Palu, MAL – Seringkali kita mengamati betapa mudahnya anak-anak menyerap bahasa baru atau menguasai teknologi, sementara orang dewasa merasa kesulitan dan frustrasi saat mencoba hal yang sama. Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan sebuah realita kompleks yang dijelaskan oleh berbagai faktor. Artikel ini akan membahas mengapa dewasa sulit belajar dan apa saja penyebab di balik perbedaan kemampuan ini antara anak-anak dan orang dewasa.

Secara biologis, otak anak-anak didesain untuk menyerap informasi dengan tingkat neuroplastisitas yang sangat tinggi. Kemampuan otak untuk membentuk koneksi saraf baru ini sangat cepat dan mudah pada masa kanak-kanak, menjadikannya ibarat spons yang siap menyerap segala bentuk. Namun, seiring bertambahnya usia, otak mengalami proses pemangkasan sinapsis, di mana jalur saraf yang jarang digunakan akan dihilangkan dan yang sering digunakan diperkuat. Akibatnya, otak orang dewasa menjadi lebih efisien pada hal-hal yang sudah dikuasai, tetapi membutuhkan usaha jauh lebih besar untuk membangun jalur saraf yang benar-benar baru, menjelaskan mengapa dewasa sulit belajar hal baru.

Perbedaan signifikan lainnya adalah beban psikologis. Anak-anak belajar dengan rasa ingin tahu murni dan tanpa rasa malu jika gagal atau terlihat konyol. Sebaliknya, orang dewasa telah mengembangkan ego, identitas diri, dan reputasi sosial yang membuat mereka takut terlihat bodoh, tidak kompeten, atau lambat. Rasa takut gagal ini seringkali memicu kecemasan yang justru menghambat kemampuan otak untuk menyerap informasi. Proses belajar bagi orang dewasa kerap diwarnai oleh overthinking dan kritik diri, menghilangkan elemen bermain dan eksplorasi yang esensial.

Bagi anak, belajar layaknya menulis di atas kertas kosong yang mudah ditorehkan tinta. Namun, bagi orang dewasa, ini seperti mencoba menulis ulang di atas kertas yang sudah penuh coretan. Orang dewasa membawa segudang pengalaman, pola pikir, dan kebiasaan yang sudah tertanam selama puluhan tahun. Pengetahuan atau metode baru sering berbenturan dengan apa yang sudah diyakini, sebuah fenomena yang dalam psikologi kognitif disebut interferensi proaktif. Sebelum mampu menyerap hal baru, orang dewasa kerap harus melalui proses unlearning atau membongkar kebiasaan lamanya, sebuah proses yang sangat melelahkan dan menjadi faktor mengapa dewasa sulit belajar.

Anak-anak memiliki fokus utama untuk tumbuh dan belajar, dengan waktu dan lingkungan yang mendukung penyerapan hal baru tanpa beban hidup. Sebaliknya, orang dewasa harus menyisipkan belajar keterampilan baru di antara pekerjaan, tanggung jawab keluarga, tagihan, dan kelelahan fisik. Beban pikiran ini menyita kapasitas memori kerja di otak. Ketika pikiran sudah sibuk dengan kekhawatiran sehari-hari, sangat sulit bagi otak untuk berkonsentrasi penuh pada materi pelajaran atau kursus bahasa asing, membuat mengapa dewasa sulit belajar semakin terasa.

Meskipun menghadapi rintangan biologis dan psikologis yang lebih berat, ini tidak berarti kemampuan belajar orang dewasa hilang sepenuhnya. Orang dewasa memiliki keunggulan seperti konteks, pemikiran strategis, dan disiplin yang tidak dimiliki anak-anak. Anak-anak mungkin belajar lebih cepat, tetapi orang dewasa belajar dengan lebih terarah. Dengan memahami gaya belajar diri sendiri, menurunkan ekspektasi kesempurnaan, dan membuang rasa gengsi, orang dewasa tetap mampu menguasai keterampilan apa pun di usia berapa pun. Belajar layaknya otot; semakin sering dilatih, terlepas dari usia, ia akan tetap kuat dan responsif.