In Memoriam Theo Tumakaka, Tokoh Pendiri Sulteng Itu Telah Berpulang

oleh -
Theo Tumakaka semasa hidup. (FOTO: media.alkhairaat.id/Jamrin AB)

Proses pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 1960-an, tidak lepas dari nama sosok ini. Theo Tumakaka (85 tahun), ia adalah salah satu tokoh penting yang bergerak di Jawa dalam memperjuangkan berdirinya provinsi ini.

Pria berpostur jangkung ini akrab disapa Pak Theo, dan menyingkat namanya T. Tumakaka. Semasa menjadi mahasiswa, ia termasuk salah satu tokoh penting yang memperjuangkan berdirinya Provinsi Sulawesi Tengah.

Menggalang para mahasiswa asal Sulteng yang berada di Jawa, bahkan kelak ketika perjuangannya tercapai, ia menjadi salah satu di antara 21 anggota DPRD Provinsi Sulteng pertama. Ia menjalani perannya sebagai legislator sejak tahun 1964 sampai 1970. Sejak itu pula, ia aktif dalam berpolitik dengan bergabung di Patai Nasional Indonesia (PNI) Sulteng sekaligus menjadi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Sekretariat Gubernur Sulteng.

Sang politisi senior itu, baru saja tutup usia tepat di Hari Sabtu, tanggal 11 Juni 2022 dan dimkamkan di Palu, Senin hari ini.

Kepergiannya banyak meninggalkan kenangan. Ia banyak merasakan bagaimana pahit getirnya pembangunan, pasca terbentuknya Provinsi Sulteng.

Semas hidunya, beberapa kali media ini mewawancarai Theo Tumakaka tentang perjuangan menuju lahirnya daerah otonom Sulteng. Menurutnya, pembentukan Provinsi Sulteng membutuhkan perjuangan cukup panjang.

Baginya, mahasiswa memiliki peran cukup penting, walaupun mereka berada di luar wilayah Sulteng ketika itu, di antaranya melakukan musyawarah besar bersama mahasiswa se-Jawa dan Makassar yang diadakan di Jakarta 1960. Di antaranya yang menggagas dan hadir dalam musyawarah besar itu adalah Rusdy Toana dari Yogyakarta, T. Tumakaka dari Malang, Abdul Azis Lamadjido dari Makassar, Yahya Ponulele dari Bogor dan masih banyak nama lainnya.

“Kami bersepakat waktu itu, supaya Sulteng sekarang ini juga (tahun 1960) dibentuk, karena kelihatannya waktu itu meskipun daerah ini masuk Provinsi Sulawesi Utara Tengah, tapi dari segi pembangunan masih tertinggal dan hampir seluruh personel di kantor gubernur dari utara (Manado),” katanya, ketika diwawancara awak media ini, semasa hidupnya.

Padahal, kata dia, ketika itu Sulteng sudah memiliki sumber daya manusia dan sumber alam yang cukup potensial.

Sebagai pensiunan PNS, Theo memiliki jabatan terakhir sebagai Pembantu Bupati Poso di Kolonodale. Ia juga cukup lama bertugas di Kantror Gubernur Sulteng. Ketika AM Tambunan menjadi Gubernur Sulteng kala itu, T. Tumakaka diangkat menjadi kepala protokol selama 15 tahun lamanya.

Kurang lebih 24 tahun ia mengabdi, sejak 1968 yang saat itu dalam statusnya sebagai anggota DPRD Provinsi Sulteng dan terakhir pensiun PNS tahun 1992.

Putra Tanah Mori, kelahiran  Kolonodale, Kabupaten Morowali, 23 Januari 1937 ini menamatkan pendidikan SD di Kolonodale, SMP di Poso, SMA di Gorontalo, kemudian kuliah di PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) tahun 1955 di Tondano.

Ketika meletus pemberontakan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di tahun 1957, ia memilih hijrah dan melanjutkan studi ke IKIP Malang hingga 1962.

Di Malang, itulah T. Tumakaka menjadi aktivis pergerakan mahasiswa, sebagai Sekretaris GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Cabang Malang (1960-1962). Waktu itu, di antara anggotanya yaitu Moerdinono yang kemudian menjadi Sekretaris Kabinet di masa Orde Baru.

Selama di kota itu juga, ia menjadi salah satu tokoh pergerakan perjuanghan Pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah melalui kesatuan para mahasiswa dan menjadi Pengurus Badan Koordinasi Mahasiswa Pelajar Sulawesi Tengah di Jakarta (1960-1964) merangkap Ketua Presidium Musyawarah Ampera Mahasiswa Pelajar Sulawesi Utara Tengah se-Jawa Timur di Surabaya (1961-1963) .

Theo Tumakaka meninggalkan seorang istri, Nelly Marunduh, empat orang anak dan beberapa cucu.

Dari 21 anggota DPRD-GR saat pertama kali Provinsi Sulteng berdiri, 20 sejawatnya telah mendahului. Tinggal seorang yang masih hidup hingga saat ini, Tiolemba.

Penulis: Jamrin AB
Editor : Rifay