Ada kebiasaan yang bertahan lama di sejumlah lingkungan pendidikan: mereka yang datang lebih dahulu merasa memiliki kedudukan lebih tinggi daripada mereka yang datang kemudian. Perbedaan angkatan perlahan berubah menjadi hierarki. Yang lebih tua merasa berhak mengatur, sementara yang lebih muda dituntut untuk patuh. Tidak jarang, pola ini dipertahankan atas nama tradisi, pembentukan mental, solidaritas, bahkan penghormatan.
Persoalannya, sejak kapan lebih dahulu masuk sekolah membuat seseorang memiliki kuasa atas orang lain?
Sekolah semestinya menjadi tempat anak-anak belajar tentang kehidupan bersama, bukan ruang tempat mereka mengulang struktur kekuasaan yang tidak adil. Di sana, mereka belajar menghormati orang lain, tetapi juga memahami bahwa penghormatan tidak sama dengan ketundukan. Mereka belajar disiplin, tetapi bukan melalui ketakutan. Mereka belajar menjadi dewasa, bukan dengan meniru perilaku orang yang pernah menindas mereka.
Karena itu, sekolah perlu berani membangun budaya tanpa senioritas.
Menghapus senioritas bukan menghapus adab. Pembedaan ini penting, terutama dalam masyarakat yang menempatkan penghormatan kepada orang yang lebih tua sebagai nilai moral. Menghormati guru, orang tua, dan orang yang lebih berpengalaman merupakan bagian dari pendidikan karakter. Namun, penghormatan tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran untuk mempermalukan, memerintah secara sewenang-wenang, atau memberikan hukuman kepada orang lain.
Adab tidak memberikan hak untuk menindas. Sebaliknya, adab seharusnya membatasi seseorang agar tidak menggunakan kedudukan, usia, atau pengalamannya untuk merendahkan orang lain.
Di sekolah tanpa senioritas, siswa kelas atas tetap dapat menjadi teladan bagi adik kelasnya. Mereka bisa membantu pelajaran, mengenalkan lingkungan sekolah, mendampingi kegiatan, dan berbagi pengalaman. Namun, mereka tidak memiliki kewenangan menghukum atau menuntut kepatuhan hanya karena perbedaan angkatan. Kewenangan dan tanggung jawab harus dibedakan dari privilese.
Perubahan ini tidak cukup dilakukan melalui slogan. Sekolah perlu menata sistem yang memungkinkan budaya tersebut tumbuh. Masa pengenalan lingkungan sekolah, misalnya, harus menjadi kesempatan untuk membangun persahabatan dan rasa aman, bukan arena untuk menguji kepatuhan siswa baru. Tata tertib harus berlaku setara. Pelanggaran ditangani oleh guru atau pihak yang memang memiliki kewenangan, bukan diserahkan kepada kelompok siswa yang merasa lebih senior.
Yang tidak kalah penting ialah memastikan siswa memiliki ruang untuk menyampaikan keberatan. Seorang siswa yang menolak perintah senior yang tidak pantas tidak boleh otomatis dicap tidak sopan. Keberanian menyampaikan pendapat secara santun justru perlu menjadi bagian dari pendidikan. Anak perlu memahami bahwa menghormati orang lain tidak berarti kehilangan hak untuk menjaga martabat dirinya sendiri.
Tentu saja, sekolah tanpa senioritas bukan sekolah tanpa kepemimpinan. Organisasi siswa tetap membutuhkan ketua, pengurus, pembagian tugas, dan aturan. Namun, kepemimpinan harus lahir dari mandat, tanggung jawab, serta kemampuan memberi teladan, bukan semata-mata dari usia atau lamanya seseorang berada di lingkungan sekolah. Jabatan pun tidak boleh menjadi alat untuk memperlakukan orang lain sesuka hati.
Di sinilah guru memegang peranan penting. Jika guru membiarkan intimidasi karena menganggapnya sebagai tradisi, sekolah sedang mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang disampaikan di ruang kelas. Sebaliknya, ketika guru menegakkan aturan secara adil dan melindungi siswa yang rentan, mereka memperlihatkan bahwa kekuasaan harus dibatasi oleh tanggung jawab.
Membangun sekolah tanpa senioritas juga berarti memutus siklus pewarisan kekerasan. Seseorang yang dahulu diperlakukan semena-mena tidak seharusnya memperoleh kesempatan untuk melakukan hal yang sama kepada angkatan berikutnya. Pengalaman menjadi junior semestinya menumbuhkan empati, bukan keinginan untuk membalas ketika kelak menjadi senior.
Ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah seberapa patuh siswa junior kepada seniornya, melainkan seberapa mampu setiap anak hidup bersama orang lain tanpa merampas hak dan martabat mereka. Sekolah tidak perlu melahirkan generasi yang takut kepada orang yang lebih berkuasa. Sekolah perlu mendidik generasi yang memahami batas kewenangan, berani membela yang benar, dan mampu menghormati orang lain tanpa kehilangan harga dirinya.
Barangkali, salah satu warisan terbaik yang dapat diberikan sekolah kepada murid-muridnya adalah pengalaman hidup dalam lingkungan yang tidak mengukur nilai seseorang berdasarkan angkatan. Di tempat seperti itu, siswa yang lebih tua belajar memimpin tanpa menguasai, sedangkan siswa yang lebih muda belajar menghormati tanpa harus tunduk pada kesewenang-wenangan.
Pada akhirnya, sekolah tanpa senioritas bukanlah upaya menghilangkan perbedaan usia atau pengalaman. Yang hendak dihapus adalah anggapan bahwa perbedaan tersebut melahirkan hak untuk berkuasa atas sesama. Sebab, pendidikan yang benar tidak mengajarkan seseorang menjadi kuat agar dapat menindas mereka yang lebih lemah. Pendidikan mengajarkan bagaimana kekuatan, pengetahuan, dan kedewasaan digunakan untuk menjaga martabat manusia.
