MOROWALI – PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), menyelesaikan pembangunan kawasan pariwisata berbasis lingkungan di Desa Wisata Mangrove Padabaho, Kecamatan Bahodop.
Penataan destinasi yang menjadi salah satu program tanggung jawab sosial (CSR) PT MIP dan tenant-tenant dalam kawasan tersebut, diharapkan dapat turut menjaga ekosistem mangrove sebagai benteng alami abrasi dan kerusakan pantai.
Kawasan ini dikembangkan sebagai ruang rekreasi serta edukasi lingkungan, dengan memanfaatkan potensi mangrove yang selama ini menjadi habitat beragam flora dan fauna pesisir.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Morowali, Armin Mohammad Ali, mengapresiasi dukungan berbagai pihak, khususnya IMIP dan tenant.
Menurutnya, pengembangan desa wisata ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa, khususnya dari sektor pariwisata.
“Dana CSR ini menjadi salah satu ide penguatan ekonomi desa,” katanya, pada seremoni peresmian, Sabtu (31/01).
Menurutnya, kehadiran Desa Wisata Mangrove Padabaho dapat mendorong tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah, serta membuka ruang partisipasi masyarakat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Sementara itu, Kepala Seksi Ekonomi Kecamatan Bahodopi, Dahran Manan, juga menyambut hangat dibukanya desa wisata ini.
Ia menilai, area wisata mangrove ini berpotensi menjadi ruang rehat yang sehat bagi masyarakat dan pekerja di Bahodopi.
Dahran mengingatkan perlunya pengawasan dan sinergi semua pihak dalam mengembangkan spot agar tidak berdampak negatif bagi warga.
“Desa Wisata Mangrove Padabaho bisa menjadi tempat rekreasi yang baik, tapi harus diikuti dengan penataan dan promosi berkelanjutan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” sambung Dahran.
Dalam peresmian itu sekaligus dilakukan serah terima pengelolaan Desa Wisata Mangrove Padabaho antara perwakilan CSR PT IMIP dan Pemerintah Desa Padabaho.
Pelaksana tugas Kepala Desa sekaligus Sekretaris Desa Padabaho, Ambotuo Lanaco, menyampaikan terima kasih atas dukungan CSR IMIP. Dia mengungkapkan, kondisi area mangrove di Padabaho kini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.
Kata dia, keberadaan desa wisata tersebut, sekaligus memberi ruang baru bagi warga untuk beraktivitas dan mengisi waktu luang menikmati suasana alam.
“Sebelum pengembangan wisata ini, masyarakat tidak memiliki ruang rekreasi. Sekarang, bahkan sebelum diresmikan, pengunjung sudah berdatangan untuk menikmati suasana dan udara sejuk di sini,” ujar Ambotuo.
Pemerintah Desa Padabaho pun telah membentuk Pokdarwis pada 2025 untuk membuka partisipasi langsung generasi muda dalam mengelola dan menjadikannya sebagai warisan jangka panjang.
Di tempat yang sama, Supervisor CSR Department PT IMIP, Irfan Ardiansyah, menjelaskan, pembangunan desa wisata dilakukan secara bertahap sejak tahun 2023 melalui Program CSR Pembangunan Sarana Wisata Desa Padabaho.
“Pengembangan ini bukan proses singkat. Ini berangkat dari gagasan masyarakat Desa Padabaho sendiri yang melihat kebutuhan ruang wisata seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas pekerja di Bahodopi,” ujar Irfan.
Upaya pengembangan disertai langkah penataan lingkungan melalui penanaman dan restorasi mangrove.
“Kami tidak melihat hari ini sebagai perpisahan, melainkan titik awal. Sinergi membangun desa bukan sekadar jargon, tetapi komitmen bersama agar desa wisata ini terus berkembang dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Pengembangan infrastruktur wisata mangrove Padabaho meliputi pembangunan ruang pertemuan berkapasitas 100–150 orang, gazebo, serta jalur pejalan kaki yang cerah berwarna-warni.
Pembiayaan dilakukan secara bertahap melalui dana swakelola yang dialokasikan IMIP bagi desa-desa di Kecamatan Bahodopi. ***

