DALAM beberapa tahun terakhir, konsep Sekolah Alam atau Forest School semakin mendapat perhatian di Indonesia. Berbagai platform digital dipenuhi foto dan video anak-anak yang belajar di tengah pepohonan, berkebun, memanjat, atau bermain lumpur. Gambaran tersebut membentuk kesan bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang berlangsung di alam terbuka.
Di tengah meningkatnya tekanan akademik pada anak, model ini dipandang sebagai alternatif yang lebih menyenangkan dibanding sekolah konvensional. Tidak sedikit orang tua yang mulai mempertimbangkan Sekolah Alam karena percaya anak akan tumbuh lebih bahagia, lebih bebas bereksplorasi, dan tidak dibebani rutinitas belajar yang kaku.
Popularitas tersebut memunculkan pertanyaan penting. Apakah Sekolah Alam benar-benar hanya sebuah tren yang sedang naik daun, atau justru telah menjadi salah satu alternatif pendidikan yang mulai mengakar di Indonesia?
Faktanya, konsep Sekolah Alam belum kehilangan relevansinya. Justru dalam beberapa tahun terakhir terdapat indikasi pertumbuhan yang cukup konsisten, meskipun belum menjadi arus utama pendidikan nasional. Data Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) yang dikutip berbagai media menunjukkan jumlah sekolah alam meningkat dari sekitar 57 sekolah pada 2011 menjadi lebih dari 200 sekolah pada 2024. Bahkan beberapa laporan menyebut jumlahnya telah melampaui 300 sekolah, meski angka tersebut bergantung pada definisi dan cakupan sekolah yang digunakan. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa Sekolah Alam tidak sedang mengalami kemunduran, melainkan berkembang secara bertahap sebagai alternatif pendidikan.
Meski demikian, pertumbuhan tersebut juga memperlihatkan bahwa Sekolah Alam masih berada pada posisi niche education. Dalam tiga tahun terakhir, ekspansinya tidak berlangsung secara masif seperti sekolah formal. Namun aktivitas jaringan Sekolah Alam tetap berjalan melalui forum nasional, pengembangan kurikulum, hingga dukungan pemerintah terhadap model pendidikan alternatif. Artinya, Sekolah Alam masih memiliki tempat di tengah masyarakat, walaupun belum menjadi pilihan dominan.
Di sisi lain, masyarakat masih sering memahami Sekolah Alam secara sederhana. Banyak yang menganggap konsep ini hanya memindahkan ruang kelas ke lingkungan terbuka. Seolah-olah keberadaan pohon, kebun, dan sungai sudah cukup untuk menghasilkan proses belajar yang berkualitas.
Padahal, esensi Forest School bukan terletak pada lokasi belajarnya, melainkan pada pendekatan pedagogis yang digunakan. Alam hanyalah media pembelajaran, bukan tujuan pendidikan. Tanpa metode yang jelas dan tujuan pembelajaran yang terencana, kegiatan di luar ruangan tidak lebih dari aktivitas rekreasi.
Pandangan tersebut sejalan dengan kritik Leather (2018) yang menyatakan bahwa Forest School berisiko kehilangan makna ketika dipasarkan hanya sebagai pengalaman belajar di alam. Dalam kondisi demikian, alam berubah menjadi komoditas pemasaran, sementara nilai pendidikan justru tersisihkan.
Keberhasilan Sekolah Alam karena itu tidak dapat diukur dari luasnya area hijau atau banyaknya aktivitas luar ruang yang dilakukan. Yang lebih penting adalah bagaimana lingkungan tersebut dimanfaatkan untuk membangun kemampuan berpikir, karakter, dan keterampilan hidup peserta didik.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berbasis alam memang memberikan manfaat ketika diterapkan dengan pendekatan yang tepat. Ernst, Juckett, dan Sobel (2022) menemukan bahwa anak-anak yang mengikuti pendidikan prasekolah berbasis alam memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya belajar di kelas konvensional.
Lingkungan alam menghadirkan tantangan yang tidak selalu dapat diprediksi. Anak belajar menghadapi cuaca, medan yang beragam, maupun situasi yang menuntut kerja sama dan pemecahan masalah. Pengalaman tersebut membantu membangun keberanian, kemampuan beradaptasi, serta rasa percaya diri yang sulit diperoleh melalui pembelajaran yang sepenuhnya berlangsung di dalam kelas.
Selain membangun ketangguhan, alam juga berperan dalam perkembangan emosional anak. Nur dan Fardana (2025) menjelaskan bahwa lingkungan alam memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosinya secara alami.
Ketika anak menghadapi rasa takut saat meniti batang kayu, belajar sabar ketika merawat tanaman, atau menunjukkan empati terhadap makhluk hidup di sekitarnya, sesungguhnya mereka sedang mengembangkan kecerdasan emosional. Pembelajaran seperti ini berlangsung melalui pengalaman langsung, bukan sekadar penjelasan teoritis.
Namun demikian, Sekolah Alam bukanlah solusi tunggal bagi seluruh persoalan pendidikan. Model ini tetap membutuhkan kurikulum yang jelas, guru yang kompeten, serta tujuan pembelajaran yang terukur. Alam tidak otomatis membuat anak belajar; kualitas pendidikan tetap ditentukan oleh proses pedagogis yang dirancang oleh pendidiknya.
Karena itu, diskusi mengenai Sekolah Alam tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan apakah model ini lebih baik daripada sekolah konvensional. Yang lebih penting adalah bagaimana prinsip-prinsip pembelajaran berbasis alam dapat diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan secara lebih luas.
Pada akhirnya, Sekolah Alam bukan sekadar fenomena sesaat. Data menunjukkan bahwa model pendidikan ini masih terus bertahan dan berkembang di Indonesia, meskipun pertumbuhannya berlangsung secara bertahap dan belum menjadi arus utama. Relevansinya terletak bukan pada popularitasnya, tetapi pada kemampuannya menghadirkan pembelajaran yang holistik—mengembangkan kemampuan kognitif, ketahanan mental, kecerdasan emosional, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Jika diterapkan dengan landasan pedagogis yang kuat, Sekolah Alam dapat menjadi salah satu alternatif penting dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21.**
