisi masyarakat terdampak. Dedikasi itulah yang kemudian dikenang banyak rekan sebagai bentuk totalitas seorang jurnalis.

Ironisnya, hanya sepekan sebelum wafat, BMZ masih berdiri di hadapan para jurnalis muda untuk berbagi pengalaman dalam kegiatan bertajuk “Media, Krisis Iklim dan Peran Jurnalisme Kebencanaan” yang diselenggarakan Yayasan Sheep Indonesia bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil di Kabupaten Sigi.

Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa jurnalis memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar melaporkan peristiwa.

“Krisis iklim dan bencana alam menjadi tantangan besar yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk media massa,” ujarnya.

Menurut BMZ, perhatian publik sering kali hanya terfokus pada kunjungan pejabat atau tokoh politik ke lokasi bencana, sementara persoalan mendasar seperti kerusakan hutan, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), dan lemahnya mitigasi justru kurang mendapat perhatian.

“Jurnalisme harus mampu menghadirkan perspektif yang lebih mendalam dengan menelusuri rantai sebab-akibat sebuah bencana,” katanya.

Ia menilai media memiliki peran sebagai sistem peringatan dini bagi masyarakat. Tugas jurnalis bukan hanya memberitakan apa yang sudah terjadi, tetapi juga mengingatkan publik terhadap ancaman yang berpotensi muncul.

BMZ juga mengingatkan bahwa peliputan bencana tidak boleh berhenti ketika bantuan mulai berdatangan.

“Fase terpenting justru terjadi setelah masa tanggap darurat berakhir. Persoalan pemulihan, relokasi, pemenuhan hak korban, hingga evaluasi kebijakan sering kali luput dari perhatian media,” ujarnya.

Baginya, jika liputan konvensional bertanya berapa banyak korban dan seberapa besar kerugian, maka jurnalisme risiko harus bertanya mengapa bencana terjadi dan siapa yang bertanggung jawab.

Di akhir pemaparannya, BMZ menyampaikan pesan yang hingga kini masih terngiang di telinga para peserta.

“Kalau teman-teman punya hasrat masuk surga, perbesar peran Anda di posisi ini. Karena kalau porsinya besar, pahala Anda mungkin banyak dan itu bisa menyempatkan Anda masuk surga nanti.”

Lalu ia menambahkan dengan senyum khasnya,

“Perbesar agenda untuk kepentingan orang banyak.”

Kalimat sederhana itu kini terasa seperti pesan perpisahan.

Apa yang disampaikan BMZ ternyata sejalan dengan kehidupan yang ia jalani. Lahir di Maros, Sulawesi Selatan, 21 Juli 1968, ia tidak hanya mengajarkan nilai-nilai jurnalisme kepada orang lain, tetapi juga mempraktikkannya hingga akhir hayat.

Salah satu kenangan yang membekas bagi rekan-rekan jurnalis terjadi sesaat sebelum kegiatan di Sigi dimulai. Saat itu BMZ mengaku kondisinya belum sepenuhnya pulih setelah menjalani perawatan medis.

Ketika jurnalis Metro Sulawesi Tengah, Adi Pranata, tiba di lokasi acara, BMZ tiba-tiba memanggilnya. Ia kemudian merogoh saku dan menyerahkan sesuatu yang membuat Adi terkejut.

Rekan-rekan jurnalis yang menyaksikan kejadian itu langsung bercanda dan memprotes.

“Kita yang sudah lama kenal malah tidak dikasih,” celetuk salah seorang jurnalis.

BMZ hanya tersenyum.

“Saya sudah lama berniat. Waktu Adi menikah saya tidak sempat datang, jadi baru sekarang bisa saya tunaikan,” jawabnya.

Bagi sebagian orang, tindakan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi BMZ, niat baik yang sudah tertanam di hati harus ditunaikan.

Masih banyak cerita, kesan, dan kenangan yang tersimpan dari mereka yang pernah mendampingi BMZ selama puluhan tahun menjalani profesi jurnalistik.

Totalitasnya juga terlihat dalam aktivitas sehari-hari. Hanya beberapa jam setelah menyampaikan materi di Sigi, tulisan yang berangkat dari materi tersebut telah terbit di portal Rindang.id dengan judul Menjinakkan Bom Waktu di Lembah Pasigala.

Direktur Utama Rindang.id, Heri Susanto, mengaku terkejut melihat artikel itu sudah tayang.

“Saya baru menyusun drafnya, ternyata ketika saya lihat sudah terbit. Pak BMZ yang menyelesaikannya,” kata Heri.

Tidak hanya itu, BMZ juga telah menyusun kerangka program fellowship jurnalisme kebencanaan yang direncanakan Yayasan Sheep Indonesia. Seluruh tahapan dan konsepnya sudah dipersiapkan dengan matang, sementara dirinya direncanakan menjadi salah satu juri dalam pelaksanaannya.

Kini, semua rencana itu menjadi warisan pemikiran yang ditinggalkannya.

Selamat jalan, senior.

Terima kasih atas keteladanan, dedikasi, dan semangat pengabdian yang telah engkau tunjukkan sepanjang hidup.

Engkau telah mengajarkan bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian untuk memperjuangkan kepentingan publik.

Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya, mengampuni segala khilaf, menerima seluruh amal baikmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Sebagaimana pesan yang pernah engkau sampaikan, memperbesar peran untuk kepentingan orang banyak adalah jalan menuju kemuliaan.

Selamat beristirahat, BMZ. Jejakmu akan tetap hidup dalam ingatan kami.