MAL – Internet satelit semakin menjadi tulang punggung konektivitas di wilayah terpencil, terluar, dan tertinggal (3T) Indonesia. Ketika jaringan fiber optik dan sinyal seluler sulit menjangkau pegunungan, pulau-pulau kecil, hingga kawasan perbatasan, teknologi satelit hadir sebagai solusi untuk membuka akses pendidikan, kesehatan, layanan pemerintahan, dan ekonomi digital.
Perkembangan ini semakin terlihat sepanjang 2025 hingga Juli 2026. Berbagai penyedia layanan satelit, baik milik pemerintah maupun swasta, memperluas jangkauan ke daerah yang selama ini mengalami blank spot atau tidak memiliki akses internet memadai.
Mengapa Internet Satelit Masih Dibutuhkan?
Tantangan terbesar Indonesia adalah kondisi geografisnya sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau, kawasan pegunungan, hutan, serta wilayah perbatasan yang tersebar luas.
Kondisi tersebut membuat pembangunan infrastruktur komunikasi konvensional seperti fiber optik dan BTS seluler membutuhkan biaya tinggi serta waktu yang tidak singkat.
Selain itu, masih terdapat sekitar 119 juta penduduk yang belum terhubung internet sebelum perluasan program satelit dilakukan secara masif.
Kebutuhan layanan publik juga menjadi faktor utama. Sekolah, puskesmas, kantor desa, hingga layanan administrasi kependudukan membutuhkan koneksi internet yang stabil untuk menjalankan berbagai layanan digital.
Telkomsat dalam siaran pers pada 28 Juli 2026 menyatakan, “Telkomsat siapkan internet satelit untuk 50 daerah blank spot, mendukung layanan Dukcapil tanpa bergantung sinyal seluler. Akses digital lebih merata!”
Perluasan Jaringan ke Puluhan Daerah Blank Spot
Salah satu perkembangan terbaru datang dari PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) yang menyiapkan layanan internet satelit untuk 50 daerah blank spot di berbagai wilayah Indonesia.
Wilayah penerima manfaat tersebar mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.
Telkomsat menyebut pemanfaatan layanan MangoStar memungkinkan pemerintah daerah mengakses sistem administrasi kependudukan secara lebih stabil tanpa bergantung pada jaringan seluler.
“Sebanyak 50 daerah penerima bantuan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua,” kata Telkomsat.
Sementara itu, di Papua, pemerintah daerah menargetkan 250 titik VSAT aktif yang tersebar di tujuh kabupaten. Program tersebut menyasar sekolah, puskesmas, dan kampung yang belum memiliki akses jaringan operator.
Pemerintah Provinsi Papua menyatakan, “Tahun ini, jumlah tersebut akan ditingkatkan menjadi 250 titik yang tersebar di tujuh kabupaten, yaitu Sarmi, Mamberamo Raya, Jayapura, dan lainnya.”
Teknologi yang Membawa Internet ke Wilayah Tanpa Sinyal
Internet satelit bekerja dengan mengirimkan sinyal dari stasiun bumi ke satelit, kemudian diteruskan ke terminal penerima atau VSAT yang dipasang di lokasi pengguna.
Saat ini terdapat dua teknologi utama yang digunakan.
Pertama adalah satelit Low Earth Orbit (LEO) yang memiliki latensi rendah sekitar 20–40 milidetik dengan kecepatan mencapai 50–150 Mbps. Teknologi ini digunakan antara lain oleh Starlink dan layanan LEO terbaru Telkomsat.
Kedua adalah satelit geostasioner (GEO) yang memiliki jangkauan sangat luas dengan kapasitas besar. Teknologi ini digunakan oleh SATRIA, Nusantara Lima (N5), dan Kacific untuk melayani sekolah, fasilitas kesehatan, serta instansi pemerintah.
Dalam penjelasannya mengenai teknologi satelit, Dedy Irvan menyebut, “Karena melalui satelit jadi tidak dibutuhkan kabel di daratan. Ini membuat koneksi internet via satelit bisa menjangkau hampir semua lokasi.”
Perbandingan Teknologi Konektivitas
| Teknologi | Latensi | Kecepatan | Cakupan |
|---|
| Satelit LEO | 20–40 ms | 50–150 Mbps | Global |
| Satelit GEO | 500–700 ms | 1–50 Mbps | Sangat luas |
| Fiber Optik | 5–20 ms | 100 Mbps–10 Gbps | Jalur kabel |
| Seluler 4G/5G | 30–50 ms | 10–100 Mbps | Area BTS |
SATRIA dan Nusantara Lima Perkuat Konektivitas Nasional
Selain layanan komersial, pemerintah juga memperkuat konektivitas melalui SATRIA 1, satelit multifungsi yang digunakan untuk mendukung layanan pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan.
BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut sektor pendidikan menjadi penerima manfaat terbesar layanan SATRIA 1 sepanjang 2026.
Sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi menjadi kelompok yang paling banyak memanfaatkan kapasitas satelit tersebut untuk mendukung pembelajaran dan administrasi pendidikan.
Di sisi lain, Satelit Nusantara Lima (N5) yang mulai beroperasi pada 11 Desember 2024 menambah kapasitas konektivitas nasional dengan cakupan yang menjangkau seluruh Indonesia.
Ketika Internet Menjadi Layanan Dasar
Perkembangan internet satelit menunjukkan bahwa akses digital tidak lagi hanya bergantung pada pembangunan kabel atau menara telekomunikasi.
Layanan satelit kini menjadi bagian penting dalam upaya pemerataan konektivitas, terutama bagi wilayah yang secara geografis sulit dijangkau.
UBIQU menyatakan bahwa layanan internet satelit telah tersebar di seluruh Indonesia dan menjadi solusi bagi daerah susah sinyal maupun kawasan 3T.
“UBIQU telah terpasang dan tersebar di seluruh Indonesia, memberikan solusi akses Internet untuk daerah susah sinyal termasuk juga daerah 3T,” tulis perusahaan tersebut.
Seiring hadirnya layanan seperti SATRIA, Nusantara Lima, UBIQU, Kacific, Starlink, dan MangoStar, akses internet di wilayah terpencil semakin terbuka. Kehadiran teknologi satelit memungkinkan sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, pelaku usaha, hingga masyarakat di pelosok memperoleh konektivitas yang sebelumnya sulit didapatkan.
