CHICAGO, MAL – Sebanyak 13 orang dilaporkan meninggal akibat dampak panas ekstrem di Cook County, wilayah metropolitan Chicago, Amerika Serikat, saat gelombang panas melanda kawasan tersebut pada awal September 2026.
Otoritas cuaca setempat masih memberlakukan Heat Advisory hingga Rabu (2/9/2026) malam karena suhu terasa diperkirakan mencapai 100 hingga 110 derajat Fahrenheit atau sekitar 37,8 hingga 43,3 derajat Celsius.
Peringatan panas dikeluarkan National Weather Service (NWS) Chicago dan Chicago Office of Emergency Management and Communications (OEMC) untuk wilayah Chicago dan sekitarnya, termasuk sejumlah kabupaten di Illinois dan Indiana.
Kondisi tersebut dipicu kombinasi suhu tinggi dan kelembapan yang membuat risiko gangguan kesehatan meningkat, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, serta warga yang tidak memiliki akses pendingin ruangan.
Data terbaru menunjukkan suhu udara aktual di Chicago berada di kisaran 90 derajat Fahrenheit atau sekitar 32 derajat Celsius. Namun, kelembapan yang sangat tinggi membuat suhu terasa meningkat hingga 100-110 derajat Fahrenheit. Di beberapa lokasi seperti Dixon, Joliet, dan Kankakee, suhu terasa dilaporkan mendekati 110 derajat Fahrenheit.
Cook County mencatat 13 kematian terkait panas sepanjang Agustus 2026. Jumlah tersebut menjadikan tahun 2026 sebagai periode dengan angka kematian akibat panas tertinggi dalam satu dekade terakhir, melampaui catatan tahun 2019 dan 2022 yang masing-masing mencatat enam kematian.
Meteorolog National Weather Service Romeoville, Zachary Yack, mengatakan suhu tinggi pekan ini dipengaruhi fenomena heat dome atau kubah panas yang bergerak ke wilayah tersebut.
“Panas pekan ini merupakan hasil dari heat dome yang bergerak ke wilayah ini dan membuat suhu sekitar 10 derajat Fahrenheit di atas rata-rata normal untuk akhir Agustus dan awal September,” ujar Yack.
Ahli iklim dan keberlanjutan perkotaan dari Discovery Partners Institute, University of Illinois Urbana-Champaign, Dr. Ashish Sharma, menyebut gelombang panas kali ini tergolong tidak biasa untuk awal September dan berpotensi membahayakan.
“Gelombang panas ini cukup tidak biasa dan merupakan peristiwa akhir musim yang signifikan serta berpotensi berbahaya. Suhu maksimum normal Chicago pada periode ini sekitar 80 derajat Fahrenheit,” kata Sharma.
Menurut Sharma, tingginya kelembapan menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi panas. Ketika udara mengandung banyak uap air, keringat tidak dapat menguap secara efektif sehingga mekanisme alami tubuh untuk mendinginkan diri menjadi terganggu.
National Weather Service memperingatkan bahwa paparan panas berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi, heat exhaustion, heat stroke, hingga kematian.
Otoritas juga mengimbau warga untuk memperbanyak konsumsi cairan, tetap berada di ruangan berpendingin udara, menghindari paparan sinar matahari langsung, serta memeriksa kondisi anggota keluarga dan tetangga yang rentan.
Gelombang panas ini juga tercatat sebagai awal September terpanas di Chicago dalam 42 tahun terakhir. Suhu di wilayah tersebut mencapai pertengahan 90-an derajat Fahrenheit atau sekitar 35 derajat Celsius, jauh di atas rata-rata normal musim ini.
Hingga Rabu malam waktu setempat, status Heat Advisory masih berlaku untuk seluruh wilayah Chicagoland dengan suhu terasa diperkirakan tetap berada pada kisaran tiga digit Fahrenheit.
