Bijak Menyikapi Urusan Khilafiah

oleh -
Ilustrasi (Youtube Islam TV)

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali-Imran (3):103)

Mengedepankan sikap egois hanyalah menghasilkan perpecahan atau permusuhan. Hubungan kedua hal itu sebenarnya bukanlah merupakan implikasi mutlak. Ketika ada perbedaan yang berujung saling memusuhi, maka bukan perbedaan itu biang keladinya.

Permusuhan yang sangat dibenci Islam itu timbul justru karena individu muslim itu tidak tepat menyikapi perbedaan yang ada.

Baru-baru ini, dunia maya sempat dihebohkan dengan perbedaan pendapat sejumlah da’i perihal musik.

Ada yang menyatakan musik dibolehkan, asalkan pada hal-hal yang bernuansa positif dan tidak membuat orang lalai pada ibadah. Sementara di sisi yang lain, ada yang menyatakan bahwa musik mutlak haram dalam Islam.

Fenomena perbedaan pendapat ini memicu banyak komentar di dunia maya. Sikap fanatik ke salah satu figur membuat umat saling menyalahkan, membenci, bahkan pada tingkat pengafiran pada pihak tertentu.

Kita seharusnya beraca kepada generasi terbaik umat Islam. Ya, hal ini penting dilakukan karena perkara perbedaan pendapat (ikhtilaf) sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW hidup.

Banyak sudah kisah nyata di kalangan sahabat saat itu yang bisa kita teladani. Meskipun berbeda persepsi dalam menafsirkan sabda Rasulullah SAW bahkan firman Allah SWT, tak ada permusuhan dalam kamus kehidupan mereka.

Rasulullah SAW sendiri pun tak menyalahkan salah satu pihak jika ada yang memiliki beda pandangan dalam hal furu’iyyah (cabang).

Ini menjadi hal yang lumrah karena ternyata perbedaan tersebut masuk dalam kategori ta’addudu tanawwu’ (perbedaan yang bersifat variatif), bukan ta’addudu ta’arudh (perbedaan yang bersifat kontradiktif).

Sampai saat ini tak ada yang memungkiri bahwa tantangan Islam begitu banyak menghadang. Tantangan tersebut muncul dari dalam tubuh Islam sendiri (internal) dan luar Islam (eksternal).

Oleh karenanya, sikap yang sebaiknya kita ambil ialah tidak memperkeruh keadaan ini. Justru aksi nyata menyatukan kaum Muslimin dalam bingkai perjuangan fisabilillah mutlak harus dilakukan. Dan ‘menyatukan’ dalam hal ini memang tak harus dalam satu wadah (wajihah).

Kita diperbolehkan bergabung dengan berbagai wajihah asalkan tidak menjadikan ukhuwah islamiyah luntur tak berbekas. Perbedaan fokus pergerakan dan metode masing-masing wajihah justru bisa menghasilkan suatu kerjasama harmonis yang berbuah manis.

Sekarang singkirkan segenap perbedaan furu’iyyah yang ada di kalangan kaum internal kita. Tak bijak rasanya jika kita hanya berkutat dalam membahas perbedaan yang ada. Satukan langkah dalam satu payung Islam yang satu menuju ridha Ilahi! Wallahu a’lam

RIFAY (EDITOR MEDIA ALKHAIRAAT)