BEM Untad Dinonaktifkan Sementara

oleh
Rektor Untad, Muhammad Basir

PALU – Pihak Rektorat Universitas Tadulako (Untad) menutup sementara kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) karena dinilai telah melakukan perbuatan yang menyimpang.

Penyimpangan yang dimaksud adalah melakukan aksi demonstrasi tanggal 2 Mei 2017 lalu, tanpa membawa bendera BEM.

“Kami ambil ketegasan sementara waktu, karena yang dilakukan itu sudah menyimpang. Kami bisa buktikan bahwa itu ditunggangi karena tidak ada bendera Untad,” kata Rektor Untad, Prof Muhammad Basir, Selasa (06/06).

Waktu minta izin, kata dia, mahasiswa juga bukan memakai nama BEM, tapi atas nama pergerakan.

“Oleh karena itu, mungkin pihak security mengambil langkah tegas dengan tujuan untuk mencegah jangan sampai merembes sehingga ada benturan diantara kita,” terangnya.

Dia memastikan, dari total sekitar 35 ribu mahasiswa Untad, sekitar 1000-an lebih saja yang dimanfaatkan pihak-pihak tertentu. Untuk mencegah agar tidak melebar, pihaknya sudah melakukan identifikasi terhadap gerakan-gerakan yang bisa mengarah pada perpecahan atau bisa menjadi sumbu-sumbu di luar.

“Makanya saat ini kita melakukan pemantauan itu. Sebenarnya kita tidak membenci mereka. Anak-anak ini kan masih labil dan selalu ingin cari identitas. Makanya kita selalu ingatkan bahwa hal seperti itu berbahaya, kita lihat daerah lain hancur karena gerakan-gerakan yang tidak menerima kebhinekaan itu. Insya Allah Tadulako akan mengambil bagian,” tekannya.

Menurutnya, tindakan itu sejalan dengan instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) kepada seluruh Rektor agar bisa mengendalikan kampus dari ajaran-ajaran yang tidak membangun dimensi toleransi kebersamaan, keragaman dan kebhinekaan. Semua perguruan tinggi, termasuk Untad, harus mengawal kampusnya dari hal-hal yang berdimensi radikalisme.

“Itulah sebabnya kemarin waktu diundang upacara di Kemendagri agar semuai Rektor benar-benar bisa mengendalikan kampusnya. Kira-kira itu yang beliau tekankan,” katanya.

Rektor juga menjelaskan mengapa hari lahir Pancasila dijadikan hari libur nasional dan bukan hari kesaktiannya lagi. Hal itu karena ada pertimbangan-pertimbangan yang sangat strategis, supaya pancasila benar-benar ada di dalam hati masing-masing.

Dia menegaskan, antisipasi masuknya paham radikalisme harus menjadi tanggung jawab bersama. (YAMIN)

Donasi Bencana Sulbar