Coklit Salah Satu Cara Memutakhirkan Data Pemilih

oleh

OLEH: Idrus*

Rangkaian Pemutakhiran Data Pemilih dimulai dari pracoklit, coklit dan pascacoklit.

PEMUTAKHIRAN PRACOKLIT

Kegiatan pracoklit meliputi pemetaan data pemilih yakni data pemilih hasil sinkronisasi yang dalam bentuk utuh belum terbagi dalam TPS-TPS. Maknanya bahwa jumlah TPS setiap pemilu dan pilkada/pemilihan berbeda jumlah pemilihnya, sehingga dibutuhkan pemetaan pemilih untuk didistribusikan menjadi Data Pemilih perTPS.

Regulasi pemilu 2019, maksimal jumlah pemilih 300 orang per TP. Pada pilkada/pemilihan sebelum Covid-19 sebagaimana UU 10 Tahun 2016 maksimal 800 orang per TPS, selanjutnya pilkada/pemilihan 2020 di masa Covid-19 menjadi maksimal 500 pemilih per TPS sesuai Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur , Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota Serentak Lanjutan Dalam Kondisi Bencana Nonalam Corona Virus Disease (Covid-19).

Pemetaan dan percermatan data pemilih menjadi data pemilih perTPS banyak dilakukan dengan metode analisis data (aktifitas di atas meja) dengan beberapa indikator, misalnya tidak memisahkan pemilih dalam satu keluarga, mencermati Nomor Kartu Keluarga.

Indikator lain, saling mendekatkan akses pemilih dengan cara melihat alamat jalan, alamat RT/RW.

Indikator pengetahuan kondisi geografis. Cara ini dilakukan KPU melalui bantuan PPK dan PPS. Hal ini dikarenakan pengetahuan dan akses PPK dan PPS akan wilayah umumnya lebih baik, kedekatan mereka untuk berkomunikasi kepada aktor kunci seperti kelurahan, RT/RW dan tokoh penting di wilayah kelurahan. Pendekat