PALU – Qari Internasional Ustadz H. Mikdan mengungkapkan sejumlah persiapan teknis yang dilakukan para peserta menjelang pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-XXXI tingkat Provinsi Sulawesi Tengah yang akan digelar awal Juni mendatang, di Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabaupaten Sigi.

Ustadz Mikdan mengatakan dirinya membuka pembinaan khusus bagi calon peserta MTQ dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah. Pembinaan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesiapan peserta menghadapi ketatnya persaingan di tingkat provinsi.

“Beberapa waktu ini saya membuka pembinaan khusus untuk para calon peserta yang akan mengikuti MTQ provinsi. Persaingan di tingkat provinsi sangat ketat, sehingga peserta harus dipersiapkan agar bisa tampil maksimal,” kata Mikdan, Ahad, (24/5) sore.

Ia menjelaskan, pembinaan yang diberikan meliputi pemahaman aturan lomba, kriteria penilaian di setiap cabang dan golongan, hingga simulasi suasana saat tampil di mimbar tilawah.

“Peserta diberikan bimbingan terkait aturan lomba dan aspek-aspek yang menjadi penilaian dewan hakim. Mereka juga dilatih simulasi bagaimana kondisi saat berada di mimbar tilawah agar lebih siap dan percaya diri,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa peserta yang mengikuti pembinaan tersebut berasal dari sejumlah daerah di Sulteng dengan fokus pembinaan pada cabang seni baca Al-Quran kategori anak-anak, remaja, dewasa, serta cabang qiraat Al-Quran murattal dan mujawwad.

Selain kemampuan teknis, Ustadz Mikdan juga menekankan pentingnya kesiapan mental bagi peserta. Menurutnya, mental dan rasa percaya diri menjadi faktor penting dalam menentukan penampilan peserta saat berlomba.

“Kesiapan mental terus kami latih agar peserta memiliki rasa percaya diri ketika tampil,” katanya.
Kepala KUA Kecamatan Dampelas itu menilai dukungan pemerintah terhadap pembinaan peserta selama ini masih lebih banyak dirasakan saat pelaksanaan Training Center (TC) resmi menjelang MTQ.

Menurutnya, pembinaan rutin yang ia lakukan selama ini lebih banyak dilakukan secara mandiri di sela-sela aktivitas tugas sehari-hari. Karena lanjut dia, tingginya permintaan peserta untuk tetap mendapatkan bimbingan, meski tidak sedang menghadapi event MTQ.

“Kami selama ini lebih banyak melakukan pembinaan secara mandiri. Banyak peserta yang ingin tetap dibimbing walaupun tidak menjelang MTQ,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa kemampuan membaca Al-Quran bukan hanya untuk kepentingan perlombaan, melainkan harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Sering kami sampaikan kepada para peserta bahwa kemahiran membaca Al-Quran bukan hanya untuk perlombaan, tetapi juga untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Berinteraksi dengan Al-Quran akan memberikan keberkahan dan rezeki bagi orang yang selalu membacanya,” tuturnya.

Ustadz Mikdan berharap pemerintah dan LPTQ Sulteng dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembinaan peserta di luar pelaksanaan MTQ mulai dari tingkat kecamatan hingga provinsi. Ia juga berharap para pembina dasar yang selama ini membimbing peserta sejak awal tidak dilupakan setelah peserta meraih prestasi.

“Setidaknya pemerintah juga memperhatikan para pembina yang mengajar dasar. Karena sering kali ketika peserta sudah menjadi juara, para pembina dasar seperti terlupakan,” pungkasnya.