Berpakaian seragam sekolah dibalut pakaian adat sampolu dan siga, para siswa secara telaten memberikan penjelasan tentang produk yang telah mereka hasilkan kepada tetamu, dalam acara Gelar Karya di SD Inpres 1 Ujuna, belum lama ini.

Ada yang sibuk unjuk tutorial cara menjernihkan air limbah menggunakan serbuk biji kelor, ada pula yang menawarkan produk sabun herbalnya untuk dibeli, dan masih ada banyak lagi.

Semangat dan antusias yang mereka tunjukkan seakan mampu mengalahkan pandemi yang sampai detik ini belum juga dinyatakan berakhir. Inovasi yang telah mereka hasilkan merupakan aplikasi dari pembelajaran berbasis tantangan/Challenge Based Learning (CBL) yang memadukan pembelajaran dengan teknologi, sebuah program atas kerja sama pihak sekolah dengan PT. Trakindo Utama.

Program-program PT. Trakindo sendiri telah menjangkau lebih dari 1.000 guru dan 15.000 siswa dalam pengembangan pembelajaran berbasis proyek, inkuiri, dan literasi sekolah.

Kepala SD Inpres 1 Ujuna, Ona Siwu, kepada MAL, menyatakan kesyukurannya atas dipercayakannya SD Inpres 1 Ujuna sebagai satu-satunya sekolah binaan PT. Trakindo Utama di wilayah Sulawesi Tengah.

“Kami sangat bersyukur anak didik kami bisa tetap berinovasi meskipun berada di situasi sulit seperti masa pandemi ini. Rasa terima kasih juga kami ucapkan kepada pihak PT. Trakindo yang telah memilih sekolah kami mengembangkan program pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi. Tentunya, ini sangat bermanfaat bagi anak didik kita bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk masa depan mereka,” ungkapnya.

Untuk produk itu sendiri, lanjutnya, pihak sekolah telah melakukan beberapa kali uji coba dan masih terus melakukannya hingga mendapat hasil yang sempurna.

Sementara itu, penanggung jawab program CBL, Masna, mengatakan, produk CBL tersebut akan digandakan dalam jumlah banyak agar masyarakat luas turut merasakan manfaatnya.

“Untuk air penjernih limbah, Insya Allah dalam waktu dekat kita akan pergi ke Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, untuk membicarakan pembuatan lebih lanjut yakni Instalasi Penjernihan Air Limbah (IPAL). Sementara untuk sabun herbal dari daun kelor, kita akan berupaya ke balai POM untuk memperoleh sertifikat POM sampai benar-benar dinyatakan layak edar,” imbuhnya. ***