PALU, MAL – Universitas Tadulako (Untad) terus memperkuat perannya dalam pengembangan ilmu kebencanaan melalui pembangunan Nalodo Research Center, sebuah pusat riset yang difokuskan pada kajian gempa bumi dan likuefaksi serta diproyeksikan menjadi pusat unggulan bertaraf nasional.
Pusat riset yang tengah dibangun di lingkungan kampus Untad itu dirancang sebagai wadah penelitian, pengujian, dan edukasi publik terkait kebencanaan, khususnya gempa bumi dan likuefaksi yang menjadi ancaman nyata di Indonesia, terutama di wilayah Sulawesi Tengah.
Wakil Rektor IV Bidang Pengembangan dan Kerja Sama Untad, Dr. Sc. Org. Aiyen, mengatakan gagasan pembangunan Nalodo Research Center telah dirintis sejak 2023 sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan riset kebencanaan pascabencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Sulawesi Tengah pada 2018.
Menurutnya, selama ini banyak penelitian nasional maupun internasional terkait gempa dan likuefaksi dilakukan di Sulawesi Tengah, namun belum ditunjang fasilitas riset yang memadai.
“Kehadiran Nalodo Research Center diharapkan mampu menjawab kebutuhan tersebut sekaligus memperkuat posisi Untad sebagai pusat kolaborasi penelitian kebencanaan,” ujar Aiyen, Ahad (21/6).
Ia menjelaskan, pusat riset tersebut akan terbuka bagi peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian, baik dalam maupun luar negeri. Konsep kolaboratif itu diharapkan dapat mempercepat lahirnya inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang mitigasi bencana.
Tidak hanya berfungsi sebagai pusat penelitian, Nalodo Research Center juga akan menjadi sarana edukasi publik. Fasilitas itu nantinya dilengkapi perangkat simulasi yang memungkinkan pengujian struktur bangunan terhadap guncangan menyerupai kondisi gempa bumi sesungguhnya.
Selain itu, akan tersedia ruang edukasi dan teater pembelajaran yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan pelajar untuk memahami karakteristik gempa bumi, likuefaksi, serta langkah-langkah mitigasi yang perlu dilakukan saat bencana terjadi.
Aiyen meyakini Nalodo Research Center memiliki potensi menjadi salah satu pusat unggulan kebencanaan di Indonesia karena fokus kajiannya yang spesifik pada gempa bumi dan likuefaksi.
“Bahkan fasilitas ini berpeluang menjadi satu-satunya pusat riset di Indonesia yang secara khusus mengintegrasikan penelitian, pengujian, dan edukasi publik dalam bidang gempa dan likuefaksi,” katanya.
Saat ini pembangunan gedung masih berlangsung. Untad menargetkan pembangunan fisik dapat selesai pada Oktober 2026. Sejumlah kebutuhan peralatan dasar juga telah disiapkan dan akan dipasang setelah konstruksi rampung.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Fauzan, menilai kehadiran Nalodo Research Center harus menjadi contoh bagaimana hasil riset perguruan tinggi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, selama ini banyak hasil penelitian kampus yang berhenti pada tahap prototipe atau publikasi ilmiah sehingga dampaknya belum dirasakan secara luas.
“Riset harus berdampak. Jangan hanya berhenti pada jurnal atau prototipe. Hasil penelitian harus bisa dimanfaatkan masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan,” tegas Fauzan.
Ia juga mendorong terbentuknya konsorsium perguruan tinggi yang melibatkan kampus, pemerintah daerah, industri, dan masyarakat agar penelitian yang dihasilkan lebih terintegrasi dan mampu menjawab berbagai persoalan pembangunan.
Dengan konsep kolaboratif tersebut, Nalodo Research Center diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas riset kebencanaan nasional, tetapi juga meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan likuefaksi di masa depan.

