PALU, MAL – Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Sulawesi Tengah menggelar diskusi roundtable membahas peran NU sebagai kekuatan sipil.
Forum ini diselenggarakan menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 yang akan berlangsung di Jombang, Jawa Timur, Agustus mendatang.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Khamami, hadir sebagai pembicara utama. Ia juga merupakan Dewan Pakar Pengurus Besar IKA PMII.
Diskusi bertema “NU sebagai Kekuatan Sipil untuk Membangun Peradaban” ini membahas kontribusi strategis NU dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan.
Prof. Khamami menyampaikan bahwa Indonesia menghadapi beragam persoalan, termasuk polarisasi politik, intoleransi, krisis lingkungan, dan ketimpangan sosial.
Menurutnya, kondisi ini membutuhkan kekuatan masyarakat sipil yang mampu mempersatukan bangsa.
“NU memiliki posisi strategis sebagai organisasi masyarakat sipil terbesar di Indonesia,” kata Prof. Khamami. “Perannya tidak hanya di bidang keagamaan, tetapi juga sebagai pilar penting dalam pembangunan peradaban.”
Ia menjelaskan bahwa NU telah berkontribusi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan memperkuat demokrasi.
Organisasi ini juga mengembangkan nilai-nilai Islam moderat seperti wasathiyah, tasamuh, tawazun, dan i’tidal. Nilai-nilai ini menjadi fondasi penting membangun masyarakat yang damai, inklusif, dan berkeadaban.
Menurut Prof. Khamami, kemajuan peradaban tidak hanya diukur dari aspek ekonomi dan teknologi, melainkan juga kualitas moral, pendidikan, dan kemampuan masyarakat menghargai keberagaman.
Dengan jaringan pesantren, lembaga pendidikan, dan aktivitas sosial, NU berperan mencetak sumber daya manusia berkarakter dan berakhlak.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan peran NU dalam merespons isu kontemporer seperti transformasi digital, kecerdasan buatan, perubahan iklim, ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi umat.
“Kekuatan sipil yang dimiliki NU harus menjadi motor penggerak inovasi sosial dan kebijakan publik yang berpihak pada kemaslahatan bersama,” kata Prof. Khamami.
Pengalaman sejarah panjang dan basis masyarakat yang kuat memberikan NU modal sosial besar sebagai lokomotif pembangunan peradaban Indonesia.
Peran NU sebagai kekuatan sipil akan optimal jika organisasi menjaga independensi moral, memperkuat tradisi keilmuan, dan berkolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta elemen masyarakat lain.
Sekretaris PW IKA PMII Sulawesi Tengah, Dr Sahran Raden, menjelaskan, diskusi ini bertujuan membangun literasi gagasan menjelang Muktamar NU ke-35.
Menurutnya, diskusi ini juga menjadi sarana strategis dalam menghimpun gagasan dan aspirasi dari akademisi, cendekiawan, alumni PMII, serta warga NU guna memperkuat peran NU sebagai kekuatan masyarakat sipil yang mampu menjawab tantangan di tingkat lokal, nasional, maupun global., ***

