Diskusi tentang Sejarah, Presiden AGSI Apresiasi Inisiatif SMKN 1 Banawa

oleh
Diskusi sejarah secara virtual yang digagas SMKN 1 Banawa, Sabtu (24/10). (FOTO: JAMRIN AB)

DONGGALA – Presiden AGSI (Asosiasi Guru Sejarah Indonesia) Pusat, Sumardiansyah Perdana Kusumah mengapresiasi inisiatif pihak Sekolah Menengah Kejuaruan Negeri (SMKN) 1 Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah di tengah pandemi Covid-19 dengan melaksanakan diskusi sejarah.

Diskusi dan lawatan sejarah itu kolonial di Kota Donggala itu berlangsung secara virtual, Sabtu (24/10).

“Kegiatan ini merupakan satu langkah tepat untuk menanamkan rasa cinta tanah air, apalagi bertema tentang Sumpah Pemuda sekaligus peringatan hari ulang tahun SMKN 1 Banawa,” kata Perdana.

Apresiasi serupa diungkapkan Gubernur AGSI Sulawesi Tengah, Amir Lagandeng.

Menurutnya, kegiatan lawatan sejarah secara virtual di masa pandemi ini merupakan inisiatif yang patut diapresiasi karena merupakan satu-satunya dan pertama dilakukan oleh sekolah di Sulawesi Tengah.

Diskusi virtual itu sendiri adalah gagasan dari Risma, salah satu guru mata pelajaran sejarah di SMKN 1 Banawa. Kegiatan diikuti puluhan siswa dan guru-guru sejarah di Kabupaten Donggala, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Sigi.

Diskusi diawali pemutaran video objek-objek peninggalan kolonial yang ada di Kota Donggala, seperti bekas gudang dan perkantoran Coprafondas atau Pusat Koperasi Kopra Daerah (PKKD), bekas perumahan PELNI, bekas rumah Asisten Residen Belanda dan bangunan menara suar, satu-satunya peninggalan Belanda yang masih berfungsi sampai saat ini.

Para peserta saling memberi masukan dan mengajukan pertanyaan terkait keberadaan bangunan bersejarah di Donggala.

Seperti yang dilontarkan sejarawan Donggala, Amiruddin Masri. Ia berharap agar dilakukan penyelamatan bangunan yang mempunya nilai sejarah.

Ia mencontohkan bekas rumah Asisten Residen Belanda yang saat ini telah mengalami renovasi, sebaiknya dikembalikan ke bentuk aslinya.

Amiruddin juga berpendapat, bila membicarakan pemerintahan Kolonial Belanda di Donggala, maka tidak lepas dari keberadaan Kerajaan Banawa.

“Sebab pada masa itu dalam pemerintahan, selain ada Belanda juga ada Kerajaan Banawa yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan,” katanya.

Reporter : Jamrin AB
Editor : Rifay

Iklan-Paramitha