PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto bahwa nilai 100 adalah milik Yang Maha Kuasa, sementara angka di bawahnya dikaitkan dengan lembaga negara dan jabatan publik, menarik untuk dibaca secara lebih jernih. Ucapan tersebut disampaikan dalam suasana santai dan disambut tawa hadirin, sehingga konteks humor tentu perlu diperhatikan.
Dalam perspektif Islam, gagasan bahwa kesempurnaan hanya milik Allah merupakan prinsip yang mendasar. Allah bersifat Mahasempurna, sedangkan manusia, siapa pun dan setinggi apa pun kedudukannya, tetap memiliki keterbatasan dan tidak luput dari kekeliruan.
Karena itu, pernyataan tersebut tidak perlu buru-buru dipahami sebagai persoalan teologis. Bagian awal ucapan justru mengandung pesan bahwa tidak ada manusia yang mencapai tingkat kesempurnaan mutlak, sebab semua manusia berada pada posisi yang sama sebagai hamba Allah.
Namun, penyebutan angka-angka yang dikaitkan dengan lembaga negara juga menarik untuk direnungkan. Dalam Islam, jabatan bukan ukuran kemuliaan seseorang, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Al-Qur’an mengajarkan agar amanah diberikan kepada orang yang berhak dan dijalankan dengan adil. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral dan sosial yang dipikulnya.
Seorang presiden, anggota parlemen, atau pejabat negara tidak menjadi lebih mulia hanya karena kekuasaan yang dimiliki. Kekuasaan dalam Islam dipandang sebagai ujian yang akan dimintai pertanggungjawaban, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Allah.
Karena itu, angka 99, 98, atau 97 lebih tepat dipahami sebagai bagian dari gaya retoris dan candaan, bukan sebagai ukuran kesempurnaan manusia. Sebab dalam ajaran Islam, tidak ada manusia yang mendekati kesempurnaan Ilahi hanya karena jabatan atau kedudukannya.
Di sisi lain, publik juga perlu bersikap proporsional dalam menanggapi pernyataan pejabat. Tidak semua humor harus ditafsirkan secara harfiah, tetapi tidak pula berarti setiap ucapan bebas dari ruang refleksi dan kritik.
Justru dari candaan semacam ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kekuasaan seharusnya melahirkan kerendahan hati. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk berlaku adil, jujur, dan melayani kepentingan rakyat.
Islam sendiri tidak menempatkan jabatan sebagai ukuran utama kemuliaan. Al-Qur’an menegaskan bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, bukan yang paling tinggi kedudukannya dalam struktur kekuasaan.
Karena itu, ukuran seorang pemimpin bukanlah angka simbolik, melainkan sejauh mana amanah dijalankan dengan baik. Apakah kebijakannya membawa manfaat, melindungi masyarakat, dan menghadirkan keadilan bagi semua.
Pada akhirnya, pernyataan bahwa nilai 100 hanya milik Allah dapat menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh merasa sempurna. Kekuasaan tidak menjadikan seseorang lebih tinggi dari manusia lain, melainkan menambah beban tanggung jawab yang harus dipikul.
Dalam perspektif Islam, semakin besar amanah yang dimiliki seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya. Dan di situlah letak nilai seorang pemimpin: bukan pada angka yang disematkan kepadanya, tetapi pada keadilan, kejujuran, dan kemaslahatan yang ia hadirkan bagi rakyat.**
