Laporan: Halima Charoline
PALU, MAL — Seragam sekolah bagi sebagian anak mungkin hanyalah pakaian yang dikenakan setiap pagi. Namun bagi RD, siswa SMA Negeri 6 Palu, seragam adalah sesuatu yang harus diperjuangkan—dipakai meski bekas, dijahit ketika robek, dan ditambal ketika tak lagi utuh.
Di rumah tua yang hampir roboh di Jalan Padanjakaya, Kelurahan Pengawu, Kota Palu, Reni Rahmawati (38), ibu dari RD, menyimpan kegelisahan yang lebih besar dari sekadar persoalan pakaian sekolah. Ia sedang dihadapkan pada kemungkinan yang paling tidak ingin dialaminya: melihat anaknya berhenti sekolah.
Mata Reni tampak lembap ketika menceritakan keadaan keluarganya. Sesekali suaranya bergetar, terutama ketika berbicara tentang sekolah RD dan pilihan yang kini terasa semakin sempit.
“Mungkin ini sudah keputusan yang baik. Saya berhentikan saja anak saya sekolah. Daripada banyak menimbulkan masalah di sekolah, biar dia tinggal di rumah nenek saja,” ujar Reni yang ditemui di rumah, dengan suara terisak.
Reni tinggal bersama suami dan dua anaknya di bangunan bekas yang kondisinya memprihatinkan. Rumah itu bukan milik mereka, melainkan dipinjamkan sebagai tempat tinggal.
Bangunan tersebut juga masih menyisakan kerusakan akibat gempa 2018. Dinding di sejumlah bagian terlihat retak dan terbelah. Bagi keluarga yang hidup dengan penghasilan tidak menentu, rumah itu menjadi satu-satunya tempat berlindung, sekaligus sumber kekhawatiran jika gempa kembali terjadi.
Di tengah kondisi itu, suami Reni bekerja sebagai tukang sekop timbunan di Desa Binangga, Kabupaten Sigi. Penghasilannya bergantung pada ada tidaknya pekerjaan.
“Kadang Rp50 ribu, kadang Rp80 ribu, Rp100 ribu. Tapi Rabu pagi tadi cuma dapat Rp25 ribu karena hanya satu mobil yang masuk. Ya, itu harus disyukuri saja, ada yang bisa dibelikan beras,” tutur Reni.
Bagi keluarga Reni, uang sebesar itu harus dibagi untuk banyak kebutuhan. Beras lebih dulu dipikirkan, kebutuhan rumah tangga menyusul, sementara kebutuhan sekolah anak sering kali harus menunggu.
Reni sebenarnya ingin melihat anaknya datang ke sekolah dengan seragam yang layak seperti teman-temannya. Ia ingin RD berdiri di antara siswa lain tanpa harus merasa berbeda hanya karena pakaian yang dikenakannya.
Namun, keinginan sederhana itu tidak mudah diwujudkan.
Seragam yang dipakai RD kini merupakan pakaian bekas. Jahitan dan tambalan terlihat di sejumlah bagian. Masalahnya menjadi semakin sulit karena tubuh RD terus bertambah besar sehingga pakaian yang semula masih bisa dipakai, dalam waktu singkat kembali menjadi sempit atau robek.
“Saya sudah belikan baju bekas. Ukurannya tidak bisa memilih, apa yang bisa masuk di badan dibeli. Namanya badan anak saya besar, satu dua bulan masih pas, bulan berikutnya sudah sempit. Banyak bergerak, sudah robek lagi,” ungkapnya.
Bagi Reni, membeli seragam baru bukan perkara tidak mau. Ia hanya tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk melakukannya.
Persoalan itu kemudian membawanya menemui Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Firmanza. Reni datang untuk menyampaikan kondisi RD sekaligus mencari jalan agar anaknya tetap dapat bersekolah.
Menurut Reni, Firmanza merespons dengan baik dan mengarahkan agar kebutuhan seragam dan sepatu Rendi dapat dibantu melalui bidang SMA.
Namun, ketika sampai di ruangan Kepala Bidang SMA, Reni mengaku kecewa. Menurut dia, bantuan yang diberikan hanya sepatu, sedangkan untuk seragam ia diarahkan menggunakan pakaian bekas.
“Pak Kadis sudah arahkan ke Kabid SMA untuk dapat bantuan itu seragam dan sepatu. Sampai di ruangan Kabid SMA, cuma bantuan sepatu saja yang diberikan. Untuk sementara baju seragam nanti dicarikan baju bekas,” katanya menyampaikan perktataan Kabid SMA.
Reni tidak menolak pakaian bekas. Bahkan, selama ini pakaian bekas memang menjadi pilihan keluarganya. Tetapi persoalan yang ia hadapi bukan sekadar memiliki atau tidak memiliki pakaian.
“Kalau cuma baju bekas, di rumah juga ada. Saya beli dari baju bekas keluarga. Tapi namanya baju bekas gampang sobek dan sempit,” ujarnya.
Di titik itulah persoalan seragam berubah menjadi persoalan harga diri.
Reni mengaku khawatir kondisi yang dialaminya justru membuat dirinya dan RD dipandang berbeda. Terlebih, sebelumnya terjadi persoalan antara dirinya dengan pihak sekolah.
Ia takut persoalan tersebut berimbas kepada anaknya. Kekhawatiran terbesar Reni bukan hanya soal pakaian, melainkan kemungkinan RD menjadi sasaran perundungan atau mendapatkan perlakuan berbeda setelah peristiwa yang terjadi pada Selasa (18/8). Baca berita terkait: Dikonfirmasi Soal Pembelian Seragam, Kepsek SMA 6 Palu Marahi Orang Tua Siswa dan Wartawan
“Sudahlah, daripada bikin pusing dan banyak masalah. Nanti dikira saya datang mengemis untuk dikasih baju seragam baru. Biar berhenti saja sekolah dulu. Saya juga takut anak saya dibully atau mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan pascaperistiwa Selasa kemarin,” kata Reni.
Kalimat itu keluar dari seorang ibu yang sebenarnya tidak ingin anaknya berhenti sekolah.
Di balik keputusan yang terdengar tegas tersebut, ada kelelahan. Ada rasa malu. Ada kekhawatiran. Dan ada perasaan seorang ibu yang merasa tidak berdaya ketika kebutuhan yang bagi orang lain terlihat sederhana, menjadi sesuatu yang begitu sulit dijangkau.
Bagi Reni, pendidikan tetap merupakan harapan bagi masa depan anaknya. Ia tahu sekolah adalah jalan yang harus ditempuh RD untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.
Tetapi kemiskinan sering kali membuat pilihan-pilihan hidup menjadi kejam. Ketika uang yang tersedia hanya cukup untuk membeli beras, seragam sekolah dapat berubah menjadi beban. Ketika seorang ibu merasa harus memilih antara menjaga perasaan anaknya dan mempertahankan sekolahnya, pendidikan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang mudah diakses.
Kadis Pendidikan: Tidak Boleh Ada Perundungan
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Firmanza, memastikan RD tetap memiliki hak untuk bersekolah dan menjamin tidak ada perundungan maupun perlakuan tidak menyenangkan terhadap dirinya setelah persoalan yang terjadi antara orang tua murid dan pihak sekolah.
“Saya yang jamin. Kalau ada pembulian, segera laporkan kepada saya. Saya tidak segan-segan memberikan sanksi,” tegas Firmanza.
Pernyataan itu menjadi jaminan bahwa persoalan antara orang tua dan sekolah tidak semestinya dibebankan kepada anak. RD tetap harus dapat mengikuti proses pendidikan tanpa rasa takut, malu, ataupun perlakuan berbeda.
Namun bagi Reni, jaminan itu harus bertemu dengan kenyataan yang ia hadapi setiap hari.
Ia tidak hanya membutuhkan kepastian bahwa anaknya aman di sekolah. Ia juga membutuhkan jalan keluar agar RD dapat datang ke sekolah dengan pakaian yang layak, tanpa harus merasa rendah diri karena kondisi ekonomi keluarganya. Sebab, bagi seorang anak, seragam bukan hanya kain yang melekat di tubuh. Seragam adalah bagian dari kepercayaan diri ketika memasuki ruang kelas, berdiri di tengah teman-temannya, dan menjalani hari sebagai seorang siswa.
Kini, harapan Reni sebenarnya sederhana. Ia tidak meminta kehidupan mewah. Ia hanya ingin RD tetap sekolah, tetap merasa aman, dan tidak dipandang rendah karena keluarganya hidup dalam keterbatasan.
Ia bahkan rela jika anaknya harus tinggal sementara di rumah nenek, jika itu dianggap sebagai jalan untuk menghindarkan RD dari persoalan di sekolah.
Tetapi di balik keputusan itu, tersimpan tangis seorang ibu yang sesungguhnya tidak ingin kehilangan sekolah untuk anaknya. Seragam yang penuh tambalan mungkin tampak sebagai persoalan kecil bagi sebagian orang. Namun bagi keluarganya, di balik setiap jahitan dan robekan itu ada perjuangan mempertahankan pendidikan seorang anak.
Dan di balik tangis Reni, ada pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah seorang anak harus kehilangan sekolah hanya karena keluarganya tidak mampu membeli seragam baru?
