Buku sudah ada. Perpustakaan tersedia. Gerakan membaca juga berulang kali digelar. Tetapi kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia belum menunjukkan perubahan yang menggembirakan.

Data PISA 2022 memperlihatkan persoalan itu dengan cukup jelas. Rata-rata skor Indonesia hanya 359 untuk membaca dan 366 untuk matematika, jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD yang masing-masing mencapai 476 dan 472. Dalam kemampuan membaca, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih, sementara rata-rata OECD mencapai 74 persen. Untuk matematika, hanya 18 persen yang mencapai tingkat minimum tersebut, dibandingkan 69 persen di negara-negara OECD.

Angka-angka itu tentu tidak berarti anak Indonesia tidak membaca atau tidak belajar matematika. Persoalannya lebih mendasar: apakah kegiatan membaca dan belajar yang berlangsung di sekolah benar-benar membuat siswa mampu memahami, menafsirkan, membandingkan, dan menggunakan informasi?

Di sinilah program literasi perlu dilihat kembali.

Selama ini, literasi sering diterjemahkan ke dalam kegiatan yang mudah terlihat: menambah koleksi buku, membuat pojok baca, membangun perpustakaan, memasang slogan gemar membaca, atau memberikan waktu membaca sebelum pelajaran. Semua itu penting, tetapi belum tentu cukup.

Sebab membaca bukan sekadar membuat anak memegang buku.

Seorang siswa bisa membaca beberapa halaman setiap pagi, tetapi belum tentu mampu menemukan gagasan utama sebuah teks. Ia bisa menyelesaikan satu buku, tetapi belum tentu mampu membedakan fakta dan opini. Ia bahkan bisa memiliki banyak kosakata, tetapi kesulitan ketika harus menarik kesimpulan dari informasi yang tersirat.

PISA sendiri mengukur kemampuan yang lebih jauh daripada sekadar kelancaran membaca. Pada tingkat minimum, siswa diharapkan mampu memahami gagasan utama teks dengan panjang sedang, menemukan informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk sebuah teks.

Artinya, persoalan literasi sebenarnya berada di dalam proses pembelajaran sehari-hari.

Sekolah tidak cukup hanya menyediakan buku

Bayangkan dua sekolah dengan kondisi yang relatif sama. Keduanya memiliki perpustakaan, buku bacaan, guru dengan kualifikasi yang tidak jauh berbeda, serta siswa dari lingkungan sosial yang relatif serupa.

Di sekolah pertama, program membaca berjalan sebagai kegiatan tambahan. Siswa diberi waktu membaca, kemudian kembali mengikuti pelajaran seperti biasa. Buku tersedia, tetapi guru tidak selalu membicarakan apa yang telah dibaca siswa.

Di sekolah kedua, membaca menjadi bagian dari proses belajar. Guru menentukan tujuan membaca, mengajukan pertanyaan, meminta siswa menjelaskan alasan dari jawabannya, membandingkan dua informasi, lalu memberikan umpan balik ketika siswa keliru memahami teks.

Perbedaannya mungkin tidak terlihat pada jumlah buku.

Namun, dalam beberapa bulan atau tahun, hasilnya bisa berbeda.

Sekolah kedua tidak sekadar mengajarkan kebiasaan membaca, tetapi mengajarkan cara berpikir melalui bacaan.

Hal serupa berlaku pada numerasi. Anak tidak cukup diberi latihan menghitung. Mereka perlu berhadapan dengan persoalan yang mengharuskan mereka membaca informasi, memilih data yang relevan, memperkirakan, menjelaskan alasan, dan mengambil keputusan berdasarkan angka.

Dengan kata lain, literasi dan numerasi bukan semata-mata urusan guru bahasa Indonesia atau matematika. Keduanya adalah kemampuan yang seharusnya hadir dalam hampir seluruh mata pelajaran.

Jam membaca saja tidak otomatis membuat anak menjadi pembaca

Gerakan membaca sering menghadapi persoalan yang sama: kegiatan dibuat, tetapi prosesnya tidak diikuti.

Sekolah bisa menetapkan 15 menit membaca setiap pagi. Namun, pertanyaan berikutnya adalah apa yang dilakukan guru selama 15 menit itu.

Apakah guru ikut membaca? Apakah siswa membaca buku yang sesuai tingkat kemampuannya? Apakah setelah membaca mereka diajak membicarakan isi bacaan? Apakah guru mengetahui siswa mana yang sebenarnya masih kesulitan memahami paragraf sederhana?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena kemampuan membaca siswa tidak sama.

Ada anak yang mampu memahami teks panjang, tetapi ada pula yang masih kesulitan menemukan informasi tersurat. Jika keduanya diperlakukan dengan cara yang sama, kegiatan membaca bisa berubah menjadi rutinitas administratif.

Karena itu, sekolah yang serius meningkatkan literasi perlu mengetahui posisi siswanya terlebih dahulu. Asesmen formatif sederhana dapat membantu guru melihat siapa yang tertinggal, bagian mana yang sulit dipahami, dan intervensi apa yang diperlukan.

Di titik ini, guru menjadi jauh lebih penting daripada sekadar keberadaan perpustakaan.

Guru adalah pengungkit utama

Literasi akhirnya kembali ke ruang kelas.

Guru yang mampu mengajarkan strategi membaca dapat membantu siswa memahami teks secara bertahap. Misalnya, sebelum membaca guru mengajak siswa memperkirakan isi teks berdasarkan judul. Saat membaca, siswa diminta mencari informasi tertentu. Setelah membaca, mereka diminta menjelaskan kesimpulan dan menunjukkan bagian teks yang mendukung jawaban mereka.

Pola semacam ini terlihat sederhana. Tetapi justru karena dilakukan berulang dan terstruktur, kemampuan siswa dapat berkembang.

Guru juga membutuhkan dukungan untuk melakukan itu. Pelatihan satu kali tidak selalu cukup. Yang lebih penting adalah pendampingan, coaching, diskusi antarguru, observasi pembelajaran, dan evaluasi berkala terhadap perkembangan siswa.

Sekolah yang berhasil memperbaiki kemampuan literasi biasanya bukan hanya sekolah yang memiliki program paling banyak. Bisa jadi justru sekolah yang mampu menjalankan beberapa praktik sederhana secara konsisten.

Kepala sekolah menentukan apakah program berhenti sebagai slogan

Kepala sekolah memiliki peran penting dalam memastikan literasi tidak menjadi proyek sesaat.

Jika kepala sekolah hanya meminta guru menjalankan program membaca karena ada instruksi, kegiatan itu mudah berubah menjadi rutinitas. Tetapi jika kepala sekolah menjadikan kemampuan membaca sebagai persoalan pembelajaran, ia akan menanyakan perkembangan siswa, mendiskusikan hasil asesmen, menyediakan waktu bagi guru untuk berkolaborasi, dan memastikan program berjalan konsisten.

Dengan demikian, kepemimpinan sekolah bukan sekadar soal menyediakan fasilitas.

Ia menentukan apakah literasi menjadi bagian dari budaya sekolah atau hanya menjadi agenda dalam kalender kegiatan.

Orang tua juga punya peran, tetapi jangan dibebankan seluruhnya

Lingkungan keluarga tetap penting. Anak yang memiliki kesempatan membaca di rumah, berdiskusi dengan orang tua, dan terbiasa menggunakan bahasa untuk menjelaskan gagasan memiliki lingkungan yang mendukung perkembangan literasinya.

Namun, tidak adil jika persoalan literasi dibebankan sepenuhnya kepada keluarga.

Tidak semua rumah memiliki koleksi buku. Tidak semua orang tua memiliki waktu mendampingi anak belajar. Bahkan tidak semua orang tua memiliki kemampuan untuk membantu anak memahami bacaan atau matematika.

Karena itu, sekolah tetap menjadi ruang penting untuk memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan yang relatif sama untuk membangun kemampuan dasar tersebut.

Justru di sinilah sekolah dengan sumber daya terbatas dapat menunjukkan perbedaannya. Ketika fasilitas tidak jauh berbeda, kualitas praktik pembelajaran, kepemimpinan, dan konsistensi intervensi menjadi semakin menentukan.

Mengubah cara melihat literasi

Rapor pendidikan dan PISA seharusnya tidak hanya dibaca sebagai daftar skor merah.

Angka tersebut perlu diterjemahkan menjadi pertanyaan yang lebih dekat dengan ruang kelas: berapa banyak siswa yang belum mampu memahami bacaan? Mengapa mereka kesulitan? Guru mana yang membutuhkan pendampingan? Apakah waktu membaca benar-benar digunakan untuk membaca? Apakah siswa mendapatkan umpan balik? Apakah sekolah mengetahui perkembangan kemampuan setiap anak?

PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan matematika siswa Indonesia masih berada jauh di bawah rata-rata OECD. Bahkan, dibandingkan 2018, rata-rata skor Indonesia turun pada matematika, membaca, dan sains.

Namun, angka nasional itu seharusnya tidak membuat sekolah berhenti pada keluhan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa ada sekolah yang mampu bergerak lebih cepat daripada sekolah lain yang memiliki sumber daya relatif serupa.

Jawabannya mungkin bukan pada berapa banyak buku yang dimiliki sekolah, melainkan pada apa yang dilakukan guru terhadap buku itu.

Bukan pada seberapa sering gerakan membaca dilaksanakan, melainkan apakah siswa benar-benar belajar memahami bacaan.

Bukan pula semata-mata pada keberadaan perpustakaan, tetapi apakah seluruh proses belajar di sekolah membuat anak terbiasa membaca, berpikir, menghitung, mempertanyakan, dan menjelaskan.

Jika literasi dan numerasi ingin keluar dari “lampu merah”, pekerjaan rumahnya bukan sekadar menambah program.

Yang perlu diperbaiki adalah praktik belajar setiap hari.