PALU – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) dr Reni Lamadjido menyampaikan bahwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata Palu tetap membuka pelayanan hingga hari Sabtu.

“Berdasarkan surat keputusan dari Gubernur Sulteng yang baru, bahwa pelayanan di RSUD Undata Palu tetap dibuka. Tidak usah takut, saya ada di depan rumah sakit ini,” tegasnya saat jumpa pers usai pelantikan Direktur Utama RSUD Undata Palu, di ruang aula RSUD Undata Palu, Senin (4/5)

Pemprov Sulteng menegaskan pelayanan rumah sakit daerah tetap berjalan optimal meski aparatur sipil negara (ASN) menerapkan sistem kerja fleksibel work from anywhere (WFA).

Reny A. Lamadjido mengatakan, sektor kesehatan tidak termasuk dalam pola kerja fleksibel karena merupakan layanan dasar yang wajib diberikan kepada masyarakat.

“Jika pasien sudah datang ke rumah sakit, wajib dilayani. Tidak boleh ditolak,” kata Wagub Sulteng ini.

Menurutnya, bahwa program Berani Sehat telah melayani sebanyak 173 ribu masyarakat Sulawesi Tengah.

Terkait progres RSUD Undata Palu menjadi rumah sakit bertaraf internasional, dr. Reny menuturkan bahwa pihaknya telah melakukan asistensi bersama Kementerian PUPR, dengan rincian anggaran pembangunan senilai Rp 315 milair, menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

“Perencanaan rumah sakti sudah ada. Insyaallah dalam waktu dekat akan ditender. Kita doakan semua bisa terwujud,” ucapnya.

Kedepannya, RSUD Undata Palu akan menerapkan sistim Kelas Ruangan Inap Standar (KRIS). Dimana tidak ada lagi pasien kelas satu, dua dan tiga. Semua pasien disatukan dalam satu ruangan.

“Jadi BPJS sekarang menyatukan dalam satu ruangan pasien kelas satu, dua dan tiga dengan standar AC, kamar mandi,” jelas dr. Reny.

Namun katanya, sistim KRIS belum bisa diimplementasikan dalam waktu dekat, hal itu disebabkan masih dalam tahap pembahasan.

Sebelumnya, perubahan jadwal pelayanan rawat jalan di RSUD Undata di keluhkan oleh warga.

Sejumlah warga mengaku harus menyesuaikan waktu berobat karena tidak lagi tersedia layanan di hari Sabtu. Kondisi ini dinilai menyulitkan, terutama bagi pasien yang bekerja atau memiliki aktivitas sekolah pada hari kerja.


“Biasanya kami ke rumah sakit hari Sabtu supaya tidak izin kerja. Sekarang harus ambil cuti atau izin,” ujar Hendra warga jln Tombolotutu.

Selain itu, pengurangan hari layanan berpotensi menimbulkan peningkatan jumlah pasien pada hari operasional. Penumpukan antrean diperkirakan terjadi, khususnya di poli dengan jumlah kunjungan tinggi.