ADA sekolah yang terlalu sibuk membangun citra sebagai sekolah pintar sains, teknologi, atau sekolah unggulan. Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi persoalannya muncul ketika sekolah hanya ingin menunjukkan bahwa “kami juga bisa”, sementara lupa bahwa mereka mungkin memiliki keunggulan yang justru tidak dimiliki sekolah lain.

Dalam dunia pendidikan, sekolah tidak harus menang di semua bidang. Justru sekolah yang kuat adalah sekolah yang mampu menemukan kekhasannya, lalu mengembangkan kekhasan itu menjadi alasan mengapa masyarakat memilihnya.

Fenomena ini dapat kita lihat pada madrasah. Ketika sekolah umum berlomba membangun laboratorium, kelas sains, robotik, coding, dan berbagai program modern, madrasah kadang merasa perlu ikut membuktikan bahwa mereka juga mampu melakukan hal yang sama.

Sekali lagi, madrasah tentu harus menguasai sains dan teknologi. Anak-anak madrasah tidak boleh tertinggal dalam matematika, sains, teknologi, maupun kemampuan menghadapi dunia modern.

Namun, jangan sampai dalam mengejar semua itu madrasah justru melupakan sesuatu yang menjadi kekuatan alaminya. Pendalaman bahasa Arab, Al-Qur’an, ilmu keislaman, dan tradisi intelektual Islam adalah modal yang tidak dimiliki banyak sekolah umum.

Di sinilah seharusnya madrasah berpikir lebih strategis. Bukan sekadar mengatakan “kami juga pintar sains”, tetapi menawarkan sesuatu yang lebih khas: “kami membangun anak yang kuat dalam sains sekaligus memiliki kedalaman bahasa Arab dan keislaman.”

Sebab ketika sebuah madrasah mengatakan dirinya unggul dalam sains, ia harus bersaing dengan begitu banyak sekolah lain yang mengatakan hal serupa. Tetapi ketika ia memiliki keunggulan dalam sains sekaligus bahasa Arab dan keislaman, ia mulai memiliki identitas yang sulit ditiru.

Masalahnya, sekolah yang merasa berada di posisi “kelas dua” sering terjebak dalam keinginan mengejar sekolah yang dianggap lebih unggul. Mereka meniru program, istilah, dan branding sekolah lain agar masyarakat melihat bahwa “kami juga bisa.”

Padahal, meniru keunggulan orang lain tidak selalu membuat kita menjadi unggul. Bisa jadi sekolah tersebut justru memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga, tetapi selama ini tidak pernah serius dikembangkan.

Sekolah tidak harus menjadi versi lain dari sekolah unggulan. Ia harus menemukan sesuatu yang bisa membuat orang tua berkata, “Kalau saya ingin anak mendapatkan kemampuan seperti ini, sekolah inilah tempatnya.”

Karena itu, madrasah tidak perlu malu menjadi madrasah. Modernitas tidak harus berarti meninggalkan identitas, dan keislaman tidak harus menjadi penghalang untuk menguasai sains.

Justru tantangan terbesar madrasah adalah menciptakan sintesis: sains yang kuat, teknologi yang dikuasai, bahasa Arab yang mendalam, dan karakter keislaman yang kokoh. Bukan menjadi sekolah umum yang diberi tambahan pelajaran agama, tetapi menjadi model pendidikan yang mampu mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan ilmu pengetahuan modern.

Pada akhirnya, sekolah tidak harus memenangkan semua perlombaan. Sekolah hanya perlu menemukan arena di mana ia memiliki kekuatan, lalu berusaha menjadi yang terbaik di sana.