JAKARTA – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) memberikan pelatihan kepada 90 siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk mengenalkan kompetensi teknis, infrastruktur, dan standar operasional industri telekomunikasi.

Program ini bertujuan menjembatani kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA), terutama dalam aspek pemeliharaan infrastruktur, penerapan prosedur operasional, serta keselamatan kerja.

TBIG mencatat telah melatih 2.476 siswa melalui pembelajaran daring dan luring yang tersebar di 16 provinsi di Indonesia.

Dalam pelatihan tersebut, para siswa mendapatkan materi Tower Maintenance, Preventive Maintenance, pengenalan infrastruktur telekomunikasi di lokasi menara (site), serta Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE) atau kualitas, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan.

Materi mencakup pengenalan komponen infrastruktur telekomunikasi, prinsip pemeliharaan untuk menjaga keandalan operasional, serta prosedur keselamatan yang harus diterapkan dalam pekerjaan lapangan.

Selain keterampilan teknis, siswa diperkenalkan pada pentingnya identifikasi bahaya, kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta tanggung jawab terhadap kesehatan kerja dan lingkungan.

Pembekalan tersebut diharapkan membantu siswa memahami bahwa kemampuan teknis harus disertai kedisiplinan, tanggung jawab profesional, dan kesadaran terhadap risiko kerja.

Chief Business Support Officer TBIG, Lie Si An, mengatakan kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri berperan penting dalam menyiapkan generasi muda yang kompeten dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja.

“Industri telekomunikasi membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki pemahaman teknis, tetapi juga mampu menerapkan standar operasional, menjaga keandalan infrastruktur, dan mengutamakan keselamatan dalam bekerja,” ujarnya.

Menurut dia, pelatihan tersebut memberikan gambaran nyata kepada siswa SMK mengenai lingkungan kerja industri telekomunikasi sekaligus kompetensi yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki dunia kerja.

Lie Si An berharap pengalaman belajar tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan, kedisiplinan, dan kesadaran terhadap keselamatan kerja.

Dengan pembelajaran yang semakin selaras dengan kebutuhan industri, lulusan SMK diharapkan memiliki kesiapan lebih baik untuk berkontribusi dalam pengembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari pilar pendidikan dalam tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) TBIG. Melalui program tersebut, perusahaan berupaya menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan industri.

Sinergi antara lembaga pendidikan dan pelaku industri dinilai penting untuk memperkuat pendidikan vokasi agar mampu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan tenaga kerja.

Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dasar di sekolah, tetapi juga memahami standar kompetensi, tanggung jawab profesional, dan budaya keselamatan yang dibutuhkan di lingkungan kerja industri telekomunikasi.