DUNIA pendidikan Indonesia sedang memasuki fase yang sangat dinamis. Dalam waktu yang hampir bersamaan, publik disuguhi beragam agenda besar: pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Sekolah Rakyat, pengembangan Sekolah Garuda, penguatan Sekolah Taruna, digitalisasi pembelajaran, hingga berbagai penyesuaian kurikulum. Hampir setiap pekan muncul kebijakan baru yang menyita perhatian.
Di balik hiruk-pikuk itu, ada satu gagasan yang perlahan menghilang dari percakapan publik, yakni sekolah sadar iklim.
Padahal, beberapa tahun lalu isu ini sempat mendapat perhatian cukup besar. Pemerintah bersama berbagai mitra pembangunan mendorong sekolah agar tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang membangun kesadaran lingkungan. Sekolah diproyeksikan menjadi garda depan dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan iklim. Namun kini, semua itu gaungnya nyaris tak terdengar.
Bukan berarti isu perubahan iklim sudah selesai. Justru sebaliknya. Frekuensi cuaca ekstrem semakin meningkat. Banjir, kekeringan, kebakaran hutan, longsor, hingga krisis air bersih menjadi peristiwa yang semakin sering terjadi. Sektor pendidikan pun ikut terdampak. Sekolah rusak akibat bencana, kegiatan belajar terganggu, bahkan kesehatan peserta didik ikut terancam.
Ironisnya, ketika ancaman iklim semakin nyata, pendidikan iklim justru kehilangan panggung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perhatian dunia pendidikan sering kali bergerak mengikuti agenda yang sedang dominan. Ketika pemerintah meluncurkan MBG, fokus bergeser pada pemenuhan gizi peserta didik. Saat Sekolah Rakyat diperkenalkan, perhatian tertuju pada perluasan akses pendidikan bagi kelompok miskin. Ketika Sekolah Garuda diluncurkan untuk menyiapkan talenta unggul di bidang sains dan teknologi, diskusi berubah pada kualitas sumber daya manusia. Demikian pula dengan pengembangan Sekolah Taruna yang menekankan disiplin, kepemimpinan, dan karakter.
Semua program tersebut memiliki tujuan yang baik. Tidak ada yang perlu dipertentangkan.
Namun, pendidikan tidak seharusnya berjalan dengan logika bahwa hadirnya agenda baru otomatis menggeser agenda lain. Pendidikan yang baik justru mampu mengintegrasikan berbagai kebutuhan secara bersamaan.
Sekolah sadar iklim bukanlah program yang berdiri sendiri. Nilai-nilainya dapat hadir di semua jenis sekolah.
Di Sekolah Rakyat, pendidikan lingkungan dapat menjadi bekal agar masyarakat rentan memiliki kemampuan beradaptasi terhadap bencana yang sering kali paling dahulu mereka rasakan.
Di Sekolah Garuda, kesadaran iklim dapat melahirkan inovasi teknologi untuk energi bersih, pertanian berkelanjutan, hingga mitigasi bencana.
Di Sekolah Taruna, kepemimpinan dapat diperluas menjadi kepemimpinan dalam menjaga lingkungan dan ketahanan bangsa menghadapi krisis iklim.
Sementara pada pelaksanaan MBG, sekolah dapat mengajarkan pengelolaan sampah makanan, penggunaan bahan lokal, pengurangan plastik sekali pakai, hingga pemanfaatan limbah organik menjadi kompos. Program gizi dan pendidikan lingkungan bukan dua hal yang saling terpisah.
Artinya, sekolah sadar iklim tidak harus diwujudkan melalui pembangunan sekolah baru atau penambahan mata pelajaran baru. Yang dibutuhkan adalah cara pandang bahwa seluruh ekosistem pendidikan perlu mempertimbangkan aspek keberlanjutan.
Sayangnya, narasi seperti ini belum banyak muncul dalam diskursus pendidikan nasional.
Padahal, berbagai lembaga internasional telah menempatkan pendidikan iklim sebagai bagian penting dari pembangunan berkelanjutan. Banyak negara mulai memperkuat literasi iklim, membangun sekolah yang tangguh terhadap bencana, serta membiasakan peserta didik menjalankan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Indonesia sebenarnya tidak memulai dari nol. Program Adiwiyata pernah menjadi contoh bagaimana sekolah dapat membangun budaya peduli lingkungan melalui keterlibatan guru, siswa, dan masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi modal yang berharga untuk dikembangkan, bukan ditinggalkan.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan memilih antara MBG atau sekolah sadar iklim, antara Sekolah Garuda atau pendidikan lingkungan, ataupun antara Sekolah Rakyat dan keberlanjutan. Semua agenda itu dapat berjalan beriringan apabila dirancang dalam satu visi pendidikan yang utuh.
Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya sekolah baru yang dibangun atau banyaknya program yang diluncurkan. Pendidikan juga diukur dari sejauh mana ia mampu mempersiapkan generasi menghadapi tantangan terbesar pada zamannya.
Dan salah satu tantangan terbesar abad ini adalah perubahan iklim.
Jika hari ini kita berhasil membangun ribuan sekolah baru tetapi gagal menanamkan kesadaran ekologis kepada para siswanya, maka kita mungkin sedang menyiapkan generasi yang cakap menghadapi ujian akademik, tetapi belum siap menghadapi masa depan bumi yang akan mereka warisi.*
