PALU – Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Dr Hilal Malarangan mengajak umat Islam untuk meningkatkan kesucian jiwa setelah melaksanakan puasa Ramadhan 1447 Hijriah.

“Kesucian jiwa yang diraih saat Idul Fitri bukanlah hadiah instan, melainkan hasil dari proses “detoksifikasi” ego selama satu bulan penuh,” ucap Dr Hilal Malarangan, di Palu, Sabtu (21/03), saat menjadi Khatib Idulfitri di Masjid Baiturrahman, Kelurahan Lere, Kota Palu.

Dalam khutbahnya, Dr Hilal menyampaikan tentang “Ramadhan Mensucikan Jiwa”.

“Jangan sampai baju kita baru, tapi jiwa kita masih memakai ‘pakaian lama’ yang penuh dengan penyakit hati seperti sombong dan dengki. Idul Fitri harus menjadi momentum untuk menanggalkan itu semua,” tegasnya.

Kata Dr Hilal, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, telah mewajibkan kepada kita berbagai ritualitas ibadah. Dan setiap tahun Allah mengirimkan kita Bulan Suci Ramadhan.

Kata dia, bengkel Ramadhan datang untuk memperbaiki mesin hati kita, mencuci karburator otak kotor kita, mendinginkan radiator emosi jiwa, mengganti busi syahwat yang tahan panasnya godaan, membersihkan dan menghaluskan bunyi knalpot mulut kita hingga tak menimbulkan polusi ghibah, namimah bin adu domba dan fitnah, ujaran kebencian dan ujaran kecemburuan baik di dunia nyata maupun di media sosial yang merusak kehidupan berbangsa dan bernegara, dan meresahkan kehidupan social.

“Puasa Ramadhan yang telah kita lewati juga membuat rem diri semakin pakem untuk tidak menabrak dan menzalimi hak-hak orang lain. Itulah produk Ramadham karim, la ‘allakum tattaquun, agar kita menjadi insan yang bertaqwa,” ujar Dr Hilal.

Ia menguraikan, salah satu ciri orang bertaqwa adalah “allazina yu’minuna bilghaib” yaitu mereka yang selalu terhubung kepada yang gaib, khususnya Allah swt.

Orang yang hatinya selalu terhubung kepada Allah akan mendapatkan gelar ulul albab, yaitu orang yang cerdas.

“Orang yang cerdas menurut Allah bukan orang yang bergelar akademik S1, S2, S3 ataupun professor. Tetapi orang cerdas menurut Allah adalah “Allazina yazkurunallaha qiayaman wa qu’udan wa ‘ala junubhim,” ujarnya.

“Mari jadi pemenang dengan menghilangkan dendam, iri dan dengki. Mari saling mengulur dan menjabat salam sebagai tanda kita telah kembali sebagai insan yang fitri,” imbuhnya. ***