Selamat Jalan Sang Perancang AD/ART PG Alkhairaat

oleh -
Proses pemakaman Drs. Irfan Abdul Gafar di desa Mawomba, Tojo--Insert: Irfan Abdul Gafar (FOTO:Doc)


PALU- Abnaul Khairaat dan Nahdliyin Sulawesi Tengah sontak kaget atas kabar wafatnya tokoh muda Alkhairaat dan NU, Drs. Irfan Abdul Gafar, M.Pd.I. Ketua Tanfidziyah NU Sulawesi Tengah, KH Lukman S. Thahir yang hampir bersamaan dengan KH Muhammad Syarif Hasyim, kerabatnya, mengabarkan kabar duka melalui group WhatsApp atas wafatnya Ustadz Irfan Abdul Gafar pada pukul 22.25 Wita.

“Inna lillaahi wainna ilaihi raajiuun,telah berpulang ke Rahmatullah sahabat kita semua Irfan Abdul Gafar di rumahnya, jam 22.25 malam ini. Semoga Allah melapangkan jalannya dan menematkannya disisi Allah pada tempat yang layak disisinya,” bunyi pesan di beberapa group WhatsApp yang diterima pukul 23.31 Wita, 16 Oktober 2021 malam itu.

Selasa malam 19 Oktober 2021 adalah malam ketiga pelaksanaan tahlilan dan takziah di kediaman almarhum di Palu dan di Desa Mawomba, Tojo.

Ucapan belasungkawa pun berdatangan dari sejumlah tokoh Alkhairaat, NU dan Kementerian Agama tempatnya mengabdikan diri semasa hidupnya.

Beberapa pekan sebelum wafat, salah seorang muridnya sekaligus sahabatnya, Sahran Raden menceritakan, saat dalam perjalanan pulang dari kabupaten Banggai menuju Palu, ia menyempatkan diri menjenguk sahabat, senior dan gurunya itu yang sedang sakit terbaring tak berdaya di rumah keluarganya di Ampana, kabupaten Tojo Una Una.

Sahran, tidak kuasa membendung air matanya saat melihat kondisinya saat itu. Pun almarhum, air matanya tumpah karena tak menduga sebelumnya, jika dalam kesendiriannya melawan penyakit di tubuhnya, tetiba dijenguk oleh sang murid sekaligus sahabatnya itu.

“Saya memang telah berniat dalam perjalanan panjang ini, harus menjenguk sang sahabat. Beliau adalah guru dan senior saya. Selanjutnya bersama mengabdi menjadi dosen di IAIN Palu yang sekarang menjadi UIN Datokarama Palu,” kata Sahran yang saat ini tercatat sebagai anggota KPU Provinsi Sulawesi Tengah periode kedua.

Almarhum Irfan Abdul Gafar adalah Dosen di Fakultas Tarbiyah IAIN Palu yang selajutnya meniti karir di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah. Almarhum berasal dari Kabupaten Tojo Una Una, ayahnya, almarhum Abdul Gafar adalah salah satu murid guru Tua yang pernah ditugaskan mengajar di Desa Pelawa, Kabupaten Parigi Moutong.

Semasa hidupnya, separuh usianya didedikasikan untuk pengembangan dan kemajuan pendidikan umat dan perubahan sosial masyarakat. Khususnya di Alkhairaat.

Alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Palu dan Universitas Negeri Malang ini adalah akademisi yang ahli di Bidang Teknologi Pembelajaran. Dedikasinya pada keilmuan terus diabdikan untuk kualitas pendidikan sekolah dan madrasah Alkhairaat di Sulawesi Tengah.

Sebelum ia mendirikan pesantren di Donggala, sebagai baktinya untuk santri dan agamanya, almarhum tercatat sebagai Wakil Sekjen PB Alkairaat, Wakil Sekretaris NU Sulawesi Tengah, Plt. Kepala Madrasah Tsanawiyah Alkhairaat Kalukubula, salah seorang perancang lahirnya fakultas Kedokeran Universitas Alkhairaat, Ketua Yayasan Al Ikhlas Poso dan masih banyak lagi amanah ummat yang melekat di pundaknya.

Di akhir hayatnya, almarhum tercatat sebagai Kepala Seksi Guru pada bidang Penmad Kanwil Kemenag Sulawesi Tengah.

Hampir enam bulan almarhum berjuang melawan penyakitnya, akhirnya Allah menjemputnya kembali ke haribanaNYA pada hari Sabtu tanggal 16 Oktober 2021 pukul 22.25 di kediamannya kelurahan Tavanjuka, Palu. Keesokan harinya, sebelum dibawa ke tanah kelahirannya, di desa Mawomba, Tojo, untuk disemayamkan, almarhum di shalatkan di masjid Alkhairaat, dipimpin langsung oleh Ketua Umum PB Alkhairaat, Habib Ali bin Muhammad Aljufri.

Rekam jejak aktivitas organisasi yang digeluti almarhum, Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII), Wakil Ketua PW GP Ansor Sulteng, Wakil Sekretaris PW NU Sulteng, Wakil Sekjen PB Alkhairaat dan sangat aktif dalam kepengurusan lembaga terbesar di kawasan Timur Indonesia itu. Belum lagi aktivitas organisasi sosial lainnya yang tak terhitung lagi sebagai sarana almarhum mengabdikan diri pada agama dan bangsanya.

Menurut pengakuan Sahran Raden, dirinya bersama almarhum dan sahabat sahabat senior lainnya, pada beberapa kali Muktamar Alkhairaat, almarhum Irfan Abdul Gafar adalah yang merancang dan mendesain AD/ART Persatuan Guru Alkhairaat (PGA) sampai dengan pengembangan program Alkhairaat di bidang sosial, keagamaan dan pendidikan.

Kata Sahran, jasa beliau sangat besar bagi pengembangan dua organisasi besar, NU dan Alkhairaat di Sulawesi Tengah. Almarhum adalah salah satu konseptor handal yang dimiliki Alkhairaat dan NU, produktif dalam mendasain kemajuan suatu organisasi.

Alkhairaat dan NU adalah ladang jariyahnya, separuh usianya ia habiskan untuk mengabdikan dirinya dalam bidang sosial kemasyarakatan untuk pengembangan dakwah dan perubahan sosial masyarakat Sulawesi Tengah.

Almarhum juga dikenal sebagai sosok yang suka membantu dan peduli terhadap sesama, beliau juga dengan senang hati menerima semua saran dan pemikiran yang disampaikan, walaupun itu dari bawahannya atau sahabatnya yang usianya lebih muda dari almarhum. Begitu juga jika ada masalah, almarhum terlebih dahulu mendiskusikannya bersama untuk mencari solusi terbaik.

Kepedulianya itu terlihat, saat gempa, tsunami dan likuifaksi pada bulan September 2018 silam. Rumah almarhum dijadikan posko NU Peduli Bencana Palu. Dari rumah inilah, seluruh bantuan bencana disalurkan kepada masyarakat yang terdampak bencana. Mulai dari bantuan makanan, pakaian, dana, rumah huntap, air bersih dan sanitasi, penyiapan dokter sampai dengan bantuan kesehatan dengan menyiapkan tenaga medis dan dokter. Melalui NU Peduli beliau bergerak membantu sesama tanpa mengenal suku, agama dan ras. Semuanya almarhum lakukan atas nama kemanusiaan dibarengi dengan ikhlas dan sabar tanpa pamrih.

Sebagai seorang Da’I, almarhum banyak memberikan pencerahan spritual kepada umat dan mengajar kepada santri santrinya. saat beliau terbaring dalam keadaan sakit pun, beliau terus mengajar, meski melalui virtual sampai akhirnya tangan dan badan beliau tidak bisa bergerak lagi dengan suara yang mulai perlahan mulai menghilang. Bersambung…

Reporter: Iwan Laki
Editor: Nanang