ADA anggapan bahwa anak muda hari ini semakin jauh dari dunia menulis. Mereka dianggap lebih senang menonton video pendek, bermain gim, menggulir media sosial, atau mengonsumsi konten visual daripada duduk berlama-lama menulis.
Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.
Masalah yang sebenarnya mungkin bukan hilangnya minat menulis, melainkan berubahnya cara generasi muda berhubungan dengan tulisan.
Di sekolah, kemampuan menulis memang masih menjadi tantangan. Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa sebagian siswa mengalami kesulitan menuangkan gagasan, menemukan ide, mengembangkan cerita, hingga menyusun tulisan secara terstruktur. Salah satu penelitian terbaru tentang kemampuan menulis cerpen siswa bahkan menemukan bahwa tulisan siswa cenderung dangkal dan kurang berkembang karena minimnya stimulus dalam proses pembelajaran.
Persoalan literasi secara lebih luas juga masih menjadi pekerjaan besar. Dalam PISA 2022, skor membaca Indonesia berada pada angka 359, sementara rata-rata negara OECD mencapai 476. Hasil tersebut tidak berarti kemampuan menulis Indonesia dapat diukur langsung dari skor membaca, tetapi menunjukkan bahwa fondasi literasi yang diperlukan untuk menghasilkan tulisan yang kuat masih menghadapi persoalan.
Namun, di sinilah kita sering keliru membaca generasi muda.
Kita melihat mereka jarang menulis cerpen di buku tulis, lalu menyimpulkan mereka tidak suka menulis.
Padahal, mereka mungkin sedang menulis di tempat lain.
Mereka menulis caption. Menulis utas. Menulis cerita bersambung. Menulis pengalaman pribadi. Menulis ulasan. Menulis puisi pendek. Menulis catatan reflektif. Menulis cerita fiksi di platform digital. Bahkan percakapan panjang di ruang digital pada dasarnya juga merupakan praktik berbahasa dan menuangkan gagasan.
Bentuknya berubah, medianya berubah, tetapi kebutuhan untuk bercerita tetap ada.
Sastra tidak mati, ia pindah ruang
Perkembangan teknologi digital telah membuka ruang baru bagi sastra Indonesia.
Cerita tidak lagi harus menunggu diterbitkan menjadi buku. Cerpen dapat dipublikasikan melalui media digital. Novel dapat ditulis secara berseri. Puisi dapat dibagikan melalui media sosial. Komunitas penulis dapat terbentuk tanpa harus berada di kota yang sama.
Berbagai platform cerita digital bahkan telah digunakan sebagai bagian dari pembelajaran menulis cerpen. Penelitian mengenai Wattpad, misalnya, menunjukkan adanya peluang penggunaan platform cerita digital untuk mendukung kreativitas menulis dan literasi digital siswa.
Ini perubahan penting.
Dulu seorang anak yang ingin menjadi penulis mungkin harus mencari majalah, mengikuti lomba, mengirim naskah, atau menunggu penerbit membuka kesempatan.
Sekarang pintunya jauh lebih banyak.
Seorang remaja di daerah bisa menulis cerita dari telepon genggamnya dan membagikannya kepada pembaca di berbagai tempat. Ia tidak harus menunggu menjadi “penulis” terlebih dahulu untuk mulai menulis.
Menulis bisa dimulai sebelum seseorang memiliki status sebagai penulis.
Di sinilah sastra digital menemukan kekuatannya.
Tema berubah mengikuti kehidupan pembacanya
Tema tulisan anak muda juga berubah.
Cerita tentang pencarian jati diri, hubungan pertemanan, keluarga, kecemasan menghadapi masa depan, kehidupan sekolah, percintaan, kesepian, kehidupan perkotaan, hingga self-healing menjadi bagian dari percakapan generasi muda.
Istilah healing sendiri telah begitu masuk dalam percakapan anak muda sampai menjadi objek kajian pendidikan. Sebuah penelitian terhadap siswa SMA pada 2024, misalnya, membahas pemahaman siswa mengenai self-healing dan bagaimana konsep tersebut dipahami dalam kehidupan mereka.
Karena itu tidak mengherankan jika tema-tema tersebut masuk ke dalam karya kreatif mereka.
Sastra pada dasarnya selalu berhubungan dengan zamannya.
Pada masa lalu, pengarang banyak berbicara tentang kolonialisme, revolusi, kemiskinan, perubahan sosial, dan pergulatan ideologi. Generasi berikutnya membawa persoalan urbanisasi, keluarga, identitas, dan modernitas.
Generasi hari ini mempunyai kegelisahannya sendiri.
Mereka hidup dalam dunia yang penuh notifikasi, perbandingan sosial, tuntutan prestasi, tekanan ekonomi, pencarian identitas, dan hubungan sosial yang semakin kompleks.
Maka wajar jika semua itu masuk ke dalam cerita.
Cerpen hari ini tidak harus berbicara tentang dunia yang sama dengan cerpen 30 tahun lalu.
Yang penting bukan apakah temanya “serius” atau “populer”, tetapi apakah cerita itu mampu menyentuh pengalaman manusia secara jujur dan bermakna.
Tantangannya bukan membuat anak muda menulis, tetapi membuat mereka menulis lebih baik
Di sinilah dunia pendidikan perlu mengambil posisi.
Jangan sampai sekolah hanya mengatakan kepada siswa, “Kamu harus banyak membaca dan menulis.”
Kalimat itu benar, tetapi belum cukup.
Anak perlu diberi alasan untuk menulis.
Mereka perlu mengalami bahwa tulisan mereka dibaca.
Mereka perlu mendapatkan tanggapan.
Mereka perlu mengetahui bahwa pengalaman sehari-hari mereka bisa menjadi bahan cerita.
Seorang anak yang tinggal di desa, misalnya, memiliki dunia yang sangat kaya untuk ditulis: sungai, pasar, kebun, permainan masa kecil, tradisi keluarga, bahasa daerah, hubungan dengan tetangga, hingga perubahan kampung akibat pembangunan.
Tetapi semua itu bisa hilang jika sekolah hanya meminta mereka menulis dengan tema yang terlalu jauh dari kehidupannya.
Karena itu pembelajaran menulis seharusnya bergerak dari “menulis karena tugas” menjadi “menulis karena memiliki sesuatu untuk diceritakan.”
Peran guru kemudian bukan sekadar memeriksa tanda baca dan jumlah paragraf.
Guru perlu menjadi pembimbing yang membantu anak menemukan ide, membangun karakter, menyusun konflik, memperkuat sudut pandang, memilih kata, dan melakukan revisi.
Dengan kata lain, anak tidak hanya perlu diajari bagaimana menulis, tetapi juga bagaimana menemukan sesuatu yang layak ditulis.
Digital bukan musuh menulis
Kita juga perlu berhenti melihat teknologi digital semata-mata sebagai musuh literasi.
Telepon genggam memang dapat membuat anak kecanduan konten pendek. Tetapi perangkat yang sama juga dapat menjadi mesin produksi tulisan.
Masalahnya bukan pada telepon genggamnya.
Masalahnya adalah apa yang dilakukan anak dengan perangkat tersebut.
Jika hanya digunakan untuk menggulir konten, anak menjadi konsumen.
Jika digunakan untuk membaca dan menulis, anak dapat menjadi produsen gagasan.
Karena itu, sekolah dan keluarga seharusnya tidak hanya mengajarkan pembatasan penggunaan gawai. Mereka juga perlu mengajarkan pemanfaatannya.
Misalnya, siswa dapat diminta membuat cerita pendek digital, jurnal refleksi, blog kelas, majalah sekolah daring, cerita bersambung, atau dokumentasi kisah masyarakat di sekitar mereka.
Dengan cara seperti itu, teknologi yang selama ini dianggap mengganggu literasi justru dapat menjadi pintu masuk menuju literasi baru.
Jangan buru-buru mengatakan anak muda tidak suka membaca dan menulis
Yang perlu kita khawatirkan bukan semata-mata apakah anak muda masih menulis cerpen atau tidak.
Yang lebih penting adalah apakah mereka masih mampu menyusun gagasan, memahami pengalaman, mengolah informasi, dan mengungkapkannya dengan bahasa mereka sendiri.
Sebab menulis bukan hanya urusan sastra.
Menulis adalah latihan berpikir.
Orang yang mampu menulis dengan baik biasanya belajar menyusun pikiran dengan lebih teratur. Ia belajar membedakan fakta dan opini, memilih informasi, memahami sudut pandang, serta menjelaskan sesuatu kepada orang lain.
Karena itu, persoalan kemampuan menulis siswa harus tetap dianggap serius.
Tetapi solusinya bukan dengan memaksa anak kembali ke pola menulis masa lalu.
Justru kita perlu masuk ke dunia mereka.
Jika mereka menyukai cerita digital, gunakan cerita digital.
Jika mereka aktif di media sosial, jadikan media sosial sebagai pintu masuk.
Jika mereka suka menulis pengalaman pribadi, mulai dari sana.
Jika mereka tertarik pada cerita tentang self-healing, keluarga, persahabatan, atau kehidupan remaja, biarkan mereka mengolah tema tersebut menjadi karya.
Tugas pendidikan bukan memaksa anak menyukai bentuk tulisan yang kita sukai. Tugas pendidikan adalah membantu mereka menemukan kekuatan dalam menulis.
Pada akhirnya, anak muda mungkin memang tidak lagi menulis dengan cara generasi sebelumnya.
Tetapi itu bukan berarti mereka berhenti bercerita.
Mereka hanya menemukan ruang baru untuk melakukannya.
Dan barangkali, tantangan terbesar kita sekarang bukan membuat mereka kembali memegang pena.
Melainkan memastikan bahwa ketika mereka menulis di layar, yang keluar bukan sekadar kata-kata, tetapi gagasan.**
