MILAN, MAL – Nama Franco Baresi kembali menjadi perbincangan setelah legenda AC Milan itu meninggal dunia pada usia 66 tahun. Selain prestasi dan kepemimpinannya, Baresi juga dikenang karena gaya bertahan yang dianggap berbeda dengan bek modern yang mendominasi sepak bola saat ini.
Baresi merupakan salah satu pemain yang identik dengan peran libero atau sweeper, posisi yang berfungsi sebagai penyapu terakhir di belakang garis pertahanan. Namun, peran yang dijalankannya jauh melampaui tugas tersebut.
Di era 1980-an hingga 1990-an, Baresi dikenal sebagai pemain yang mengatur organisasi pertahanan, mengendalikan garis belakang, membaca pergerakan lawan, serta menentukan kapan tim harus melakukan jebakan offside atau tekanan terhadap lawan.
Peran itu membuatnya sering disebut sebagai “otak” pertahanan AC Milan. Keunggulan utama Baresi bukan terletak pada fisik atau kecepatan, melainkan kemampuan membaca permainan, antisipasi, positioning, dan kepemimpinan di lapangan.
Dengan tinggi badan 176 sentimeter, Baresi justru membuktikan bahwa kecerdasan taktis dapat menjadi faktor utama bagi seorang bek untuk tampil di level tertinggi.
Sementara itu, tuntutan terhadap bek tengah modern mengalami perubahan seiring perkembangan taktik sepak bola. Bek saat ini tidak hanya ditugaskan menghentikan serangan lawan, tetapi juga berperan dalam membangun serangan dari lini belakang.
Peran tersebut melahirkan konsep ball-playing center back, yakni bek yang mampu menguasai bola, mendistribusikan umpan secara progresif, dan terlibat dalam proses pembangunan serangan.
“Di sepak bola masa kini, keberadaan ball-playing center back adalah harga mati.”
Selain kemampuan mengolah bola, bek modern juga dituntut memiliki kecepatan, kelincahan, dan kekuatan fisik yang lebih tinggi karena permainan berlangsung lebih cepat dan mengandalkan pressing intensif.
“Sekarang, bek tengah punya dua peran: menghalau serangan dan menciptakan peluang. Tugas kreatif yang dulunya milik gelandang, kini juga dibebankan ke punggawa lini belakang.”
Perubahan tersebut juga dipengaruhi evolusi taktik dan aturan permainan. Formasi modern seperti 4-3-3, 3-4-3, atau 3-5-2 menuntut garis pertahanan bermain lebih tinggi dan lebih aktif dalam penguasaan bola.
Kondisi itu membuat posisi libero klasik semakin jarang digunakan.
“Di sepak bola modern, libero menjadi peran yang usang. Perkembangan aturan dan penggunaan tiga penyerang menjadi dua alasan ditinggalkannya peran libero.”
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai peran libero tidak benar-benar hilang. Fungsi tersebut dianggap berevolusi menjadi bek tengah modern yang tetap memiliki kemampuan membaca permainan dan distribusi bola.
“Walaupun begitu, ada argumen yang mengatakan jika peran libero tidak punah, melainkan berevolusi menjadi ball playing defender yang memiliki sejumlah penyesuaian dalam perannya.”
Warisan Baresi terlihat pada sejumlah bek elite masa kini yang menggabungkan kemampuan bertahan dengan distribusi bola. Nama-nama seperti Virgil van Dijk, Sergio Ramos, Rúben Dias, Gerard Piqué, hingga Leonardo Bonucci kerap disebut sebagai representasi bek modern yang memiliki unsur permainan serupa dengan libero.
Perbedaannya, jika Baresi lebih mengandalkan antisipasi, positioning, dan kepemimpinan, bek modern dituntut menggabungkan kecerdasan taktis dengan kemampuan fisik dan kontribusi dalam menyerang.
“While Baresi’s style was rooted in anticipation, positioning, and leadership, modern defenders emphasize athleticism and versatility.”
Sepanjang kariernya, Baresi membantu AC Milan meraih 17 gelar, termasuk enam gelar Serie A dan tiga trofi Liga Champions. Dalam rentang tujuh tahun, ia juga memimpin Milan mencapai lima final Eropa dengan tiga di antaranya berakhir sebagai juara.
Warisan terbesar Baresi bukan hanya trofi, tetapi standar mengenai bagaimana seorang bek dapat menjadi pemimpin taktis tim. Prinsip tersebut tetap bertahan hingga sekarang, meski peran dan tuntutan terhadap pemain belakang terus berkembang mengikuti perubahan sepak bola modern. ***
