Di media sosial, sesekali muncul pernyataan yang terdengar tegas: “Obesitas atau orang gemuk dibenci Nabi.” Kalimat itu mudah menarik perhatian, tetapi benarkah demikian?
Jika menelusuri Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih, kita tidak akan menemukan pernyataan Nabi Muhammad ﷺ yang secara langsung mengatakan bahwa beliau membenci orang yang mengalami obesitas. Yang justru banyak ditemukan adalah ajaran agar manusia tidak berlebihan dalam makan, menjaga kesehatan, dan menjadikan tubuh sebagai amanah yang harus dipelihara.
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat sederhana namun mendalam:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Ayat ini tidak berbicara tentang angka timbangan, ukuran lingkar perut, atau indeks massa tubuh. Yang menjadi sorotan adalah perilaku israf—melampaui batas dalam menikmati nikmat Allah.
Pesan serupa muncul dalam hadis Nabi ﷺ yang menyebutkan bahwa tidak ada wadah yang lebih buruk dipenuhi manusia selain perutnya. Nabi kemudian mengajarkan prinsip makan secukupnya, bahkan jika harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.
Artinya, Islam mengatur pola hidup, bukan menghakimi bentuk tubuh.
Antara Obesitas dan Gaya Hidup
Dalam dunia medis modern, obesitas merupakan kondisi kesehatan yang kompleks. Penyebabnya tidak hanya karena makan berlebihan. Faktor genetik, gangguan hormon, efek samping obat, kurang tidur, stres berkepanjangan, hingga lingkungan juga berperan besar.
Karena itu, tidak adil jika setiap orang yang mengalami obesitas langsung dicap malas, rakus, apalagi dianggap kurang taat beragama.
Islam sendiri sangat berhati-hati dalam memberikan penilaian terhadap seseorang. Yang dinilai pertama kali adalah amal dan perilakunya, bukan penampilannya.
Hadis yang Sering Disalahpahami
Sebagian orang mengutip hadis yang menggambarkan suatu zaman ketika “kegemukan akan tampak” pada manusia. Hadis ini kerap dijadikan dalil bahwa Nabi mengecam orang gemuk.
Padahal para ulama menjelaskan bahwa konteks hadis tersebut bukan sedang membahas berat badan. Hadis itu menggambarkan masyarakat yang tenggelam dalam kemewahan, kenikmatan dunia, dan gaya hidup berlebihan. Kegemukan disebut sebagai salah satu tanda budaya konsumtif yang berkembang, bukan sebagai objek celaan itu sendiri.
Dengan kata lain, yang dikritik adalah pola hidupnya, bukan bentuk fisiknya.
Islam Mengajarkan Tubuh yang Kuat
Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun keduanya memiliki kebaikan.
Kekuatan dalam hadis ini memang mencakup iman, tetapi para ulama juga memahaminya sebagai dorongan untuk menjaga kesehatan fisik. Tubuh yang sehat membuat seseorang lebih mampu beribadah, bekerja, menolong sesama, dan menjalankan amanah kehidupan.
Karena itu, menjaga berat badan ideal dapat dipandang sebagai bagian dari ikhtiar menjaga nikmat kesehatan, bukan semata-mata memenuhi standar penampilan.
Menjauhi Body Shaming
Di sisi lain, masyarakat juga perlu berhenti menggunakan dalil agama untuk melakukan body shaming. Mengejek orang karena tubuhnya, baik terlalu gemuk maupun terlalu kurus, bertentangan dengan akhlak Islam.
Bisa jadi seseorang tengah berjuang melawan penyakit yang tidak terlihat. Bisa jadi ia sedang menjalani terapi yang menyebabkan kenaikan berat badan. Bisa pula ia memiliki faktor genetik yang tidak dimiliki orang lain.
Islam mengajarkan empati sebelum menghakimi.
Menjaga Amanah, Bukan Mengejar Kesempurnaan
Pada akhirnya, Islam tidak mengajarkan kultus tubuh langsing, sebagaimana juga tidak membenarkan gaya hidup yang merusak kesehatan.
Yang diajarkan Nabi ﷺ adalah keseimbangan: makan secukupnya, bergerak, menjaga tubuh tetap kuat, serta mensyukuri nikmat kesehatan tanpa berlebihan.
Maka pertanyaan “Benarkah Nabi membenci obesitas?” lebih tepat dijawab: tidak. Yang ditolak oleh Islam adalah kerakusan, pemborosan, dan gaya hidup berlebihan yang dapat merusak diri. Adapun orang yang hidup dengan obesitas tetaplah manusia yang harus dihormati, dibantu, dan didukung untuk menjalani hidup yang lebih sehat tanpa stigma dan tanpa celaan.**
