PALU, MAL – Bantuan kemanusiaan Universitas Tadulako (Untad) untuk korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak berhenti pada penyaluran donasi. Bantuan sebesar Rp50 juta melalui program Untad Peduli tersebut didistribusikan hingga ke rumah-rumah warga terdampak di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai.
Donasi yang dihimpun dari keluarga besar Untad itu disalurkan melalui Universitas Nusa Cendana (Undana), Kamis (20/8), untuk kemudian diteruskan kepada masyarakat yang terdampak bencana.
Distribusi bantuan mencakup Kecamatan Langke Rembong, Kecamatan Cibal Timur, dan Kecamatan Wae Ri’i. Penyaluran melibatkan mahasiswa pencinta alam (Mapala) Undana serta mahasiswa KKN Tematik yang tergabung dalam tim relawan tanggap bencana gempa bumi Flores.
Di Kecamatan Wae Ri’i, salah satu lokasi penyaluran berada di Desa Wae Mulu. Mahasiswa KKN Tematik Undana menyerahkan bantuan secara simbolis kepada Pemerintah Desa Wae Mulu, disaksikan Ketua Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Welong.
Bantuan kemudian disalurkan langsung kepada warga terdampak dengan memprioritaskan kelompok rentan.
Kelompok tersebut meliputi bayi dan balita, ibu hamil, penyandang disabilitas, lanjut usia, serta warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat akibat gempa.
Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, mahasiswa KKN Tematik Undana bersama OMK Stasi Welong melakukan pendataan, pemilahan, dan distribusi bantuan secara langsung dari rumah ke rumah.
Proses distribusi juga mendapat dukungan masyarakat setempat yang menyediakan kendaraan untuk mengangkut bantuan menuju tiga dusun terdampak.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mempercepat penyaluran bantuan, terutama ke wilayah yang sulit dijangkau.
Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, ST., MT., IPU., ASEAN Eng., mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas keluarga besar Untad terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
“Duka masyarakat NTT adalah duka kita bersama. Bantuan donasi ini merupakan wujud nyata kepedulian dan kegotongroyongan dari seluruh keluarga besar Untad, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa,” ujar Prof. Amar.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan kemanusiaan.
“Kali ini kami kembali hadir untuk NTT. Kami berharap bantuan ini dapat membantu dan meringankan beban masyarakat serta mendukung proses pemulihan pascabencana,” katanya.
Program Untad Peduli sebelumnya juga telah menjadi bagian dari aksi kemanusiaan Untad dalam membantu masyarakat terdampak bencana di sejumlah daerah, termasuk korban bencana di Sumatera dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng).*
