PALU – Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Profesor Saepuddin Mashuri mengajak umat beragama agar memanfaatkan momentum lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah, untuk memperkokoh kebersamaan dalam bingkai keberagaman.

“Idul Fitri membawa nilai-nilai fundamental yang dapat diimplementasikan untuk memperkokoh harmoni sosial dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Profesor Saepuddin Mashuri, di Kota Palu, Senin 23 Maret 2026 terkait momentum lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah.

Ajakan tersebut juga telah disampaikan oleh Profesor Saepuddin Mashuri kepada umat Islam saat menyampaikan Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 M, disampaikan di Masjid Al-Hijrah Jalan Garuda Kota Palu, Sabtu 21 Maret 2026.

Profesor Saepuddin yang merupakan Dekan Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Datokarama mengemukakan, perayaan Idul Fitri merupakan momentum kemenangan universal bagi umat Islam, yang telah menuntaskan ibadah puasa dengan penuh ketaatan selama sebulan penuh di Bulan Ramadhan.

“Hari raya ini adalah titik balik, menuju kesucian fitrah—sebuah kondisi spritual setelah satu bulan penuh melatih pengendalian diri, dan membersihkan penyakit hati melalui amaliah ibadah Ramadhan. Lebih jauh lagi, transformasi spiritual individu ini harus teraktualisasi dalam dimensi sosial,” kata Prof Saepuddin.

Ia mengatakan, terdapat empat pilar pesan moral Idul Fitri yang penting kita wujudkan dalam kehidupan. Pertama, budaya saling memaafkan. Idul Fitri 1 Syawwal 1447 H menjadi momentum untuk menumbuhkan sikap pemaaf yang tulus dan ikhlas.

Islam mengajarkan bahwa sebesar apa pun kesalahan sesama, membuka pintu maaf adalah tindakan mulia yang mampu membebaskan batin dari belenggu dendam dan kebencian.

“Transformasi hati ini menjadi prasyarat bagi terciptanya hubungan antarmanusia yang harmonis,” ujarnya.

Kedua, silaturahim dalam bingkai keimanan yaitu momentum Idul Fitri merupakan kesempatan terbaik untuk merajut kembali tali silaturahmi yang sempat terputus serta memperkokoh kebersamaan dengan keluarga, tetangga dan sahabat.

Ketiga, menumbuhkan kepedulian social yaitu Bulan suci Ramadhan telah mendidik dan melatih kita untuk berbagi dengan sesame melalui zakat fitrah, sedekah, dan berbagai kebaikan lainnya. Kepedulian sosial ini harus terus dipertahankan agar tidak hanya terasa di bulan Ramadhan, tetapi juga sepanjang tahun.

Keempat, merajut persatuan dan menghindari perpecahan. Islam menempatkan persatuan sebagai fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat, di mana perbedaan latar belakang agama, daerah, maupun budaya menjadi kekayaan, bukan sumber konflik.

“Marilah kita jadikan momentum Idul Fitri 1447 Hijriah ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan titik balik untuk memperkuat harmoni kehidupan sosial di tengah keberagaman. Dengan memadukan tuntunan Al-Qur’an Surah Al-A’raf: 1, untuk senantiasa menjadi pemaaf dan pesan Rasulullah Saw untuk menjaga persaudaraan, persatuan dan harmoni kehidupan berlandaskan kasih sayang antar sesama makhluk Allah Swt,” imbuhnya.***