PALU, MAL – Grup musik ADISTA memberikan klarifikasi terkait keputusan mereka menolak tampil dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Palu.

Klarifikasi tersebut disampaikan ADISTA melalui pernyataan yang dibagikan melalui akun Facebook Andang Adista, menyusul munculnya pemberitaan dan komentar warganet yang menimbulkan pro dan kontra terkait keputusan tersebut.

Dalam klarifikasinya, ADISTA menegaskan bahwa mereka tidak mempermasalahkan jika anggaran yang ditawarkan panitia tergolong rendah. Namun, menurut mereka, nominal tersebut setidaknya harus mencukupi kebutuhan tim yang terlibat dalam penampilan.

ADISTA menyebut, undangan tampil pada acara HUT Kota Palu disampaikan salah satu panitia kepada manajer mereka, Achid, pada 25 September sekitar pukul 19.00 WITA.

Menurut ADISTA, pihak panitia langsung menyampaikan anggaran sebesar Rp3 juta tanpa terlebih dahulu menanyakan rate card atau tarif penampilan ADISTA.

“Nominal Rp3.000.000 tapi itu belum bersih. Katanya ada potongan pajak lagi 2 persen jadi fee diterima bersih sebesar Rp2.940.000,” demikian penjelasan ADISTA dalam klarifikasinya.

ADISTA mengatakan, tawaran tersebut tidak langsung mereka tolak. Manajemen terlebih dahulu mengajukan negosiasi agar anggaran dapat dinaikkan.

Namun, menurut ADISTA, panitia telah menetapkan anggaran khusus untuk band lokal Palu sehingga proses negosiasi tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.

“Kami tidak langsung menolak undangan tersebut, manager saya mengajukan permintaan untuk negosiasi biar bisa di-up sedikit,” tulis ADISTA.

ADISTA kemudian membeberkan komposisi tim yang dibawa ketika tampil. Total terdapat 12 orang, terdiri dari lima personel, lima kru yang mendampingi masing-masing personel, satu soundman FOH, serta satu manajer.

Menurut perhitungan ADISTA, biaya untuk lima kru masing-masing sebesar Rp500 ribu atau total Rp2,5 juta. Sementara biaya untuk satu soundman sebesar Rp1 juta. Dengan demikian, biaya untuk kru dan soundman saja mencapai Rp3,5 juta.

“1 Crew kita bayar Rp500.000 x 5 = Rp2.500.000. 1 Soundman Rp1.000.000. Total = Rp3.500.000,” tulis ADISTA.

ADISTA menyebut perhitungan tersebut membuat anggaran Rp3 juta yang ditawarkan panitia belum mencukupi kebutuhan tim. Bahkan, setelah dikurangi pajak, nominal yang diterima disebut hanya Rp2,94 juta.

Kondisi tersebut, menurut ADISTA, membuat anggaran yang ditawarkan belum menyentuh hak lima personel mereka.

“Sudah ada gambaran dari budget yang pihak panitia berikan tidak cukup bahkan minus. Untuk gaji team kita sudah butuh dana sebesar Rp3.500.000, itu sudah minus dari apa yang akan pihak panitia berikan ke ADISTA, bahkan personil ADISTA juga belum dapat hak dari nominal budget yang diberikan,” jelasnya.

ADISTA juga menegaskan bahwa perhitungan tersebut merupakan nominal yang telah disesuaikan karena mereka tampil di kota sendiri. Besaran pembayaran kru tersebut, kata mereka, masih jauh di bawah bayaran yang biasanya diberikan.

Bantah Minta Disamakan dengan Artis Utama

Dalam klarifikasinya, ADISTA juga menanggapi komentar warganet yang menyebut mereka “tidak tahu diri” karena menolak tawaran tampil dengan anggaran tersebut dan dianggap ingin disamakan dengan artis utama.

ADISTA membantah anggapan tersebut. Mereka menegaskan tidak pernah meminta agar tarif penampilan mereka disamakan dengan artis utama yang dihadirkan dalam rangkaian HUT Kota Palu.

“Padahal kami sama sekali tidak pernah minta disamakan dengan yang utama. Tetapi hanya minta dihargai saja,” tegas ADISTA.

Menurut ADISTA, permintaan mereka berkaitan dengan penghargaan terhadap band lokal sekaligus orang-orang yang bekerja di belakang mereka.

ADISTA juga menyampaikan apresiasi kepada panitia atau event organizer HUT Kota Palu yang telah mengundang mereka sebagai salah satu pengisi acara.

Mereka berharap persoalan tersebut tidak dipahami sebagai bentuk penolakan terhadap kegiatan HUT Kota Palu, melainkan sebagai persoalan kesesuaian anggaran dengan kebutuhan tim yang terlibat dalam penampilan.