SETIAP kali hasil asesmen menunjukkan masih banyak siswa yang belum lancar membaca, solusi yang sering muncul adalah menambah jam pelajaran calistung. Gagasan ini terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya tidak mudah diwujudkan. Kurikulum nasional telah menetapkan struktur mata pelajaran, alokasi waktu, serta capaian pembelajaran yang harus dipenuhi sekolah. Ruang untuk menambahkan mata pelajaran baru sangat terbatas.

Lalu, apakah sekolah harus menyerah?

Tentu tidak. Persoalannya bukan terletak pada ada atau tidaknya mata pelajaran membaca, melainkan pada bagaimana sekolah membangun budaya membaca. Anak belajar membaca bukan hanya ketika guru Bahasa Indonesia mengajar, tetapi juga ketika mereka hidup di lingkungan yang akrab dengan buku, cerita, dan teks.

Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah mata pelajaran baru, melainkan sebuah gerakan sekolah yang menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.

Bayangkan setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi, seluruh warga sekolah membuka buku selama lima belas menit. Tidak ada ujian, tidak ada tugas, tidak ada tekanan. Guru ikut membaca bersama siswa. Anak kelas awal mendengarkan guru membacakan cerita, sementara kakak kelas membaca buku pilihannya sendiri. Lima belas menit yang dilakukan setiap hari akan jauh lebih bermakna dibandingkan satu kegiatan besar yang hanya berlangsung sesekali.

Budaya membaca juga dapat dibangun melalui sudut baca di setiap kelas. Rak sederhana berisi puluhan buku sudah cukup untuk membuat anak tidak selalu bergantung pada perpustakaan sekolah. Buku-buku tersebut dapat diputar antarkelas setiap bulan sehingga selalu menghadirkan bacaan baru. Semakin mudah anak menjangkau buku, semakin besar peluang mereka untuk membacanya.

Yang tidak kalah penting, seluruh guru perlu merasa memiliki tanggung jawab terhadap kemampuan membaca siswa. Selama ini, membaca sering dianggap urusan guru Bahasa Indonesia. Padahal guru IPA dapat memulai pelajaran dengan membaca artikel pendek tentang alam, guru IPS mengajak siswa membaca kisah sejarah, guru Pendidikan Agama membacakan cerita keteladanan, bahkan guru PJOK dapat menggunakan petunjuk permainan sebagai bahan bacaan. Dengan cara ini, membaca hadir dalam setiap mata pelajaran tanpa mengubah kurikulum.

Sekolah juga dapat memanfaatkan kekuatan antarsiswa melalui program “Kakak Asuh Membaca”. Siswa kelas lima atau enam mendampingi adik kelas yang masih kesulitan mengenal huruf atau merangkai kata. Selain membantu meningkatkan kemampuan membaca, kegiatan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab, kepedulian, dan kepercayaan diri pada kedua belah pihak.

Bagi siswa yang benar-benar mengalami kesulitan membaca, sekolah dapat membuka Klinik Membaca. Kegiatan ini tidak harus berbentuk mata pelajaran tambahan. Cukup dua kali dalam seminggu selama dua puluh hingga tiga puluh menit sebelum pelajaran dimulai atau setelah jam sekolah selesai. Kelompok kecil berisi lima hingga delapan siswa memungkinkan guru memberikan pendampingan yang lebih intensif sesuai kebutuhan masing-masing anak.

Peran keluarga pun tidak boleh diabaikan. Sekolah dapat mengajak orang tua mengikuti tantangan membaca sepuluh menit setiap malam. Orang tua tidak dituntut mengajar seperti guru. Cukup menemani anak membaca cerita, melihat gambar, atau mendengarkan anak mengeja kata-kata sederhana. Interaksi singkat yang dilakukan secara rutin akan memberi dampak besar terhadap perkembangan literasi anak.

Pada akhirnya, kemampuan membaca bukan semata-mata lahir dari tambahan jam pelajaran, melainkan dari lingkungan yang kaya akan bacaan. Sekolah yang dipenuhi buku, poster edukatif, cerita pendek di lorong, sudut baca di kelas, guru yang gemar membacakan cerita, serta teman-teman yang saling mengajak membaca akan melahirkan budaya literasi yang kuat.

Jika pemerintah telah menetapkan kurikulum yang relatif kaku, sekolah masih memiliki ruang yang sangat luas untuk berinovasi melalui program-program nonkurikuler. Membaca tidak harus dipenjara dalam sebuah mata pelajaran. Ia dapat tumbuh menjadi budaya sekolah, menjadi kebiasaan harian, dan pada akhirnya menjadi karakter setiap peserta didik.

Barangkali inilah saatnya menggeser cara pandang. Persoalannya bukan bagaimana memasukkan calistung ke dalam kurikulum, melainkan bagaimana membuat seluruh sekolah menjadi ruang belajar yang mengajak setiap anak jatuh cinta pada membaca.