PALU – Syahadat itu hanya berlangsung beberapa menit. Dua kalimat diucapkan, tangan berjabat, dan sebuah keputusan besar dalam hidup telah diambil.

Namun, bagi Jefrry Gunawan, menjadi seorang muslim ternyata tidak sesederhana mengucapkan dua kalimat syahadat.

Ia telah menyatakan diri masuk Islam pada Maret 2013 di Labuan Bajo. Tetapi setelah itu, ia belum tahu bagaimana cara berwudu. Ia belum bisa membaca Iqra. Bahkan, ia belum mengetahui bagaimana melaksanakan salat.

“Masuk Islam, apa? Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Saya bersaksi, selesai. Tidak sampai lima menit,” tuturnya.

Kisah itu disampaikan Jefrry saat mengisi safari dakwah di Masjid Al-Mizan, Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tengah, Jalan Sam Ratulangi, Kota Palu, Kamis.

Kini, Jefrry merupakan Ketua Mualaf Center Indonesia (MCI) Sulawesi Tengah. Pengalaman masa lalunya justru menjadi alasan kuat baginya untuk mendampingi orang-orang yang baru memeluk Islam.

Sebab, menurut dia, seseorang yang mengucapkan syahadat belum tentu langsung memahami bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang muslim.

Dari Tidak Suka Menjadi Seorang Muslim

Jefrry dibesarkan dalam keluarga Katolik di Surabaya. Ketika masih bersekolah, ia bahkan mengaku memiliki pandangan negatif terhadap Islam.

Salah satu hal yang memengaruhi pandangannya ketika itu adalah pemberitaan mengenai kasus Bom Bali.

“Saya termasuk dulunya orang yang tidak suka dengan Islam. Ketika zaman saya sekolah dulu, kebetulan juga ada kasus Bom Bali,” kata Jefrry.

Ketika kemudian bersekolah di Nusa Tenggara Timur, pergaulannya semakin beragam. Ia bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang agama.

Namun, kebencian yang pernah tumbuh terhadap Islam tidak serta-merta hilang. Ia bahkan pernah terlibat perkelahian dan tawuran dengan pelajar madrasah.

Selepas SMA, Jefrry pindah ke Bali pada 2011. Ia bekerja di sebuah biro perjalanan. Di luar pekerjaan, kehidupannya semakin jauh dari nilai agama.

Aktivitas malam, minuman keras, dan berbagai kebiasaan buruk menjadi bagian dari kesehariannya. Pada satu titik, ia bahkan meninggalkan atribut agama yang sebelumnya dikenakannya.

Tetapi kehidupan itu tidak membuatnya menemukan ketenangan.

“Orang bermaksiat itu, Pak, demi Allah capek. Orang bermaksiat itu melelahkan,” ujarnya.

Jefrry kemudian meninggalkan Bali. Ia berpindah ke Lombok dan bekerja sebagai kuli bangunan. Perjalanan hidupnya kemudian membawanya ke Labuan Bajo.

Di tempat itulah, pada Maret 2013, ia mengambil keputusan yang mengubah jalan hidupnya.

Ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Syahadat yang Belum Disertai Pengetahuan

Jefrry resmi memeluk Islam. Namun, setelah syahadat, tidak ada proses panjang yang langsung membimbingnya memahami agama barunya.

Ia hanya menerima buku Iqra, sarung, dan uang Rp200 ribu dari pengurus masjid.

Masalahnya, membaca Iqra pun ia belum mampu.

Dari sekitar 25 pekerja di lokasi proyek tempatnya bekerja, hanya dua orang yang bisa membaca Iqra.

Maka, syahadat itu belum serta-merta mengubah kehidupannya.

Ia masih mengonsumsi minuman keras hingga akhir 2013.

Di sinilah pengalaman Jefrry memperlihatkan sisi lain dari perjalanan seorang mualaf. Masuk Islam adalah sebuah keputusan, tetapi belajar menjadi muslim merupakan perjalanan yang membutuhkan waktu, pengetahuan, lingkungan, dan pendampingan.

Jefrry belum memiliki semua itu.

Ketika Tubuh Memaksanya Berhenti

Titik balik datang pada 1 Januari 2014.

Setelah mengonsumsi minuman keras dari malam hingga pagi, Jefrry jatuh sakit dan tidak sadarkan diri. Ia kemudian dirujuk ke Surabaya dan menjalani perawatan di Rumah Sakit RKZ, rumah sakit Katolik tempat keluarganya membawanya berobat.

Tiga hari kemudian, ia tersadar.

Ibunya berada di samping tempat tidurnya.

Menurut Jefrry, sang ibu mengatakan bahwa dirinya justru semakin rusak setelah memeluk Islam.

Ucapan itu membuatnya menangis.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar meminta pertolongan Allah.

“Ya Allah, saya mau bertobat,” ucapnya dalam doa kala itu.

Selama enam bulan menjalani pemulihan, Jefrry mengaku belum mampu melaksanakan salat. Bukan karena tidak mau, tetapi karena ia tidak mengetahui tata caranya.

Wudu pun belum ia pahami. Tayamum juga tidak diketahuinya.

Yang ia lakukan saat itu hanyalah berdoa.

Namun, doanya bukan semata-mata meminta kesembuhan.

“Saya cuma minta Allah bantu saya supaya saya bisa berhenti minum, saya bisa berhenti obat-obatan, saya bisa berhenti merokok,” katanya.

Pada Oktober 2014, setelah menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan, Jefrry mengatakan kondisinya mulai membaik.

Perjalanan hidupnya kembali bergerak.

Belajar Islam dari Dasar

Jefrry kemudian tiba di Kabupaten Tolitoli. Di daerah itu, ia bertemu Ustaz Ahmad Sodir, pimpinan Hidayatullah Tolitoli.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan keislamannya.

Jika sebelumnya ia hanya memiliki identitas sebagai seorang muslim, di Tolitoli ia mulai belajar bagaimana menjalani Islam.

Ia belajar dari dasar.

Mulai dari berwudu, salat, membaca Iqra hingga membaca Al-Qur’an.

Pada 2017, ia kembali mengucapkan syahadat di hadapan Ustaz Ahmad Sodir. Kali ini, syahadat itu hadir bersama proses pembelajaran yang lebih intensif.

“Intinya saya belajar Islam di Tolitoli. Dari baca Iqra, alhamdulillah hari ini bisa baca Al-Qur’an,” ujarnya.

Bagi Jefrry, pengalaman itu memberi pemahaman penting: seseorang yang baru bersyahadat tidak selesai ketika keluar dari masjid.

Justru setelah syahadat, perjalanan sebenarnya dimulai.

Dari Mualaf Menjadi Pendamping Mualaf

Jefrry kemudian menikah di Kota Palu pada 18 Agustus 2018 dan menetap di daerah tersebut.

Setelah bencana alam yang melanda Sulawesi Tengah pada 2018, ia mendirikan Yayasan Mualaf Center Sulawesi Tengah pada April 2019.

Lembaga itu kemudian menjadi ruang bagi Jefrry untuk mengembalikan pengalaman pribadinya menjadi pelayanan kepada sesama mualaf.

MCI Sulteng membuka kelas mengaji bagi orang dewasa, termasuk ibu-ibu dan mereka yang baru memeluk Islam.

Di Petobo, terdapat pula Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Al-Hidayah untuk anak-anak sekitar.

Kegiatan pembelajaran tersebut diberikan secara gratis.

Jefrry juga menjalankan sejumlah kegiatan sosial dan keagamaan, antara lain advokasi mualaf, pembagian Al-Qur’an, serta layanan penghapusan tato secara gratis.

Namun, bagi Jefrry, inti dari seluruh kegiatan tersebut bukan sekadar membantu seseorang pada hari pertama ketika mengucapkan syahadat.

Ada kehidupan panjang yang harus dijalani setelahnya.

“Kalau masuk Islam hanya selesai syahadat, pertanyaannya, setelah itu bagaimana?” ujarnya.

Tidak Berhenti di Dua Kalimat

Pertanyaan itu barangkali menjadi inti dari perjalanan Jefrry.

Ia pernah berada pada posisi seseorang yang mengucapkan syahadat tetapi tidak mengetahui bagaimana harus salat. Ia pernah memegang buku Iqra tanpa mampu membacanya. Ia pernah menjadi seorang muslim yang masih bergulat dengan kebiasaan lama.

Karena itu, ketika kini mendampingi para mualaf, ia tidak hanya melihat mereka sebagai orang yang membutuhkan bantuan pada saat masuk Islam.

Mereka membutuhkan teman belajar.

Mereka membutuhkan orang yang mengajarkan cara bersuci, salat dan membaca Al-Qur’an. Mereka juga membutuhkan lingkungan yang membantu mereka bertahan ketika kebiasaan lama, keluarga, lingkungan sosial, atau berbagai persoalan kehidupan kembali menguji keputusan yang telah mereka ambil.

Pengalaman Jefrry menunjukkan bahwa syahadat bukan garis akhir.

Ia adalah pintu masuk.

Dan setelah pintu itu terbuka, ada jalan panjang yang harus ditempuh.

Jalan itu membutuhkan ilmu, kesabaran, pendampingan dan lingkungan yang membuat seorang mualaf merasa bahwa keputusan memeluk Islam bukanlah keputusan yang harus dijalani sendirian.

“Yang kita lakukan bukan hanya mengajak orang bersyahadat, tetapi bagaimana setelah itu mereka bisa belajar dan memahami Islam,” katanya.