BAHASA Kaili mungkin tidak sedang menghadapi ancaman terbesar di sekolah. Ancaman sesungguhnya justru terjadi di ruang keluarga.
Di banyak rumah di Sulawesi Tengah hari ini, ayah dan ibu yang fasih berbahasa Kaili justru berbicara kepada anak-anak mereka dengan bahasa Indonesia. Alasannya beragam. Ada yang ingin anak lebih siap masuk sekolah. Ada yang khawatir dianggap kampungan. Ada pula yang sekadar mengikuti kebiasaan zaman.
Tanpa disadari, keputusan kecil itu sedang memutus mata rantai yang telah bertahan ratusan tahun.
Bahasa tidak mati ketika kamusnya hilang. Bahasa mati ketika seorang ibu berhenti menimang anaknya dengan bahasa ibunya.
UNESCO menjadikan pewarisan bahasa antargenerasi sebagai indikator terpenting dalam menilai apakah suatu bahasa masih hidup atau sedang menuju kepunahan. Selama anak-anak tidak lagi memperoleh bahasa tersebut sebagai bahasa pertama di rumah, sebuah bahasa dapat dikategorikan berada dalam kondisi terancam, berapa pun jumlah penuturnya. (UNESCO Docs)
Inilah yang perlu menjadi alarm bagi masyarakat Kaili.
Hari ini kita masih melihat ribuan orang mampu berbahasa Kaili. Namun sebagian besar adalah orang dewasa. Jika anak-anak tidak lagi menggunakannya, maka sebenarnya bahasa itu sedang menua bersama para penuturnya.
Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, Bahasa Kaili mungkin masih terdengar di acara adat, pidato kebudayaan, atau seminar. Tetapi belum tentu terdengar ketika seorang ibu memanggil anaknya pulang bermain.
Padahal, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di dalam Bahasa Kaili tersimpan cara memandang alam, cara menghormati orang tua, nama-nama tumbuhan lokal, pengetahuan tentang musim, filosofi hidup, hingga humor yang sulit diterjemahkan ke bahasa lain. Ketika bahasa hilang, yang ikut hilang bukan hanya kosakata, melainkan seluruh cara sebuah masyarakat memahami dunianya. (UNESCO)
Ironisnya, banyak upaya pelestarian bahasa masih berpusat pada seminar, festival, lomba pidato, atau muatan lokal di sekolah.
Semuanya penting. Tetapi semuanya belum menyentuh akar persoalan.
Anak menghabiskan jauh lebih banyak waktu di rumah dibandingkan di sekolah. Bila Bahasa Kaili tidak hidup di meja makan, di ruang keluarga, di perjalanan menuju pasar, atau saat menjelang tidur, maka satu jam pelajaran muatan lokal setiap pekan tidak akan mampu menghidupkannya.
Penyelamatan bahasa harus dimulai dari rumah. Bayangkan bila selama sepuluh tahun ke depan ribuan keluarga Kaili membuat satu kesepakatan sederhana. Bahwa setiap pagi hingga anak berangkat sekolah, semua percakapan dilakukan dalam Bahasa Kaili. Atau setiap malam setelah Magrib hanya Bahasa Kaili yang digunakan. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu takut anak menjadi bingung.
Berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa anak mampu menguasai lebih dari satu bahasa sejak usia dini. Bahasa ibu tidak menghambat kemampuan berbahasa Indonesia, bahkan dapat memperkuat perkembangan kognitif dan identitas budaya apabila dikelola dengan baik. (UNESCO)
Lalu bagaimana memastikan Bahasa Kaili benar-benar bertahan setidaknya dalam sepuluh tahun mendatang?
Kuncinya bukan pada proyek besar, tetapi pada gerakan kecil yang dilakukan secara serempak.
Pertama, keluarga harus menjadi sekolah pertama Bahasa Kaili. Setiap keluarga menetapkan waktu khusus berbahasa Kaili setiap hari.
Kedua, anak harus memiliki alasan untuk menggunakan Bahasa Kaili. Bukan hanya kepada kakek dan nenek, tetapi juga dengan teman sebaya. Bahasa hanya hidup bila dipakai, bukan sekadar dipelajari.
Ketiga, Bahasa Kaili harus masuk ke dunia digital. Cerita anak, komik, podcast, video pendek, lagu, gim sederhana, hingga konten media sosial dalam Bahasa Kaili akan membuat bahasa ini hadir di ruang yang dihuni generasi muda.
Keempat, dokumentasi harus dipercepat. Cerita rakyat, peribahasa, doa, lagu, nama tumbuhan, istilah pertanian, hingga percakapan sehari-hari perlu direkam sekarang juga, ketika para penutur lanjut usia masih ada.
Kelima, kebanggaan harus dibangun. Anak tidak akan memakai bahasa yang membuatnya merasa rendah diri. Bahasa Kaili harus diposisikan sebagai identitas yang membanggakan, bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Banyak bahasa di dunia berhasil bangkit bukan karena pemerintah memiliki anggaran besar, melainkan karena keluarga memutuskan satu hal sederhana: anak-anak harus kembali mendengar bahasa ibu sejak lahir. Pengalaman berbagai komunitas bahasa menunjukkan bahwa kebangkitan selalu dimulai dari transmisi antargenerasi yang dipulihkan, kemudian diperkuat dengan pendidikan dan media. (The Guardian)
Mungkin kita masih memiliki waktu. Tetapi waktunya tidak panjang.
Jika generasi balita hari ini tumbuh tanpa Bahasa Kaili, maka sepuluh tahun lagi kita mungkin masih bisa menyelenggarakan Festival Bahasa Kaili.
Namun festival itu bisa jadi hanya menjadi perayaan atas sesuatu yang telah hilang dari rumah-rumah kita.
Bahasa diwariskan bukan oleh kurikulum. Bahasa diwariskan oleh seorang ibu yang memanggil anaknya, oleh seorang ayah yang bercerita sebelum tidur, dan oleh sebuah keluarga yang memilih untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
