PALU, MAL – Program EMPOWER yang diinisiasi Cargill bersama Save the Children Indonesia dan sejumlah mitra telah sukses mendorong penguatan sektor kakao berkelanjutan di Sulawesi Tengah serta perlindungan anak. Pembelajaran dari implementasi program selama enam tahun ini dibahas dalam lokakarya bertajuk “Membangun Masa Depan Kakao Berkelanjutan: Sinergi Lintas Sektor untuk Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Komunitas di Sulawesi” yang digelar di Hotel Best Western Palu pada Rabu (19/8).

Program EMPOWER secara khusus menyoroti isu yang sering terabaikan dalam rantai pasok kakao, yakni keterlibatan anak dalam pekerjaan informal di sektor pertanian. Ini menjadi fokus utama upaya untuk menciptakan kakao berkelanjutan di wilayah tersebut.

Direktur Yayasan Panorama Alam Lestari (Y.PAL) sekaligus Ketua Panitia, Yopy Hary, menjelaskan bahwa program EMPOWER di Sulawesi Tengah secara khusus berjalan di Kabupaten Poso. Melalui kemitraan dengan Save the Children Indonesia, kegiatan serupa juga dikembangkan di Sigi, Parigi Moutong, Morowali Utara, dan Banggai.

Sejak 2021, program yang didukung Cargill ini diarahkan untuk memperkuat rantai pasok kakao agar terbebas dari pekerja anak, sekaligus membangun sistem perlindungan anak di tingkat masyarakat. Penguatan ini esensial untuk mendukung visi kakao berkelanjutan.

“Pekerja anak lebih banyak ditemukan dalam aktivitas nonformal, termasuk di sektor pertanian dan perkebunan,” kata Yopy Hary.

Oleh karena itu, EMPOWER tidak hanya menyasar petani, tetapi juga memperkuat peran masyarakat desa melalui Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Di Kabupaten Poso, Y.PAL telah membentuk delapan PATBM di wilayah seperti Pamona, Puselenba, Lore Barat, dan Lore Selatan.

Kelompok PATBM ini diharapkan menjadi bagian penting dari sistem perlindungan anak dan mendukung pemerintah daerah dalam mewujudkan Kabupaten Layak Anak. Penguatan perlindungan anak juga didorong untuk masuk ke dalam perencanaan pembangunan desa dan daerah, termasuk melalui regulasi yang melegitimasi keberadaan PATBM sebagai lembaga kemasyarakatan desa.

Selain perlindungan anak, EMPOWER juga berfokus pada keberlanjutan sektor kakao melalui pengembangan kelompok tani muda. Generasi muda didorong untuk kembali melihat kakao sebagai sektor usaha yang menjanjikan, terutama di tengah kecenderungan mereka beralih ke pekerjaan di sektor ekstraktif.

“Poso memiliki sumber daya kakao yang kuat. Karena itu, kami mendorong anak muda untuk memperkuat produksi kakao dan menerapkan praktik pertanian yang baik,” kata Yopy.

Program ini juga mengembangkan literasi keuangan melalui pembentukan kelompok simpan pinjam desa. Di Kabupaten Poso, telah terbentuk sekitar 20 kelompok yang berperan dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat petani kakao.

Humanitarian and Program Operation Director Save the Children Indonesia, Fadli Usman, menegaskan bahwa keberlanjutan sektor kakao tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan hak anak. Perlindungan anak mencakup hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang, memperoleh perlindungan, serta berpartisipasi.

Sektor kakao memiliki posisi penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat Sulawesi. Kakao pernah menjadi salah satu komoditas penopang ekonomi saat terjadi krisis, namun tantangan regenerasi petani perlu diperhatikan karena banyak anak muda memilih sektor lain,” ujar Fadli.

Oleh karena itu, penguatan ekonomi keluarga petani harus berjalan bersamaan dengan perlindungan anak. Anak tidak boleh menjadi bagian dari tenaga kerja dalam rantai produksi kakao, melainkan harus memperoleh kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan menentukan masa depannya.

“Program boleh selesai, tetapi perjuangan untuk melindungi anak belum selesai,” tegas Fadli Usman, mengajak pemerintah, perusahaan, masyarakat, petani, dan organisasi pendamping untuk mempertahankan praktik baik yang telah dibangun.

Program Development Officer PT Cargill Indonesia, Serlina Rantetandung, menyampaikan bahwa Cargill telah terlibat dalam sektor kakao Indonesia selama lebih dari 30 tahun, sejak 1995. Keberlanjutan rantai pasok kakao tidak hanya terkait produksi dan kualitas, tetapi juga kondisi petani, keluarga, perempuan, generasi muda, dan perlindungan anak di wilayah penghasil kakao.

Serlina mengatakan, program EMPOWER menjadi ruang bagi Cargill dan Save the Children untuk memperkuat sistem perlindungan anak di tingkat petani, komunitas, hingga pemerintahan.

“Perjalanan selama enam tahun memberikan banyak pelajaran mengenai bagaimana mendorong sektor kakao yang lebih berkelanjutan sekaligus memperkuat kolaborasi berbagai pihak,” kata Serlina Rantetandung.

Ia mengakui masih banyak tantangan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi. Persoalan petani kakao, perlindungan anak, pemberdayaan perempuan, dan regenerasi petani membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan kelompok petani.

Seiring berakhirnya program EMPOWER pada 2026, Cargill berharap jejaring dan praktik baik yang telah dibangun akan terus berlanjut. Lokakarya ini menjadi ruang untuk mengidentifikasi praktik terbaik yang dapat diterapkan kembali di wilayah lain.