PALU — Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, pemahaman masyarakat terhadap akar nilai budaya lokal semakin penting. Hal itu mengemuka dalam Podcast Resonara melalui program Ngaji Budaya yang menghadirkan Dr. Hidayat, M.Si, sebagai pemateri utama, Senin (09/02).
Dalam diskusi tersebut, Hidayat meluruskan kekeliruan yang kerap terjadi dalam memahami istilah budaya, adat, adat istiadat, dan tradisi. Keempat istilah ini sering digunakan secara bergantian, padahal memiliki makna dan fungsi yang berbeda dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Di hampir semua literatur yang kita baca, selalu muncul istilah budaya, adat, adat istiadat, dan tradisi. Tapi sering kali kita mencampuradukkannya,” ujar Hidayat.
Ia menjelaskan, budaya merupakan keseluruhan ide, gagasan, serta tindakan manusia yang melahirkan karya. Di balik budaya itu, terdapat nilai-nilai dasar yang menjadi pijakan hidup bersama. Nilai tersebut kemudian terwujud dalam adat sebagai sistem aturan sosial, dan adat istiadat sebagai praktik konkret dalam kehidupan sehari-hari. Sementara tradisi adalah kebiasaan yang diwariskan lintas generasi.
Kajian mengenai adat ini, menurut Hidayat, berangkat dari realitas konflik sosial yang pernah memuncak di Kota Palu pada 2012. Konflik tersebut ironisnya terjadi di antara kelompok masyarakat yang masih berada dalam lingkup kekerabatan masyarakat Kaili sendiri.
“Padahal ini keluarga sendiri. Tapi konflik terus berulang. Itu berarti ada nilai dasar yang mulai hilang,” ungkap mantan Wali Kota Palu itu.
Masyarakat Kaili, lanjut Hidayat, sejatinya dikenal menjunjung tinggi nilai toleransi, kekeluargaan, dan gotong royong. Nilai-nilai ini menjadi fondasi harmoni sosial dan selaras dengan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa.
Lebih jauh, Hidayat menegaskan bahwa adat dan adat istiadat telah hidup jauh sebelum agama hadir secara formal. Adat mengatur hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam, sementara agama hadir sebagai penyempurna akhlak dan memberi dimensi ketuhanan yang lebih sistematis.
“Ketika kita menjalankan aturan-aturan adat, sejatinya itu juga bagian dari menjalankan perintah Tuhan,” katanya.
Di akhir pemaparannya, Hidayat menekankan pentingnya pendidikan sebagai sarana pewarisan nilai. Ia mendorong agar nilai-nilai adat dan adat istiadat masyarakat Kaili diperkenalkan sejak usia dini melalui pendidikan formal, agar tidak terputus oleh perubahan zaman.
Program Ngaji Budaya dalam Podcast Resonara diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus edukasi publik untuk merawat adat, adat istiadat, dan budaya sebagai fondasi harmoni sosial masyarakat Kaili.***

