MENJADI mahasiswa bukan sekadar mendapatkan kartu tanda mahasiswa, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, lalu lulus dengan nilai baik. Kampus seharusnya menjadi tempat seseorang belajar mempertanyakan sesuatu, menguji kebenaran, membaca persoalan masyarakat, dan membangun keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu yang keliru memang harus dikoreksi.
Karena itu, mahasiswa kritis bukan mahasiswa yang paling sering berteriak di demonstrasi. Ia juga bukan orang yang setiap hari mencaci pemerintah di media sosial. Mahasiswa kritis adalah orang yang tidak mudah menerima sesuatu hanya karena dikatakan oleh dosen, pejabat, tokoh agama, senior organisasi, atau bahkan kelompoknya sendiri.
Sikap kritis dimulai dari kebiasaan sederhana: bertanya. Mengapa kebijakan itu dibuat? Siapa yang mendapatkan manfaat? Siapa yang mungkin dirugikan? Apa datanya? Dari mana informasi tersebut berasal? Apakah ada sudut pandang lain yang sengaja tidak dibicarakan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu penting karena banyak mahasiswa terjebak dalam budaya menerima. Pernyataan senior dianggap benar karena senior. Pernyataan pejabat dianggap benar karena pejabat. Pernyataan tokoh organisasi dianggap benar karena berasal dari organisasi sendiri. Padahal, tradisi akademik justru mengajarkan bahwa sebuah argumentasi harus diuji, bukan diterima berdasarkan siapa yang mengucapkannya.
Mahasiswa kritis juga harus rajin membaca. Tidak mungkin seseorang mempunyai pikiran kritis jika bahan pikirannya hanya berasal dari potongan video, judul berita, unggahan Instagram, atau percakapan grup WhatsApp. Media sosial bisa menjadi pintu masuk informasi, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber pengetahuan.
Membaca berarti berani masuk lebih dalam. Jika sedang membicarakan kemiskinan, baca data kemiskinan. Jika membicarakan pendidikan, pelajari kebijakan pendidikan dan anggarannya. Jika mengkritik pemerintah daerah, baca dokumen perencanaan, APBD, laporan kinerja, dan data yang relevan. Kritik yang memiliki data akan jauh lebih kuat daripada kritik yang hanya mengandalkan kemarahan.
Namun membaca saja belum cukup. Mahasiswa harus belajar membedakan fakta, opini, asumsi, dan propaganda. Tidak semua informasi yang terlihat meyakinkan adalah fakta. Tidak semua angka yang dikutip berarti membuktikan sebuah kesimpulan. Bahkan data yang benar pun bisa digunakan untuk membangun kesimpulan yang menyesatkan jika konteksnya dihilangkan.
Karena itu, mahasiswa kritis harus memiliki kemampuan memeriksa sumber. Siapa yang mengatakan? Apa kepentingannya? Bagaimana data dikumpulkan? Apakah sumber lain mengatakan hal yang sama? Pertanyaan semacam ini akan membuat mahasiswa tidak mudah diseret oleh arus informasi.
Sikap kritis juga berarti berani mengkritik kelompok sendiri. Ini mungkin bagian yang paling sulit. Banyak mahasiswa sangat kritis ketika membicarakan kelompok politik yang tidak mereka sukai, tetapi mendadak kehilangan daya kritis ketika kesalahan dilakukan oleh tokoh atau organisasi yang mereka dukung.
Padahal, loyalitas kepada organisasi tidak boleh mengalahkan loyalitas kepada kebenaran. Jika organisasi sendiri keliru, mahasiswa harus mampu mengatakan keliru. Jika tokoh yang dikagumi membuat kesalahan, kesalahan tetap harus disebut sebagai kesalahan. Kritik yang hanya diarahkan kepada lawan politik bukan sikap kritis, melainkan fanatisme yang memiliki bahasa akademik.
Mahasiswa juga perlu memahami bahwa kritis tidak sama dengan sinis. Orang sinis selalu mencari kesalahan, tetapi tidak selalu menawarkan jalan keluar. Sebaliknya, mahasiswa kritis berusaha memahami persoalan sekaligus mencari kemungkinan perbaikannya.
Karena itu, kritik sebaiknya tidak berhenti pada kalimat, “Pemerintah gagal.” Pertanyaan berikutnya adalah: gagal di bagian mana, berdasarkan indikator apa, apa penyebabnya, dan apa yang seharusnya dilakukan? Di situlah kritik berubah menjadi pengetahuan yang berguna bagi masyarakat.
Hal lain yang sering dilupakan adalah turun melihat kenyataan. Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi kritikus dari balik layar laptop. Jika ingin berbicara tentang kemiskinan, temui masyarakat miskin. Jika ingin membahas pendidikan, datang ke sekolah. Jika ingin membahas petani, dengarkan petani. Jika ingin mengkritik pelayanan publik, rasakan sendiri bagaimana masyarakat berhadapan dengan birokrasi.
Pengalaman lapangan membuat kritik menjadi lebih manusiawi. Data memberikan ketepatan, tetapi perjumpaan dengan masyarakat memberikan pemahaman tentang bagaimana sebuah kebijakan benar-benar bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, mahasiswa kritis membutuhkan tiga hal: pikiran yang terbuka, keberanian untuk bertanya, dan disiplin untuk mencari kebenaran. Ia tidak mudah percaya, tetapi juga tidak mudah menuduh. Ia tidak takut kepada kekuasaan, tetapi juga tidak membenci kekuasaan hanya karena kekuasaan adalah kekuasaan.
Di tengah kampus yang semakin pragmatis, menjadi mahasiswa kritis mungkin tidak selalu menguntungkan. Ada kalanya kritik membuat seseorang tidak disukai, kehilangan kesempatan, atau dianggap merepotkan. Tetapi justru di situlah nilai mahasiswa diuji.
Sebab kampus bukan hanya tempat mencetak orang yang siap bekerja. Kampus seharusnya juga mencetak manusia yang mampu berpikir ketika orang lain hanya mengikuti, mampu bertanya ketika orang lain memilih diam, dan mampu mengatakan tidak ketika sesuatu memang tidak benar.
Mahasiswa boleh gagal menjadi aktivis. Tetapi jangan sampai gagal menjadi manusia yang berpikir.
