JAKARTA, MAL — Gelombang demonstrasi yang melanda Prancis dalam beberapa pekan terakhir dilaporkan meluas ke sejumlah negara Eropa. Aksi tersebut melibatkan pelajar, mahasiswa, hingga serikat pekerja yang menyuarakan beragam tuntutan, mulai dari perbaikan sistem pendidikan hingga penolakan terhadap kenaikan biaya hidup.

Di Prancis, demonstrasi bermula dari aksi pelajar yang menuntut perbaikan sistem pendidikan. Ratusan siswa memblokir akses masuk ke sekolah di sejumlah daerah sebelum aksi meluas ke kota-kota besar.

Demonstrasi berlangsung selama berhari-hari. Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko, disebut turut turun tangan untuk melindungi pelajar dari tindakan keras petugas.

Seiring waktu, aksi tersebut melibatkan kelompok masyarakat lain, termasuk serikat pekerja yang memprotes kenaikan biaya hidup.

Gelombang protes serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah negara Eropa lainnya. Berikut negara-negara yang disebut mengalami demonstrasi massal.

Prancis

Demonstrasi pelajar yang berlangsung lebih dari tiga pekan memicu aksi lanjutan di berbagai wilayah Prancis.

Sejumlah seruan yang beredar di media sosial pada Jumat (16/10) mengajak mahasiswa, serikat pekerja, serta tokoh gerakan gilets jaunes atau rompi kuning untuk bergabung dalam demonstrasi pada Sabtu.

Aktivis gerakan rompi kuning, Jérôme Rodrigues, mengatakan aksi tersebut bertujuan menyuarakan kepentingan masyarakat yang menginginkan kehidupan layak tanpa harus terus-menerus mengkhawatirkan pengeluaran sehari-hari.

“Kemarahan tak mengenal partai politik, kulkas kosong tak mengenal partai politik,” kata Rodrigues, dikutip BBC.

Namun, demonstrasi pada Sabtu malam dilaporkan diwarnai kerusuhan. Sejumlah orang menjarah toko dan membakar barang ketika aksi mulai mereda. Polisi merespons dengan menembakkan gas air mata.

CEO jaringan ritel Carrefour juga melaporkan sekitar 1.500 toko di seluruh Prancis terdampak kekerasan, menurut CNN.

Sejumlah bangunan di Paris dan kota lain, termasuk Limoges, dilaporkan terbakar. Di antara bangunan yang terdampak disebut terdapat menara balai kota bersejarah yang runtuh akibat kebakaran.

Di sejumlah lokasi, kelompok demonstran membakar benda-benda di jalan dan kendaraan. Kawasan Place de la République di Paris juga disebut menjadi salah satu lokasi kerusuhan.

Di Lyon, kantor pariwisata yang memiliki nilai sejarah dilaporkan terbakar.

Italia

Demonstrasi juga berlangsung di Italia pada Sabtu. Warga di sejumlah wilayah, termasuk Roma dan Milan, memprotes kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar.

Di Roma, serikat pekerja CGIL menggelar aksi untuk menentang kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni.

Di Bologna, sekelompok orang yang menutupi wajah terlibat bentrokan dengan polisi. Mereka dilaporkan melempar batu dan botol, sedangkan petugas merespons menggunakan tongkat dan gas air mata.

Di Turin, demonstran meneriakkan slogan yang menyasar partai berhaluan kanan jauh yang dipimpin mantan jenderal Roberto Vannacci.

Sementara itu, demonstrasi menentang krisis biaya hidup di Milan berujung bentrokan di Piazza del Duomo. Sejumlah demonstran yang mengenakan penutup wajah dilaporkan melemparkan alat pemadam kebakaran.

Albania

Di Tirana, ibu kota Albania, demonstrasi berlangsung selama beberapa hari. Mahasiswa menuntut perbaikan sistem pendidikan, biaya pendidikan yang lebih terjangkau, serta perluasan kesempatan kerja.

Kelompok lain kemudian bergabung dengan membawa tuntutan terkait pemberantasan korupsi dan pengurangan ketimpangan.

Aksi tersebut disebut berlangsung bersamaan dengan gerakan protes terhadap rencana pembangunan resor mewah yang dikaitkan dengan Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Salah satu aksi di Tirana dilaporkan berujung kekerasan. Sekelompok orang menyerang gedung pemerintahan, bank, dan infrastruktur sipil. Polisi merespons menggunakan gas air mata dan meriam air serta memasang penghalang beton.

Yunani

Di Yunani, mahasiswa mendirikan tenda di Lapangan Syntagma, Athena, pada 13 Oktober. Lokasi tersebut berada di dekat gedung parlemen.

Mereka memprotes kenaikan biaya sewa tempat tinggal mahasiswa dan terbatasnya ketersediaan hunian.

Para demonstran menuntut penurunan harga sewa, penambahan perumahan mahasiswa, peningkatan subsidi, serta pendanaan pendidikan yang lebih baik.

Aksi duduk di sekolah juga dilaporkan meningkat di tengah persoalan kekurangan guru.

Spanyol

Di Spanyol, guru dan siswa menggelar demonstrasi bertajuk Marea Verde atau Gelombang Hijau pada pertengahan Oktober.

Mereka menuntut peningkatan pendanaan publik untuk pendidikan, kenaikan gaji, pengurangan jam mengajar, serta penambahan tenaga kependidikan dengan keahlian khusus.

Menurut Daily Sabah, para pengkritik pemerintah daerah menilai kebijakan yang diterapkan berpotensi mendorong privatisasi pendidikan dan mengorbankan sekolah negeri.

Belgia

Di Belgia, ratusan orang, sebagian besar anak muda, turun ke jalan di Brussel pada Sabtu. Sebagian demonstran terlibat bentrokan dengan polisi di tengah gelombang protes yang juga dipengaruhi situasi di negara tetangga, Prancis.

Gerakan pelajar tersebut memprotes kenaikan biaya pendidikan dan sejumlah reformasi yang dikhawatirkan akan membatasi akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi.

Sejumlah demonstran mengenakan penutup wajah dan meneriakkan slogan-slogan antifasis.

Seorang saksi mata Reuters menyebut polisi menggunakan gas air mata dan meriam air. Demonstran juga dilaporkan membalikkan sebuah mobil.

Menteri Dalam Negeri Belgia, Bernard Quintin, menyatakan melalui unggahan di X bahwa situasi di Brussel telah melampaui aksi protes biasa.

Ia menegaskan bahwa pemerintah akan menggunakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan ketertiban dan menghadapi para perusuh.**