PALU, MAL. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) Alkhairaat, Jamaluddin Mariadjang, menyoroti fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di ruang publik.

Ia menegaskan pentingnya penguatan pendidikan agama serta peran keluarga dalam membentuk karakter generasi muda.

Pernyataan itu disampaikan Jamaluddin Mariadjang kepada wartawan di Gedung PB Alkhairaat, Palu, Rabu (08/07).

Jamaluddin berpendapat, perilaku yang bertentangan dengan norma agama, budaya, dan nilai sosial tidak dapat dibenarkan atas nama kebebasan individu.

Menurutnya, kebebasan harus tetap berada dalam koridor norma yang berlaku di tengah masyarakat, terutama dalam konteks penguatan pendidikan agama.

“Kalau kebebasan dilepaskan dari norma agama dan budaya, maka akan menimbulkan persoalan sosial yang dapat memengaruhi tatanan kehidupan masyarakat,” kata Jamaluddin.

Ia melanjutkan, pendiri Alkhairaat, Guru Tua, sejak awal meletakkan fondasi pendidikan melalui madrasah. Langkah ini bertujuan membangun akhlak dan moral generasi, serta menunjukkan pentingnya pembinaan karakter sejak usia dini sebagai benteng menghadapi berbagai penyimpangan perilaku dan fenomena LGBT.

“Guru Tua memilih membangun madrasah karena pendidikan agama memiliki peran penting dalam membentuk akhlak, moralitas, dan karakter manusia sejak usia dasar,” kata Jamaluddin Mariadjang.

Jamaluddin Mariadjang menambahkan, individu dengan kecenderungan atau penyimpangan perilaku seksual tetap harus diperlakukan secara manusiawi dan tidak boleh dikucilkan dari kehidupan sosial.

Namun, kata dia, mereka perlu mendapatkan pendampingan, pembinaan, dan perhatian psikologis untuk mencegah mereka semakin terjerumus.

“Mereka tidak boleh didiskriminasi sebagai manusia. Mereka tetap memiliki hak untuk hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan masyarakat. Tetapi perlu ada pendampingan agar tidak melakukan perilaku yang bertentangan dengan norma agama dan nilai sosial,” ujar Jamaluddin.

Lanjut dia, fenomena LGBT ini juga harus menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga, sekolah, pesantren, tokoh agama, dan pemerintah.

Jamaluddin mengingatkan bahwa orang tua merupakan benteng pertama dalam membentuk kepribadian anak melalui penanaman nilai-nilai agama dan moral di lingkungan keluarga.

Selain itu, Sekretaris Jenderal PB Alkhairaat itu menilai lembaga pendidikan, termasuk pesantren dan madrasah, perlu meningkatkan pengawasan terhadap perkembangan karakter peserta didik.

Hal ini penting agar mereka tumbuh sesuai nilai-nilai agama, budaya, dan norma sosial yang berlaku.

“Penguatan pendidikan agama dan moral harus menjadi perhatian bersama agar generasi muda memiliki karakter yang kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh paham yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya,” tutup Jamaluddin.