Perbincangan tentang mindfulness kembali muncul setelah Maudy Ayunda membahas “Mindfulness in the Age of Bad News”. Ia berbicara tentang bagaimana seseorang menghadapi begitu banyak kabar buruk tanpa membiarkan semuanya mengambil alih pikiran dan kehidupan sehari-hari. Perbincangan itu kemudian berkembang menjadi perdebatan tentang apakah mengambil jarak dari berita merupakan bentuk menjaga kesehatan mental atau justru dapat dibaca sebagai sikap tidak peka terhadap persoalan di sekitar.

Terlepas dari perdebatan tersebut, ada satu hal yang menarik untuk dibawa ke ruang pendidikan: bagaimana manusia belajar mengelola perhatiannya?

Sebelum terlalu jauh, mindfulness perlu dipahami secara sederhana. Mindfulness adalah kemampuan untuk hadir dan sadar terhadap apa yang sedang kita lakukan, pikirkan, dan rasakan pada saat ini, tanpa buru-buru bereaksi. Ketika sedang belajar, misalnya, perhatian diarahkan pada pelajaran yang sedang dihadapi, bukan terus-menerus berpindah kepada notifikasi ponsel, percakapan teman, atau hal lain yang muncul di kepala.

Karena itu, mindfulness bukan sekadar duduk diam, menarik napas, lalu berusaha mengosongkan pikiran. Pikiran manusia memang akan terus bergerak. Yang dilatih adalah kemampuan untuk menyadari ketika perhatian mulai terseret, kemudian membawanya kembali kepada apa yang sedang dikerjakan.

Kemampuan sederhana ini menjadi semakin penting karena anak-anak hari ini tumbuh dalam lingkungan yang tidak pernah berhenti meminta perhatian. Ponsel, video pendek, gim, iklan, media sosial, pesan masuk, sampai berbagai aktivitas sekolah datang hampir bersamaan.

Anak bukan sekadar memiliki banyak hal untuk dipelajari. Ia hidup di tengah begitu banyak hal yang ingin membuatnya berhenti melihat satu hal dan segera berpindah kepada hal lain.

Di titik ini, pendidikan menghadapi persoalan yang sering luput dibicarakan. Sekolah begitu sibuk mengajarkan apa yang harus diketahui anak, tetapi tidak selalu memberi ruang yang cukup untuk mengajarkan bagaimana anak menggunakan perhatiannya.

Padahal belajar pada dasarnya membutuhkan perhatian.

Seorang guru dapat menjelaskan pelajaran dengan sangat baik. Buku dapat ditulis dengan sangat bagus. Kurikulum dapat disusun dengan sangat lengkap. Tetapi semuanya akan kehilangan banyak makna jika perhatian anak terus-menerus berpindah.

Karena itu, mungkin persoalan pendidikan hari ini bukan hanya tentang learning loss, tetapi juga attention loss—hilangnya kemampuan untuk bertahan bersama satu hal cukup lama sehingga seseorang benar-benar memahaminya.

Di sinilah mindfulness menjadi relevan.

Dalam konteks pendidikan, kemampuan tersebut dapat membantu anak mengenali ketika perhatiannya mulai terpecah, menyadari emosinya, kemudian kembali kepada kegiatan yang sedang dikerjakan. Anak yang sedang marah, misalnya, belajar mengenali kemarahannya sebelum langsung bertindak. Anak yang gagal mengerjakan soal belajar mengenali rasa kecewa tanpa buru-buru menyimpulkan, “Saya bodoh.”

Dengan demikian, mindfulness bukan bertujuan membuat anak menjadi selalu tenang. Tujuannya lebih mendasar: membantu anak memiliki jarak antara apa yang terjadi dan bagaimana ia bereaksi terhadapnya.

Namun, sekolah tidak perlu terburu-buru menjadikan mindfulness sebagai mata pelajaran baru.

Yang lebih penting adalah membangun budaya perhatian.

Anak perlu mengalami bahwa ketika guru berbicara, ada kebiasaan untuk mendengarkan. Ketika membaca, ada kesempatan untuk benar-benar membaca tanpa terus-menerus diganggu rangsangan lain. Ketika mengerjakan sesuatu, anak tidak selalu harus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas berikutnya hanya karena dunia digital membuat perpindahan itu terasa menyenangkan.

Bahkan hal sederhana seperti memberi jeda sebelum pelajaran dimulai, mengajak anak menyadari keadaan dirinya, atau memberi kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan merupakan bagian dari pendidikan perhatian.

Tetapi ada satu hal yang tidak kalah penting: mindfulness jangan sampai berubah menjadi cara untuk menyuruh anak menerima keadaan.

Anak yang tertekan karena tugas sekolah yang berlebihan tidak cukup hanya diajarkan menarik napas dan menenangkan diri. Bisa jadi yang perlu diperiksa justru beban tugasnya. Anak yang kehilangan konsentrasi tidak selalu membutuhkan latihan perhatian; mungkin ia kurang tidur, terlalu lama berada di depan layar, sedang menghadapi masalah keluarga, atau tidak menemukan hubungan antara pelajaran dengan kehidupannya.

Begitu pula anak yang menjadi korban perundungan. Tidak tepat jika seluruh persoalan dibebankan kepadanya dengan mengatakan bahwa ia harus lebih tenang dan mampu mengelola emosi. Lingkungan yang membuatnya tertekan juga harus diperbaiki.

Di sinilah pendidikan harus membedakan antara mengelola respons dan menerima ketidakadilan.

Mindfulness yang sehat bukan membuat anak tidak peduli. Justru sebaliknya, ia dapat membantu anak tidak bereaksi secara impulsif. Ia belajar berhenti sejenak, melihat persoalan, memahami perasaannya, kemudian menentukan tindakan.

Anak yang marah tidak harus langsung meledak.

Anak yang gagal tidak harus langsung menyimpulkan dirinya bodoh.

Anak yang melihat berita buruk tidak harus menanggung seluruh beban dunia seorang diri.

Tetapi ia juga tidak perlu diajarkan menjadi orang yang tidak peduli.

Pendidikan yang baik mestinya menghasilkan manusia yang tenang tanpa menjadi pasif, kritis tanpa menjadi mudah marah, dan peduli tanpa kehilangan kendali atas dirinya.

Dalam konteks pendidikan Islam, gagasan tersebut juga memiliki ruang untuk berdialog dengan tradisi muhasabah dan muraqabah. Keduanya tentu tidak identik dengan mindfulness, tetapi sama-sama membuka perhatian manusia kepada keadaan dirinya dan tindakannya. Pendidikan tidak hanya bertanya, “Apa yang kamu ketahui?”, tetapi juga, “Apa yang sedang terjadi dalam dirimu, dan ke mana kesadaran itu membawamu?”

Pertanyaan terakhir ini semakin penting karena anak-anak tumbuh di tengah ekonomi perhatian. Banyak pihak tidak sekadar ingin menjual sesuatu kepada mereka, tetapi ingin mendapatkan waktu, pandangan, kebiasaan, dan respons mereka.

Kalau sekolah tidak mengajarkan anak mengelola perhatian, akan selalu ada pihak lain yang mengajarkannya—dengan kepentingan mereka sendiri.

Karena itu, mungkin pendidikan masa depan tidak cukup hanya berbicara tentang kecerdasan digital, literasi informasi, atau kemampuan menggunakan kecerdasan buatan. Kita juga perlu berbicara tentang literasi perhatian: kemampuan mengetahui kapan harus melihat, kapan harus berhenti melihat, apa yang layak diberi perhatian, dan apa yang sebaiknya dilepaskan.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal memenuhi kepala anak dengan pengetahuan. Pendidikan juga tentang membantu anak menentukan apa yang layak memenuhi pikirannya.

Sebab seseorang yang mengetahui banyak hal tetapi tidak mampu mengendalikan perhatiannya akan mudah menjadi sasaran berbagai hal yang ingin mengendalikannya.

Mungkin di situlah pelajaran penting dari perbincangan tentang mindfulness: bukan bagaimana membuat anak selalu tenang, melainkan bagaimana membuatnya hadir sepenuhnya dalam hidupnya sendiri.