Tentang Katalisator dan Literasi

oleh -60 Kali Dilihat

OLEH: Kasman jaya Saad*

Satu kata bagi saya, kuliah umum kemarin di Unisa Palu (20/9/21) yang disampaikan Prof. Hamdan Juhannis, M.A.,Ph.D., Rektor UIN Alauddin Makassar, menarik.

Ada dua kata ingin saya jelaskan lebih lanjut, untuk mengingatkan kita, bahwa tugas institusi ini (perguruan tinggi), memang untuk membudayakan dan mengimplementasikan kata itu yakni; sebagai katalisator dan literasi.

Dalam kuliahnya beliau mengingatkan, bahwa untuk menjadi pribadi pembawa perubahan atau sebagai katalisator maka yang diperlukan adalah memperkuat literasi.

Katalisator dapat dimaknai, seseorang atau sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa. Sedangkan literasi adalah kata yang tepat untuk menjamin kesinambungan antara pengetahuan, kesadaran, dan praktisi/tindakan dalam mengelola perubahan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan, literasi menunjuk kepada makna akan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Sebagai substansi dasarnya, kemampuan literasi, utamanya, ditandai dengan kemampuan diri untuk menggerakkan informasi dan kemampuan pengelolaannya yang dimiliki untuk dikonversi menjadi kecakapan hidup.

Ada tiga penekanan literasi yang disampaikan beliau dalam kuliah umumnya. Pertama, literasi agama, artinya diperlukan pengayaan kemampuan mengaji dan mengkaji alqur’an dan hadist, serta etika beragama.

Beliau menawarkan mampu mengaji (hafal 30 juz dan atau cukup juz ke 30) menjadi syarat kelulusan bagi masiswa yang akan lulus di insitusi ini (Unisa), menarik untuk diterapkan. Beliau juga mengingatkan bagaimana beragama secara inklusif, dan terus menjaga keragaman.

Beragama secara ramah bukan mudah marah, beragama secara rasional bukan emosional, beragama secara untung bukan buntung.

Kedua, literasi teknologi. Literasi teknologi adalah keniscayaan bagi kita dan mahasiswa di era kini. Digitalisasi informasi demikian menyeruak, tak ada pilihan, harus didekap, karena menjadi tuntutan. Namun beliau mengingatkan bahwa literasi teknologi yang dikembangkan yaitu literasi teknologi yang humanis.

Banyak contoh menurut beliau bagaimana teknologi telah gagal membawa manusia bahagia. Fakta di era pandemi ini, teknologi gagal membaca tanda-tanda zaman. Teknologi tak menjadi solusi. Di era pandemi kita kembali ke era orang tua kita dahulu, pentingnya cuci tangah.

Ketiga, literasi kemanusiaan. Dalam literasi kemanusiaan ini, bagaimana kita dan mahasiswa menjadi role model bagi kehidupan. Pentingnya membangun akhlak. Tak ada guna ilmu tanpa akhlak atau adab menurut beliau.

Olehnya, dalam literasi kemanusiaan ini, tak cukup hanya sekedar mengajak orang untuk berbuat baik, namun bagaimana kita mampu menjadi role model (teladan) bagi sesama dan bagi kehidupan. Dan akhlak ini sangat penting, bila ingin menjadi katalisator, sebagai aktor perubahan.

Satu literasi yang ingin saya tambahkan dari kuliah beliau kemarin, yaitu literasi keberlanjutan (sesuai judul buku yang telah saya terbitkan).

Literasi keberlanjutan adalah kata yang tepat untuk menjamin kesinambungan antara pengetahuan, kesadaran, dan praktisi/tindakan dalam mengelola lingkungan yang berkelanjutan. Dan keberlanjutan dimaknai sebagai keberlanjutan ekologis (jaminan eksistensi sumber daya alam), keberlanjutan ekonomi (efisiensi ekonomi), dan keberlanjutan sosial (keanekaragaman budaya).

Dengan melihat kerusakan SDA dan lingkungan, akibat pembangunan yang lebih menitik beratkan pada pertumbuhan ekonomi an sich, yang mereduksi kehidupan manusia semata sebatas makna ekonomi, literasi keberlanjutan tampak menjadi frasa atau gabungan dua kata yang patut menjadi prioritas kebijakan perlindungan lingkungan hidup saat ini. Bukan saja oleh pemerintah, melainkan juga oleh seluruh masyarakat.

Literasi keberlanjutan diharapkan melahirkan manusia yang memiliki kemampuan untuk secara kolektif menganalisis, mengevaluasi, dan membuat gambaran di masa depan terkait dengan isu keberlanjutan dan kerangka kerja penyelesaian masalah keberlanjutan, mempertimbangkan bagaimana keputusan masa lalu yang membawa kita kekrisis lingkungan yang dihadapi sekarang ini.

Kembali ke kuliah umum Prof. Hamdan, mengingatkan kita, terkhusus kepada mahasiswa bahwa bila ingin menjadi katalisator, maka syaratnya adalah, harus memiliki kemauan belajar, jangan cepat puas dengan ilmu telah ada, terus belajar.

Selanjutnya berani mencoba yang baru, terus melakukan eskprimen dan juga penting nyalakan keberanian, mahasiswa harus bernyali, jangan cepat menyerah. Dan pesan yang menarik beliau kepada mahasiswa harus bersih tidak boleh bau.’bagaimana mau mengajak orang, menjadi katalisator, kalau anda bau’. Bau yang dimaksud beliau memang bau yang sesungguhnya, bau tak enak.

Dalam agama memang kita diajarkan untuk bersih, disebut salah satu hadis, bahwa kebersihan itu sebagian dari iman seseorang. Artinya tidak beriman seseorang muslim jika dia tidak peduli terhadap kebersihan. Bahkan hampir semua ibadah yang kita lakukan salah satu syaratnya ialah bersih dari dari najis dan hadas. Dari aspek ini kita memang masih lemah.

Dan terakhir beliau ingatkan, tentang syarat katalisator adalah kebermanfaatan. Kebermanfaatan artinya kemampuan menghasilkan manfaat. Artinya berbeda dengan sekadar “manfaat”. Artinya keberadaan kita ditengah orang, ditengah masyarakat, kebermanfaatan dirasakan. Jangan sebaliknya. Semoga kebaikan demi kebaikan bisa diraih dan keberadaan kita memberikan banyak manfaat terhadap sekitar melalui banyak hal. 

Semangat membuat puluhan bahkan ratusan resolusi, jangan lupa diimbangi dengan revolusi jiwa dan hati. Perbaiki isi hati, perbaiki isi pikiran dan perbaiki kata-kata dalam bicara, jaga akhlak. Semoga bermakna.Tabe.

*Penulis adalah Dosen Unisa Palu