JAKARTA, MAL – Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara pada 14 September 2026 memunculkan sentimen positif di pasar keuangan Indonesia.
Namun, optimisme tersebut masih tertahan oleh tekanan eksternal berupa tingginya harga minyak dunia dan prospek kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat.
Pasar merespons pergantian Menteri Keuangan dengan pergerakan yang beragam pada perdagangan 14 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun sekitar 2,5 persen sebelum berangsur pulih dan ditutup melemah tipis 0,10 persen ke level 6.534,69.
Di sisi lain, indeks saham unggulan mencatat penguatan. LQ45 naik 1,43 persen dan IDX30 menguat 1,40 persen. Saham-saham perbankan besar juga bergerak positif, dengan BBRI naik 3,98 persen, BBTN 3,40 persen, BBNI 3,20 persen, BBCA 2,77 persen, dan BMRI 1,84 persen.
Peneliti Senior INDEF sekaligus dosen Ilmu Ekonomi IPB, Deniey A. Purwanto, menilai pasar menyambut positif penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan.
“Pasar memberikan sambutan awal yang cukup menjanjikan terhadap pengangkatan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa respons tersebut belum menunjukkan kepercayaan jangka panjang.
“Pola-pola tersebut konsisten dengan munculnya kelegaan awal terhadap figur Menteri Keuangan baru, tetapi belum membuktikan kepercayaan yang permanen. Pasar baru memberikan kredit reputasional, bukan cek kosong,” katanya.
Sentimen positif tersebut dibatasi oleh kondisi eksternal. Harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$107 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) sekitar US$103 per barel. Kenaikan harga energi dinilai meningkatkan risiko inflasi global dan menambah tekanan terhadap biaya produksi.
Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed turut membebani pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Faktor tersebut juga menekan nilai tukar rupiah sehingga membatasi dampak positif pergantian Menteri Keuangan terhadap pasar domestik.
Di tengah kondisi tersebut, Suahasil Nazara yang dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada 14 September 2026 menghadapi tantangan menjaga kredibilitas fiskal pemerintah.
Dalam pernyataannya, Suahasil menegaskan fokus utamanya adalah menjaga kepercayaan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Prioritasnya adalah menjalankan APBN yang kredibel. Jadi saya akan terus menjalankan APBN yang dapat dipercaya, komunikasi publik yang dapat dipercaya, dan juga akan memastikan bahwa apa yang dilakukan oleh APBN adalah mendukung program prioritas pemerintah,” ujar Suahasil.
Ia juga memastikan disiplin fiskal tetap dijaga.
“Defisit APBN akan tetap dijaga di bawah 3 persen sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.
Berdasarkan postur APBN 2026, pendapatan negara semula ditargetkan Rp3.153,6 triliun dengan belanja Rp3.842,7 triliun sehingga defisit mencapai Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dalam outlook terbaru, pendapatan diperkirakan meningkat menjadi Rp3.208,1 triliun dan belanja menjadi Rp3.942,4 triliun, sehingga defisit melebar menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85 persen PDB.
Untuk RAPBN 2027, pemerintah menargetkan pendapatan negara Rp3.426 triliun, belanja Rp4.097,2 triliun, serta defisit Rp671,2 triliun atau 2,40 persen PDB dengan target pertumbuhan ekonomi 6 persen.
Sementara itu, Purbaya Yudhi Sadewa yang menyelesaikan serah terima jabatan pada 15 September 2026 membantah isu adanya konflik internal di Kementerian Keuangan.
“Enggak, enggak ada. Gesekan sih enggak ada, yang jelas, ya, itu hak prerogatif Presiden yang beliau sudah memutuskan,” kata Purbaya.
Ia juga menjelaskan bahwa masa jabatannya memang telah sesuai kesepakatan awal.
“Setahun kan udah cukup. Dulu kan sudah tanda tangan dulu kontraknya setahun, kita ikutin,” ujarnya.
Usai serah terima jabatan, Purbaya mengaku merasa lebih tenang meski sempat sulit tidur menjelang pergantian jabatan.
“Lebih happy, happy. Nanti malam saya bisa tidur tenang gitu. Semalam masih mikir-mikir, jadi agak susah tidur. Tapi saya yakin besok sudah tenang, aman,” katanya.
Hingga Rabu pagi, 16 September 2026, pasar masih mencermati implementasi APBN 2026, pembahasan RAPBN 2027, serta koordinasi kebijakan makrofinansial antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan sebagai faktor yang akan menentukan kredibilitas kebijakan fiskal ke depan.
