PENGGUNAAN kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan pelajar semakin lazim, termasuk di Indonesia. Teknologi ini dimanfaatkan untuk mencari informasi, merangkum bacaan, hingga menyelesaikan tugas sekolah. Namun, di tengah kemudahan tersebut, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menghadirkan pertanyaan penting: apakah AI benar-benar membantu anak belajar atau justru membuat mereka semakin bergantung pada mesin untuk berpikir?
Data PISA menunjukkan 53% siswa Indonesia berusia 15 tahun menggunakan chatbot AI untuk belajar setiap pekan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata 91 negara yang diteliti, yakni 46%. Penggunaan AI untuk merangkum bacaan, menyusun draf tulisan, dan melakukan penelitian awal juga relatif tinggi. Artinya, teknologi ini sudah menjadi bagian dari kebiasaan belajar siswa, sementara kemampuan dasar yang seharusnya menopang proses tersebut masih menjadi persoalan.
Hasil PISA 2025 menunjukkan kemampuan membaca dan sains siswa Indonesia mengalami peningkatan, sedangkan matematika sedikit menurun. Meski demikian, capaian tersebut belum cukup untuk memenuhi target pendidikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025–2045. Direktur Barisan Pengkaji Pendidikan (Bajik), Dhitta Puti Sarasvati, menilai masih terdapat kesenjangan sekitar 100 poin antara capaian Indonesia dan sasaran yang ditetapkan untuk mendukung visi Indonesia Emas.
Persoalan yang lebih mendasar terlihat dari proporsi siswa yang belum mencapai level 2, yakni tingkat kompetensi minimum dalam kerangka PISA. Sebanyak 73% siswa Indonesia berada di bawah level tersebut dalam membaca, 83% dalam matematika, dan 63% dalam sains. Tidak ada siswa Indonesia yang mencapai level tertinggi, yakni level 5 dan 6. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak siswa belum mampu menerapkan pengetahuan secara konsisten untuk menyelesaikan persoalan yang membutuhkan penalaran mandiri.
Dalam kemampuan membaca, misalnya, sebagian siswa masih mampu menemukan informasi yang tertulis secara langsung dalam bacaan, tetapi kesulitan memahami makna tersirat, membandingkan informasi, atau menilai suatu pernyataan secara kritis. Peneliti Pusat Riset Penggerak Indonesia Cerdas (PRPIC), Arkhadi Pustaka, mengingatkan bahwa sekitar tujuh dari sepuluh anak masih kesulitan membedakan fakta dan opini. Keterbatasan ini menjadi penting ketika siswa berhadapan dengan AI yang dapat menghasilkan jawaban meyakinkan, tetapi belum tentu benar.
Peneliti Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), Anindito Aditomo, mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa pendampingan dapat menghambat proses belajar. Ketika siswa menyerahkan tugas kepada chatbot dan langsung menerima jawabannya, mereka kehilangan kesempatan untuk berlatih menyusun argumen, menguji pemahaman, dan menemukan solusi sendiri. Siswa mungkin merasa telah memahami materi karena mendapatkan jawaban dengan cepat, padahal proses berpikir yang seharusnya membangun pemahaman justru tidak berlangsung secara memadai.
Kekhawatiran tersebut bukan berarti AI harus sepenuhnya dijauhkan dari pendidikan. Pengaruhnya terhadap hasil belajar bergantung pada tujuan dan cara penggunaan. Data PISA memperlihatkan bahwa siswa yang menggunakan AI untuk tugas tertentu, seperti merangkum teks, menyusun tulisan, atau melakukan penelitian awal, memiliki skor rata-rata sekitar 20 poin lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak menggunakannya untuk keperluan tersebut. Sebaliknya, penggunaan AI untuk tujuan umum secara terukur, disertai kesempatan mengembangkan literasi AI di sekolah, berkaitan dengan skor sains yang sedikit lebih tinggi. Hubungan ini tidak serta-merta membuktikan bahwa AI menjadi penyebab langsung perbedaan prestasi.
Perbandingan dengan Korea Selatan dan Singapura juga memperlihatkan bahwa tingginya penggunaan AI tidak otomatis berarti kemampuan belajar siswa ikut meningkat. Kedua negara tersebut memiliki proporsi siswa dengan kompetensi membaca, matematika, dan sains yang jauh lebih baik. Perbedaannya terletak pada fondasi keterampilan yang dimiliki siswa. Teknologi dapat membantu mempercepat proses belajar, tetapi manfaatnya lebih mungkin dirasakan ketika penggunanya sudah mampu memahami informasi, mengevaluasi bukti, dan mempertanyakan jawaban yang diterima.
Karena itu, rencana memasukkan coding dan AI dalam pembelajaran di sekolah dasar dan menengah perlu disertai pertimbangan mengenai kesiapan siswa dan guru. Pemerintah telah menerapkan mata pelajaran coding dan AI di tingkat SD mulai tahun ajaran 2025/2026, dengan pelaksanaan yang menyesuaikan kesiapan sekolah. Tantangannya bukan sekadar memastikan siswa mengenal teknologi sejak dini, melainkan mencegah penggunaannya berubah menjadi jalan pintas untuk mengerjakan tugas. Penguatan literasi membaca, matematika, sains, serta kemampuan bernalar perlu berjalan seiring dengan pengenalan teknologi.
Perbaikan tersebut juga tidak dapat dibebankan kepada siswa semata. Hasil PISA mencerminkan pengalaman belajar yang terbentuk selama bertahun-tahun, sehingga peningkatan mutu pendidikan membutuhkan guru yang kompeten, dukungan kesejahteraan, pembelajaran yang berkualitas, dan asesmen yang mendorong pemahaman. Guru perlu memiliki kemampuan untuk mengarahkan siswa menggunakan AI sebagai teman berdiskusi, alat menguji gagasan, atau sarana membuat latihan soal, bukan sebagai pengganti kegiatan membaca dan berpikir. Sekolah juga perlu menyediakan aturan yang jelas agar penggunaan AI sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Hasil PISA 2025 pada akhirnya mengingatkan bahwa persoalan pendidikan Indonesia bukan semata-mata ketertinggalan dalam penguasaan teknologi, melainkan belum kokohnya kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk menggunakannya secara kritis. Rasa ingin tahu dan ketekunan yang dimiliki banyak siswa merupakan modal penting, tetapi keduanya harus ditopang kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan menyusun kesimpulan berdasarkan bukti. AI semestinya memperluas kemampuan tersebut, bukan mengambil alih prosesnya. Sebelum mengejar kecanggihan teknologi, pendidikan Indonesia perlu memastikan bahwa anak-anak memiliki bekal untuk memahami dunia dengan pikirannya sendiri.**
