OLEH: Ilman Afdhil
Saya perjelas dulu — ini bukan esai tentang algoritma sebagai musuh. “Teknologi berbahaya, OH TIDAK! Waspadalah.” Lelah diriku mendengar hal itu. Ini lebih kompleks/ribet/luas. Algoritma juga yang mempertemukan saya dengan seseorang dari antah berantah yang karyanya luar biasa tapi followersnya seuprit. Tidak, ini tidak hanya tentang karya visual. Spotify misalnya, saya menerima ketika hoRRReg dimainkan setelah Dugem Vs Metal (Playlist by Spotify, made for me).
–
Setiap hari kita membuat ribuan keputusan visual. Konten digital (mencakup seluruh konten di internet) mana yang kita simpan, like, share, dll. Mana yang kita anggap bagus. Mana yang kita screenshot jam dua pagi karena tidak mau lupa. Kelihatannya ini pilihan murni, ekspresi dari selera yang kita bangun sendiri bertahun-tahun. Di dunia DKV, pilihan-pilihan itu adalah fondasi identitas kreatif pelaku-nya. Atau setidaknya, begitu yang selama ini kita percaya.
Seberapa banyak dari pilihan itu yang benar-benar milik pelaku-nya?
Kayak sok filsuf memang. Mungkin iya. Tapi coba perhatikan bagaimana kita mengonsumsi referensi sekarang. Apakah masih terasa seperti “surfing the internet”? (Istilah ini dipopulerkan oleh Jean Armour Polly pada tahun 1992). Bagi saya terasa seperti kita yang di-surfing oleh internet. Pinterest tahu(memprediksi) apa yang akan kita simpan sebelum kita memutuskan untuk menyimpannya. TikTok, lebih agresif lagi dengan EFWAYPI-nya.
Kepalaku kena papan surfing-nya algoritma yang tidak pernah kita pilih, tidak pernah kita ajak bicara, dan hampir tidak pernah kita pertanyakan.
–
Manuel dkk. (2026) https://doi.org/10.1016/j.techsoc.2026.103237 : sebagian besar pengguna memiliki pemahaman yang sangat terbatas tentang sistem rekomendasi, meski mereka berinteraksi dengannya hampir setiap jam. Literasi algoritmik itu mencakup lima dimensi sekaligus: kesadaran, pengetahuan, evaluasi, refleksi, dan penggunaan praktis. Apakah kalian menguasai kelimanya? Saya sendiri tidak.
–
Yup, another “voting tak terlihat.” Setiap kali satu pengguna mengklik sebuah gambar, menyimpannya, atau sekadar scroll lebih lambat tiga detik di depan satu konten digital yang menarik, itu kayak sedang pemilu Anis, Prabowo, atau Ganjar. Masalah muncul ketika satu pengguna tidak sadar melakukan/memilih itu (dia ‘tusuk’ prabowo misalnya). Masalahnya tambah besar karena jutaan pengguna yang melakukan hal serupa, coting-voting itu menjadi keputusan algoritmik: konten ini populer, tampilkan lebih sering.
Konten digital yang sudah banyak dilihat terus diprioritaskan. Yang kurang populer tenggelam karena tidak cukup banyak orang sempat melihatnya untuk memberinya momentum. Popularitas jadi penentu keterlihatan, bukan kualitas.
Coppolillo dkk. (2025) https://doi.org/10.48550/arXiv.2409.16478, menemukan sesuatu yang lebih jauh dari itu: algoritma kini menggeser preferensi kita secara bertahap. Rekomendasi mempengaruhi pilihan. Pilihan menghasilkan data. Data menghasilkan rekomendasi baru. Berputar terus, tanpa titik berhenti yang jelas. Kayak sub bab di buku Homo Deus “Can Anyone Step on the Brakes?”.
Algoritma jadi mengajari penggunanya soal apa yang “seharusnya” ia sukai. Dan ia tidak pernah sadar kapan pelajaran itu dimulai.
–
Dulu ada nama di balik kurasi visual. Editor majalah desain. Kurator pameran. Dosen yang dengan terang-terangan bilang “ini bagus, ini, ini apa ini HAH?” dan kita dengan senang hati menolak, kita bisa debat, kita bisa pilih untuk tidak percaya selera mereka. Ada dialog. Ada gesekan. Saya juga tidak mau me-romantisasi masa lalu. Kurator manusia juga bukan nabi boy. Punya bias dan bisa salah arah. Tapi, tapi, tapi, kalau Hugo Mercier sama Dan Sperber bilang dalam bukunya The Enigma of Reason, dialog dan gesekan itulah yang menjadi sistem kurasi terbaik pada mekanisme nalar manusia.
Sekarang, Hussain, dkk. (2025) https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2025.105734 mencatat, standar estetika di media sosial semakin dibentuk bersama oleh desain platform, filter AI, dan sistem rekomendasi. Apa yang kita anggap “bagus” secara visual tidak lagi lahir murni dari pengalaman kita sendiri. Dan algoritma tidak bisa diajak diskusi. Ia tidak punya nomor telepon. Ia tidak hadir di forum. Ia itu bukan “ia”.
–
“Tapi kan kita bebas memilih?”
Ada perbedaan yang penting antara bebas memilih dan bebas menentukan apa yang tersedia untuk dipilih.
–
Kenapa referensi ini yang muncul, bukan yang lain? Kenapa gaya tipografi tertentu tiba-tiba ada di mana-mana tahun ini? Siapa yang memutuskan bahwa palet warna ini sedang “relevan”?
Ketika referensi visual kita semakin homogen karena datang dari platform dengan logika algoritma yang serupa, Hussain menyebutnya konvergensi estetika. Saya menyebutnya kayak semua orang memesan kopi di coffee shop yang sama, lalu heran kenapa seleranya mirip.
–
Jadi apa yang bisa kita lakukan? Saya tidak punya jawaban yang menggugah.
Yang saya tahu: ada perbedaan antara menggunakan alat dan tidak membiarkan alat tersebut membentuk cara kita berpikir tanpa kita sadari.
Bukan berarti kita harus berhenti menggunakan platform. Agak klise kalau begitu.
Saya tutup dengan salah satu pertanyaan di buku Homo Deus,
“Apa yang akan terjadi pada masyarakat, politik, dan kehidupan sehari-hari ketika algoritma-algoritma non-kesadaran tetapi sangat pintar mengenal kita lebih baik dibandingkan kita sendiri?”
*Penulis merupakan seorang mahasiswa S1 Fakultas Seni dan Desain, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Makassar (UNM)

