Ini Hasil Workshop dan Dialog Lintas Agama Sulteng

oleh
Suasana pasca penandatanganan rekomendasi yang dilahirkan dari workshop peningkatan wawasan multicultural dan dialog lintas agama se-Sulteng di salah satu hotel di Kota Palu, pekan lalu. (FOTO: IST)

PALU – Workshop Peningkatan Wawasan Multikultural dan Dialog Lintas Agama se Sulteng, yang dilaksanakan Kelompok Penyuluh (Pokjaluh) Lintas Agama Kementerian Agama (Kemenag) Kota Palu yang dilaksanakan di Kota Palu, tanggal 11 sampai 12 April pecan kemarin, melahirkan lima rekomendasi.

Lima isi rekomendasi tersebut, yakni dalam setiap pertemuan lintas agama diharapkan ketika salam pembuka menggunakan salam agama sesuai yang hadir saja. Mengimbau ke semua penyuluh lintas agama se-Sulteng untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial secara bersama. Mengajak kepada penyuluh lintas agama se-Sulteng untuk senantiasa menjalin silaturrahmi dengan baik bersama tokoh sentral lintas agama.

Kemudian mengimbau kepada penyuluh lintas agama untuk selalu menjadi penyejuk dalam menebarkan kedamaian di kalangan umat beragama. Serta mengimbau kepada semua penyuluh untuk tidak mudah terpancing dengan berita yang sifatnya provokatif dan merusak hubungan baik dikalangan umat beragama.

Selain itu juga, seluruh tokoh lintas agama juga mengikrarkan pernyataan sikap untuk tebarkan kedamaian.

Isi pernyataan sikap tersebut yakni bertekad menjaga kerukunan umat beragama dengan mengedepankan musyawarah dan mufakat demi menjaga situasi wilayah Sulteng agar tetap Kondusif. Menjunjung tinggi toleransi keragaman antar umat beragama serta Bhineka Tunggal Ika untuk mewujudkan Kedamaian bagi seluruh masyarakat Sulteng. Mendukung setiap kebijakan dan usaha Kemenag serta aparat penegak hukum dalam rangka memberantas kejahatan di Sulteng.

Kemudian menolak berkembangnya faham radikalisme serta faham lain yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 yang dapat mengganggu stabilitas NKRI. Menolak upaya baik perorangan maupun kelompok dengan sengaja memecah kerukunan umat beragama untuk kepentingan politik praktis. Bersedia menjadi agen perdamaian demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang berwawasan multikultural di Sulteng. Bersedia menangkal timbulnya pemicu konflik yang mengarah pada Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA).

Kepala Kemenag Kota Palu, H. Ma’sum Rumi berharap agar isi kesepakatan itu dapat dikawal dengan baik dan memberikan pemahaman di tengah masyarakat.

“Peran aktif seluruh tokoh agama beserta elemen masyarakat harus mampu melakukan deteksi dini munculnya konflik. Semoga melalui dialog ini kita bisa terus memupuk dan menjaga kerukunan antar umat beragama di Sulteng yang kita cintai ini,” pesan Ma’sum.

Ketua Pokjaluh  Lintas Agama, Kemenag Kota Palu, Zulfiah mengatakan, kegiatan tersebut bermaksud untuk membentuk individu yang bisa menjadi penggerak dalam melakukan perdamaian bagi semua kalangan masyarakat, dengan tujuan untuk memperluas wawasan para peserta menyangkut kebijakan dan strategi yang dilakukan oleh pemerintah dalam membina dan memelihara kerukunan umat beragama.

“Mendorong partisipasi masyarakat untuk bisa jadi penggerak dalam pelayanan perdamain bagi  semua serta mendukung upaya pemerintah dalam mewujdkan masyarakat yang damai,” urainya.

Kegiatan yang mengangkat tema “Tebarkan Kedamaian melalui Peningkatan Wawasan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal  untuk Mewujudkan Masyarakat yang Harmonis” itu dihadiri 90 peserta yang merupakan penyuluh agama dan perwakilan tokoh agama se Sulteng, dan menghadirkan empat narasumber, yakni KTU Kanwil Kemenag Sulteng H. Kiflin Padjala, Guru Besar IAIN Palu Prof. Dr. H. Zainal Abidin, Dosen Untad Dr. Christian Tindjabate, dan PHDI Sulteng, drg. Dewa Nyoman Doni Afriadi. (YAMIN)